Alergi Matahari, Wanita Ini Jalani Hidup Seperti 'Vampir'
Paparan sinar matahari baik untuk membantu pembentukan vitamin D. Dokter menyarankan berjemur sekitar pukul 08.00 - 10.000 pagi bisa membuat tulang lebih sehat.
Namun bagi wanita ini, terkena sedikit saja sinar matahari, bisa berakibat fatal. Sonal Keay mengalami kondisi kulit langka yang membuatnya alergi terhadap sinar matahari. Bak vampir, dia harus menghindari pergi di siang hari, dan baru aman ketika malam tiba.
Sonal mengungkap bahwa dia harus sangat menjaga diri agar tidak sering terpapar UV. Kulitnya bisa sakit luar biasa dan 'terbakar' jika berada di bawah sinar matahari lebih dari satu menit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini mulai disadarinya ketika berusia 18 tahun. Kala itu, Sonal sedang liburan di luar negeri, dan reaksi alerginya semakin parah ketika pulang.
Saya mengalami reaksi yang sangat parah dan menyakitkan, dan sama sekali tidak membaik setelah kami kembali (dari liburan)," tuturnya kepada acara televisi ITV, This Morning, seperti dilansir People.
Pebisnis ini melanjutkan, "Setiap kali di luar rumah... Rasanya sangat sakit dan tidak nyaman. Saya tahu dengan menutupi tubuh bisa membantu, tapi tidak benar-benar paham apa yang salah."
Sonal, yang menderita eksim sejak kecil merasakan ketidaknyamanan itu selama dua tahun, sebelum menyadari bahwa rasa sakitnya ternyata berhubungan dengan sinar matahari.
"Saya benar-benar tidak menyangka ada kemungkinan alergi sinar matahari, sumber dari semua kehidupan," ujarnya.
Sonal kemudian didiagnosa dermatitis aktinik kronis, suatu kondisi kulit langka yang menyebabkan tubuhnya mengembangkan lesi eksim. Bahkan pada bagian yang tidak terkena sinar matahari.
Menurut American Academy of Dermatology, ada berbagai jenis alergi kulit fotosensitif, dan dalam kasus Sonal bisa menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.
"Ini bukan hanya kulit yang sangat sakit dan parah. Tapi sangat, sangat buruk sehingga ingin rasanya mengoyaknya supaya lebih lega," curhat Sonal.
Kulitnya sangat bereaksi terhadap cahaya matahari termasuk saat cuaca mendung.
"Saya akan mengalami reaksi alergi parah jika berada di luar selama, saya rasa, mungkin lebih dari sekitar satu menit. Ketika matahari telah terbenam sepenuhnya, saya aman," lanjutnya.
Kondisi ini juga memengaruhi mentalnya. Sonal mengatakan bahwa dia sempat ketakutan jika ada cahaya, termasuk lampu.
Sonal pun harus beradaptasi dengan kondisi kulitnya tersebut. Dia tidak boleh lupa mengoleskan tabir surya hanya untuk mengambil kunci mobil atau memakai sepatu sebelum keluar rumah.
Cahaya matahari yang melewati jendela juga bisa membuat kulitnya bereaksi parah. Oleh karena itu, Sonal memasang tirai anti-UV agar bisa beraktivitas normal di dalam rumah.
"Saya memang terlihat normal, tapi kehidupan saya tidak normal sama sekali," pungkasnya.
(hst/hst)










































