Intimate Interview
Sukses Jadi Make-up Artist, Vivi Thalib Pernah Trauma Hingga Disepelekan
Arina Yulistara - wolipop
Senin, 27 Jul 2015 10:15 WIB
Jakarta
-
Di balik kesuksesan selalu ada batu terjal yang pernah menghadang. Ungkapan itu dirasa benar oleh make-up artist berhijab Vivi Thalib. Wanita 34 tahun itu merintis kariernya sejak 2004 dan kini sudah dipercaya untuk menjadi perias langganan selebriti. Sebelum mulai populer seperti sekarang, Vivi bercerita kepada Wolipop bahwa ia juga pernah mengalami masa jatuh-bangun.
Vivi mengatakan perkembangan karier yang dirasakan saat ini merupakan buah hasil dari kerja kerasnya. Tak hanya berusaha untuk memberikan yang terbaik tapi juga menghadapi berbagai tantangan dari pihak luar. Salah satunya sering disepelekan oleh orang lain.
Ibu dua anak itu mengaku di awal kariernya menjadi perias wajah ia sering disepelekan oleh banyak pihak. Kala itu pekerjaan sebagai perias dianggap remeh hingga tak dihargai.
"Jadi karena aku perias suka disepelekan saja, dianggap 'ah cuma perias lo', seperti nggak dihargai apalagi waktu kerja di televisi dulu, padahal kalau nggak ada perias kan juga nggak bisa cantik. Dulu pekerjaan sebagai perias masih dianggap rendah tapi aku tetap bangga," tutur Vivi saat berbincang dengan Wolipop beberapa waktu lalu di Jakarta.
Seiring berjalannya waktu, menurutnya kini pekerjaan sebagai perias mulai dihargai terutama karena perkembangan media sosial seperti adanya Instagram. Oleh karena itu, ia tak pernah lagi disepelekan seperti saat awal berkarier.
Selain disepelekan, Vivi juga pernah mengalami trauma dari klien. Perias langganan Zaskia Sungkar, Shireen Sungkar, hingga Zizi Shahab itu mengatakan kejadian tersebut dialaminya saat baru memulai kariernya sebagai perias lepas.
Vivi mendapatkan tawaran untuk merias wajah seorang klien yang memiliki bentuk mata kecil dan sipit. Karena kala itu belum banyak pengalaman, ia melakukan riasan seperti biasanya mengikuti karakter wajah wanita pada umumnya. Ternyata hasil riasannya membuat wajah kliennya menjadi terkesan galak.
Klien yang merasa tidak terima dengan hasil make-up Vivi minta agar riasannya dihapus. Vivi tentu terkejut dan merasa bersalah. Ia kemudian menjadi tidak percaya diri untuk melanjutkan kariernya sebagai perias wajah.
"Sempat kapok, sedih, nangis, aduh nggak main-main make-up muka orang. Kesalahan itu fatal, jadi trauma. Sempat nggak mau make-up lagi, tapi akhirnya setelah mengalami kesalahan itu aku jadi lebih sadar kalau harus lebih hati-hati dan terus belajar," papar wanita lulusan sekolah make-up Martha Tilaar itu.
Vivi melanjutkan, pengalaman pahit yang pernah dialaminya justru memacu dirinya agar semakin baik lagi. Menurutnya semua itu pengalaman yang menjadi bagian dari kesuksesannya saat ini.
(aln/hst)
Vivi mengatakan perkembangan karier yang dirasakan saat ini merupakan buah hasil dari kerja kerasnya. Tak hanya berusaha untuk memberikan yang terbaik tapi juga menghadapi berbagai tantangan dari pihak luar. Salah satunya sering disepelekan oleh orang lain.
Ibu dua anak itu mengaku di awal kariernya menjadi perias wajah ia sering disepelekan oleh banyak pihak. Kala itu pekerjaan sebagai perias dianggap remeh hingga tak dihargai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring berjalannya waktu, menurutnya kini pekerjaan sebagai perias mulai dihargai terutama karena perkembangan media sosial seperti adanya Instagram. Oleh karena itu, ia tak pernah lagi disepelekan seperti saat awal berkarier.
Selain disepelekan, Vivi juga pernah mengalami trauma dari klien. Perias langganan Zaskia Sungkar, Shireen Sungkar, hingga Zizi Shahab itu mengatakan kejadian tersebut dialaminya saat baru memulai kariernya sebagai perias lepas.
Vivi mendapatkan tawaran untuk merias wajah seorang klien yang memiliki bentuk mata kecil dan sipit. Karena kala itu belum banyak pengalaman, ia melakukan riasan seperti biasanya mengikuti karakter wajah wanita pada umumnya. Ternyata hasil riasannya membuat wajah kliennya menjadi terkesan galak.
Klien yang merasa tidak terima dengan hasil make-up Vivi minta agar riasannya dihapus. Vivi tentu terkejut dan merasa bersalah. Ia kemudian menjadi tidak percaya diri untuk melanjutkan kariernya sebagai perias wajah.
"Sempat kapok, sedih, nangis, aduh nggak main-main make-up muka orang. Kesalahan itu fatal, jadi trauma. Sempat nggak mau make-up lagi, tapi akhirnya setelah mengalami kesalahan itu aku jadi lebih sadar kalau harus lebih hati-hati dan terus belajar," papar wanita lulusan sekolah make-up Martha Tilaar itu.
Vivi melanjutkan, pengalaman pahit yang pernah dialaminya justru memacu dirinya agar semakin baik lagi. Menurutnya semua itu pengalaman yang menjadi bagian dari kesuksesannya saat ini.
(aln/hst)










































