Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Cerita Happy Salma Hadapi Perimenopause: Alami Brain Fog hingga Lebih Sensitif

Kiki Oktaviani - wolipop
Jumat, 17 Apr 2026 21:02 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Keseruan Happy Salma Belanja ke Warung hingga Piknik di Magelang
Foto: Instagram happysalma
Jakarta -

Perimenopause sering datang tanpa disadari. Fase transisi menuju menopause ini membawa perubahan fisik sekaligus emosional yang cukup signifikan. Hal tersebut juga dirasakan oleh Happy Salma, yang kini semakin memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia.

"Sekarang usia 46 tahun. Kakak saya 51 dan 56, dan dulu kami tidak benar-benar paham tentang fase ini. Seperti apa tahapannya, perubahan tubuhnya seperti apa. Padahal menopause itu sesuatu yang tidak terhindarkan," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa perimenopause bahkan bisa dimulai sejak usia 30-an. Perubahan yang terjadi pun bukan hanya fisik, tetapi juga emosional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulu PMS mungkin cuma bikin lebih sensitif, sekarang rasanya bisa jauh lebih sensitif," ungkap bintang film Pangku itu.

Happy juga merasakan perubahan pada daya ingatnya, yang ia sebut sebagai brain fog. Kondisi ini merupakan gangguan kognitif ringan yang membuat seseorang lebih mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan merasa tidak sejelas biasanya saat berpikir.

ADVERTISEMENT

Pada fase perimenopause, brain fog umumnya dipicu oleh fluktuasi hormon, terutama estrogen yang berperan penting dalam fungsi otak. Akibatnya, aktivitas sehari-hari seperti menghafal naskah, menjaga fokus saat bekerja, hingga mengambil keputusan bisa terasa lebih menantang.

"Saya bekerja dengan menghafal naskah, tapi sekarang sering mengalami brain fog, jadi mudah lupa. Hal-hal seperti itu berubah," katanya.

Meski demikian, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru melihatnya sebagai momen refleksi diri.

"Ini fase untuk lebih mengenal diri sendiri, momen yang justru baik untuk meningkatkan kualitas hidup," tuturnya.

"Kita jadi lebih romantis kepada Sang Pencipta, lebih menghargai diri sendiri, dan lebih mengapresiasi hidup. Seperti kesempatan kedua untuk 'glowing' dari dalam. Saya percaya, banyak perempuan justru lebih bahagia di usia ini karena lebih memahami diri, lebih banyak berdialog, dan merenungi diri," lanjutnya.

Menurut Happy, pemahaman menjadi kunci dalam menghadapi fase ini. Ia mengaku kini lebih banyak mencari informasi tentang perimenopause serta mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind.

dr. Arini Astasari, SpDVE, FINSDV & Happy Salmadr. Arini Astasari, SpDVE, FINSDV, aktris Happy Salma, desainer interior Yuni Jie Foto: Foto: Kiki Oktaviani/detik

"Dengan terapi Mindlift by Exomind saya bisa lebih rileks, punya waktu untuk diri sendiri, dan beristirahat. Rasanya sulit dijelaskan, tapi terasa lebih tenang," ujarnya.

Sementara itu, Arini Astasari, SpDVE, FINSDV, pendiri klinik Dermalogia, menjelaskan bahwa perubahan emosi saat perimenopause sangat dipengaruhi oleh fluktuasi hormon. Ia menambahkan, banyak wanita dalam fase tersebut juga menghadapi tantangan lain seperti emotional eating, insomnia, hingga kecemasan. Kondisi ini sering kali sulit dikontrol tanpa bantuan profesional atau pendekatan yang tepat.

"Dengan pendekatan yang tepat seperti terapi Mindlift by Exomind, kita bisa lebih mindful, menurunkan stres, dan berfungsi lebih baik dalam keseharian," jelasnya.

Mindlift by Exomind sendiri merupakan teknologi neuromodulasi yang dirancang untuk membantu regulasi stres, meningkatkan fokus, serta mendukung keseimbangan mental perempuan modern. Klinik yang menyediakan terapi ini salah satunya adalah di Dermalogia.

"Prosesnya singkat, sekitar 20 menit tanpa downtime. Untuk hasil optimal, biasanya dibutuhkan beberapa sesi karena tubuh juga perlu waktu untuk membangun koneksi neuron yang baru," tutup dr. Arini.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads