Elidawati Jadi Pengurus Pesantren Meski Telah Sukses Sebagai Pengusaha Hijab
Banyak wanita yang menjadi inspirasi bukan hanya karena sukses dalam karier namun juga sikap kepeduliannya terhadap lingkungan sosial. Wanita kelahiran Pariaman yang besar di Kediri dan Bandung, Elidawati merupakan salah satunya. El --begitu sapaan akrabnya-- berhasil menginspirasi wanita lainnya tak hanya lewat kesuksesannya sebagai pengusaha hijab namun juga aksi sosialnya.
Ya, El merupakan pendiri dari label busana muslim Elzatta yang kini dinaungi oleh Elhijab Group, perusahaan di bidang fashion muslim milik wanita 51 tahun itu. Wanita lulusan Universitas Padjajaran (Unpad) itu telah memiliki lebih dari seribu karyawan. Ia juga mempunyai lebih dari 100 toko hijab bekerjasama dengan mitranya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Meski tengah sampai di puncak kesuksesan, El tak hanya menikmati hasil jerih payahnya saja tapi juga berusaha membangun sesuatu yang bisa berguna untuk masyarakat. Ketika berbincang dengan Wolipop di kota kelahirannya, Pariaman, El bercerita kalau saat ini dirinya sedang sibuk mengurus sebuah pondok pesantren yang bernama 'Subulussalam' di Pariaman, Padang, Sumatera Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pondok pesantren itu berdiri sudah sejak 1991. Waktu itu saya hanya memberikan donasi nah pas bapak saya meninggal, saya bingung ini pondok pesantren siapa yang mengurus. Sebenarnya masih ada dua pendirinya lagi tapi juga sudah sepuh. Lalu saya ngobrol dengan kepala sekolah dan saya coba dengan naikin bayaran ustad yang mengajar di sana 30%," ceritanya kepada Wolipop di Pariaman, Padang, Sumatera Barat, Jumat (13/11/2015).
El mengatakan bingung harus mulai dari mana untuk membangun pondok pesantren agar semakin berkembang. Ia juga tidak pernah punya pengalaman membangun sekolah. Kemudian wanita yang hobi traveling itu berusaha mencari informasi dari berbagai sumber mulai dari ustad-ustad hingga yang ahli di bidangnya.
Pemilik brand hijab yang mensponsori Pariaman Fashion Parade 2015 ini juga mengatakan kalau ia juga mengundang praktisi pendidikan demi terwujudnya pondok pesantren yang berkualitas. "Saya undang praktisi pendidikan dari Bandung ke sini (Pariaman) harus bagaimana mengelola asrama, saya kumpulkan para pendiri, mengajak ustad datang ke beberapa pondok pesantren di Bandung agar kita mengerti bagaimana sih membangun pesantren," tambah El.
Di 2012, El ditunjuk sebagai ketua yayasan pondok pesantren tersebut. Ia lalu merenovasi pondok pesantren agar bangunan bisa lebih layak. El mengatakan modal membangun pondok pesantren dimulai dengan dana pribadi, ada pula bantuan teman-temannya, serta Elhijab Group.
Setelah berhasil menambahkan sarana dan pra sarana, pondok pesantren diakuinya semakin ramai. Bila sebelumnya seluruh murid hanya berisi anak laki-laki dan kini sudah ada asrama buat perempuan. El terus berusaha meningkatkan kualitas pondok pesantrennya agar semakin diminati oleh masyarakat. Pondok pesantren itu juga berada di bawah naungan Elhijab Group.
"Ini jadi bagian dari CSR-nya Elhijab. Muridnya kini sudah semakin banyak alhamdulillah bukan cuma dari masyarakat yang nggak mampu. Banyak juga kalangan menengah atas yang masuk. Nanti ke depannya saya bersama mitra Elzatta juga mau buat Aliyah kan sekarang cuma ada sampai Tsanawiyah," ujar El.
Menjadi pengurus pondok pesantren yang aktif membuat El harus bolak-balik ke Pariaman. Bahkan waktu di awal membangun pondok pesantren ia sebulan meluangkan waktu dua kali terbang ke Pariaman, Padang, Sumatera Barat. Namun kini karena sudah berjalan, El mengatakan hanya sebulan sekali mengontrolnya. Meski demikian, El tidak merasa keberatan asalkan pesantren yang dibinanya bisa semakin maju.
(aln/ami)











































