Curahan Hati Para Hijabers Ketika Burkini Dilarang di Prancis
Arina Yulistara - wolipop
Senin, 22 Agu 2016 13:17 WIB
Jakarta
-
Penerapan burkini atau pakaian renang yang menutup dari kepala sampai kaki biasa dikenakan oleh wanita berhijab ke pantai akhir-akhir ini menjadi perdebatan. Perdebatan terjadi setelah Prancis menetapkan larangan penggunaan burkini di pantai-pantai sekitar Cannes.
Dalam peraturan baru yang telah dibuat mengenai pengenaan burkini di Cannes menyebutkan bahwa siapa pun yang tertangkap memakai burkini di pantai, diancam denda sebesar 38 euro atau sekitar Rp 560 ribuan. Ketetapan tersebut berlaku sejak akhir Juli kemarin. Peraturan dibuat ada kaitannya dengan terorisme yang terjadi di Prancis.
Kondisi ini membuat masyarakat muslim merasa kecewa. Banyak hijabers yang menyayangkan aturan mengenai larangan burkini tersebut. Mereka pun bercerita kalau burkini merupakan solusi terbaik untuk wanita-wanita yang menggunakan jilbab saat ingin berenang.
Seperti curahan hati Siham Karra-Hassan yang mengatakan pernah mengalami kejadian memalukan saat berusia 15 tahun karena tidak menggunakan pakaian untuk renang saat belum ada burkini. Setelah hadir burkini, sebagai seorang muslimah ia merasa sangat senang dan membuatnya lebih bebas dalam melakukan olahraga air.
"Saat itu aku mengenakan kaos katun dan celana panjang, baru masuk ke kolam renang ada petugas datang dan memintaku keluar dari kolam karena aku tidak berpakaian sepantasnya. Itu adalah momen paling memalukan dalam hidupku," cerita Siham seperti dilansir dari News Australia.
Setelah itu, Siham tidak pernah lagi pergi berenang selama kurang lebih dua puluh tahun. Baru setelah burkini hadir, ia berani untuk belajar renang. Bahkan Siham mengaku belajar renang di usia 35 tahun.
"Burkini mengubah hidupu. Itu membuatku berani kembali ke kolam renang. Aku belajar renang di usia 35 tahun makanya aku sedih saat burkini itu dilarang. Pantai adalah ruang publik. Larangan burkini di ruang publik adalah ketidaktahuan," tambahnya.
Di Australia, burkini diluncurkan oleh Aheda Zanetti pada 2004 lalu. Aheda membuat celana panjang hingga atasan dilengkapi jilbab khusus untuk renang. Ide awal penggunaan burkini sebenarnya karena Aheda ingin para wanita muslim memiliki busana yang nyaman saat menonton anaknya bermain netball di pinggir kolam renang.
Maka dari itu, Aheda mencoba merancang busana sendiri. Setelah itu banyak tanggapan positif mengalir dari kerabatnya. Ahmeda pun mulai melakukan produksi massal burkini pertamanya menggunakan material lycra-teflon pada Juni 2004 lalu. Menanggapi peraturan larangan burkini di Prancis serta Jerman, Aheda mengatakan kalau ia merasa khawatir akan wanita muslim yang tinggal di negara tersebut.
Meski demikian, ada keuntungan yang bisa didapatkan Aheda, penjualannya semakin laris di pasaran. Banyak wanita yang memesan burkini untuk mememuhi kebutuhan masing-masing.
Selain itu, komentar lain datang dari Salwa Elrashid, yang jadi takut berpergian ke Eropa karena pelarangan burkini. Ia yang telah menikah tahun lalu sudah mempunyai rencana bulan madu ke Eropa tapi gagal dan beralih ke Dubai serta Abu Dhabi saja.
"Setelah melihat reaksi terhadap wanita dan pengungsi muslim, saya tidak ingin pergi ke sana lagi. Saya merasa seperti saya akan 'dibatasi'," ujar wanita 23 tahun itu.
Elrashid menuturkan kalau hijab masih sering dianggap simbol penindasan oleh sekelompok masyarakat. Padahal sebenarnya tidak, justru dengan adanya berbagai larangan hijab atau burkini, mereka lah yang menindas wanita muslim/
"Mereka pikir wanita muslim tertindas tapi tidak demikian, aku sudah menikah dan punya suami. Tapi aku juga bekerja dan pergi kuliah. Aku pergi keluar dan bersenang-senang. Aku melakukan semua ini memang karena pilihanku bukan seseorang memaksaku," ujar Elrashid.
Wanita asal Australia itu juga menuturkan kalau tanpa burkini ia tidak akan bisa berenang. Ia pun merasa sedih kalau burkini harus dilarang.
"Jika tidak ada burkini maka aku akan mengenakan celanan dan tidak nyaman saat basah. Aku juga tidak dapat pergi ke kolam renang umum tanpa memakai baju renang," pungkasnya.
Aheda menambahkan, burkini telah memberikan banyak wanita muslim tampil percaya diri saat berenang. Wanita berhijab juga bisa berpartisipasi dalam melakukan olahraga air tersebut. Dengan burkini, wanita menjadi lebih aktif sehingga mempengaruhi kehidupan sosialnya.
"Burkini memberikan kekuatan kepada wanita muslim agar lebih bebas bergerak di air. Tapi sekarang mereka ingin melarang itu (burkini)," keluhnya.
(ays/ays)
Dalam peraturan baru yang telah dibuat mengenai pengenaan burkini di Cannes menyebutkan bahwa siapa pun yang tertangkap memakai burkini di pantai, diancam denda sebesar 38 euro atau sekitar Rp 560 ribuan. Ketetapan tersebut berlaku sejak akhir Juli kemarin. Peraturan dibuat ada kaitannya dengan terorisme yang terjadi di Prancis.
Kondisi ini membuat masyarakat muslim merasa kecewa. Banyak hijabers yang menyayangkan aturan mengenai larangan burkini tersebut. Mereka pun bercerita kalau burkini merupakan solusi terbaik untuk wanita-wanita yang menggunakan jilbab saat ingin berenang.
![]() |
Seperti curahan hati Siham Karra-Hassan yang mengatakan pernah mengalami kejadian memalukan saat berusia 15 tahun karena tidak menggunakan pakaian untuk renang saat belum ada burkini. Setelah hadir burkini, sebagai seorang muslimah ia merasa sangat senang dan membuatnya lebih bebas dalam melakukan olahraga air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu, Siham tidak pernah lagi pergi berenang selama kurang lebih dua puluh tahun. Baru setelah burkini hadir, ia berani untuk belajar renang. Bahkan Siham mengaku belajar renang di usia 35 tahun.
"Burkini mengubah hidupu. Itu membuatku berani kembali ke kolam renang. Aku belajar renang di usia 35 tahun makanya aku sedih saat burkini itu dilarang. Pantai adalah ruang publik. Larangan burkini di ruang publik adalah ketidaktahuan," tambahnya.
Di Australia, burkini diluncurkan oleh Aheda Zanetti pada 2004 lalu. Aheda membuat celana panjang hingga atasan dilengkapi jilbab khusus untuk renang. Ide awal penggunaan burkini sebenarnya karena Aheda ingin para wanita muslim memiliki busana yang nyaman saat menonton anaknya bermain netball di pinggir kolam renang.
Maka dari itu, Aheda mencoba merancang busana sendiri. Setelah itu banyak tanggapan positif mengalir dari kerabatnya. Ahmeda pun mulai melakukan produksi massal burkini pertamanya menggunakan material lycra-teflon pada Juni 2004 lalu. Menanggapi peraturan larangan burkini di Prancis serta Jerman, Aheda mengatakan kalau ia merasa khawatir akan wanita muslim yang tinggal di negara tersebut.
Meski demikian, ada keuntungan yang bisa didapatkan Aheda, penjualannya semakin laris di pasaran. Banyak wanita yang memesan burkini untuk mememuhi kebutuhan masing-masing.
Selain itu, komentar lain datang dari Salwa Elrashid, yang jadi takut berpergian ke Eropa karena pelarangan burkini. Ia yang telah menikah tahun lalu sudah mempunyai rencana bulan madu ke Eropa tapi gagal dan beralih ke Dubai serta Abu Dhabi saja.
"Setelah melihat reaksi terhadap wanita dan pengungsi muslim, saya tidak ingin pergi ke sana lagi. Saya merasa seperti saya akan 'dibatasi'," ujar wanita 23 tahun itu.
Elrashid menuturkan kalau hijab masih sering dianggap simbol penindasan oleh sekelompok masyarakat. Padahal sebenarnya tidak, justru dengan adanya berbagai larangan hijab atau burkini, mereka lah yang menindas wanita muslim/
"Mereka pikir wanita muslim tertindas tapi tidak demikian, aku sudah menikah dan punya suami. Tapi aku juga bekerja dan pergi kuliah. Aku pergi keluar dan bersenang-senang. Aku melakukan semua ini memang karena pilihanku bukan seseorang memaksaku," ujar Elrashid.
Wanita asal Australia itu juga menuturkan kalau tanpa burkini ia tidak akan bisa berenang. Ia pun merasa sedih kalau burkini harus dilarang.
"Jika tidak ada burkini maka aku akan mengenakan celanan dan tidak nyaman saat basah. Aku juga tidak dapat pergi ke kolam renang umum tanpa memakai baju renang," pungkasnya.
Aheda menambahkan, burkini telah memberikan banyak wanita muslim tampil percaya diri saat berenang. Wanita berhijab juga bisa berpartisipasi dalam melakukan olahraga air tersebut. Dengan burkini, wanita menjadi lebih aktif sehingga mempengaruhi kehidupan sosialnya.
"Burkini memberikan kekuatan kepada wanita muslim agar lebih bebas bergerak di air. Tapi sekarang mereka ingin melarang itu (burkini)," keluhnya.
(ays/ays)
Elektronik & Gadget
Suara Lebih Jernih dengan MISENI Q8 Mic Kecil Jepit Clip on yang Wajib Dimiliki Content Creator!
Elektronik & Gadget
Review Anker Nano 10.000mAh 45W Powerbank Canggih Beda dari yang Lain!
Perawatan dan Kecantikan
Rambut Auto Fresh Tanpa Keramas dengan Dry Shampoo Andalan dari Batiste yang Praktis Banget!
Perawatan dan Kecantikan
Bibir Auto On Point, Duo Timephoria yang Bikin Tampilan Makin Fresh & Glowing!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Brand Hijab Buttonscarves hingga Benang Jarum Gelar Amal Saat Ramadan
Viral Pria Jahit Sendiri 30 Baju Lebaran, Penampilannya Ziarah Jadi Sorotan
60 Ucapan Selamat Idul Fitri 2026 Islami yang Penuh Doa
Rekomendasi Hijab Pashmina Viscose untuk Lebaran 2026, Harga Mulai Rp 60 Ribu
Baju Lebaran 2026
7 Rekomendasi Setelan Lebaran 2026: Koleksi Baju One Set Ala Gen Z
Most Popular
1
Fakta Ngeri Model yang Dibunuh Eks Kekasih, Kini Kepalanya Hilang dari Peti
2
Lee Hi dan DOK2 Go Public, Persahabatan 10 Tahun Berubah Jadi Kisah Cinta
3
8 Jam Mewah Georgina Rodriguez, Pacar Ronaldo, Setara Rumah Miliaran
4
Rambut Putih Bukan karena Usia, Ini Kisah Wanita dengan Kondisi Genetik Langka
5
5 Rekomendasi Drama China Terbaru 2026 yang Lagi Populer dan Wajib Ditonton
MOST COMMENTED












































