Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Wanita Muda Akhiri Hidup dengan Eutanasia, Kisah Kontroversi yang Bikin Haru

Kiki Oktaviani - wolipop
Senin, 30 Mar 2026 18:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Noelia Castillo Ramos
Noelia Castillo Ramos Foto: dok. Antena 3
Jakarta -

Wanita asal Spanyol, Noelia Castillo Ramos, membagikan alasan di balik keputusannya mengakhiri hidup dengan cara suntik mati atau eutanasia. Sang ayah sempat mencoba menggagalkan keputusan tersebut lewat jalur hukum. Meski pilihan Noelia untuk mengakhiri hidupnya jadi kontroversi, namun sekaligus ada kisah haru di baliknya.

Wanita 25 tahun itu menjadi warga pertama di Spanyol yang memenuhi syarat eutanasia dengan pertimbangan kondisi kesehatan mental. Ia pertama kali mengajukan permohonan untuk mengakhiri hidup secara medis pada 2024, dua tahun setelah mengalami trauma berat akibat pemerkosaan yang terjadi dalam dua peristiwa berbeda.

Peristiwa tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Sejak saat itu, Noelia beberapa kali mencoba mengakhiri hidup, termasuk dengan melompat dari lantai lima sebuah apartemen di 2024. Insiden itu membuatnya mengalami kelumpuhan permanen dan hidup dengan rasa sakit yang terus-menerus, tanpa kemungkinan pemulihan menurut laporan medis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Permohonan eutanasia Noelia sempat disetujui oleh komite ahli di wilayah Catalonia pada 2024. Namun, prosesnya tertunda setelah sang ayah mengajukan keberatan di pengadilan dengan alasan kondisi mental Noelia memengaruhi kemampuannya dalam mengambil keputusan.

Pada Februari 2026, Mahkamah Konstitusi Spanyol menolak banding tersebut dan menyatakan tidak ada pelanggaran hak fundamental. Dengan demikian, proses eutanasia diperbolehkan untuk dilanjutkan.

ADVERTISEMENT

Dalam wawancara terakhirnya di program televisi Spanyol Y Ahora Sonsoles, Noelia mengungkapkan isi hatinya beberapa hari sebelum prosedur dilakukan.

"Nama saya Noelia Castillo Ramos, usia saya 25 tahun, dan saya punya empat hari lagi. Pada dasarnya karena tanggal 26 (Maret) mereka akan melakukan eutanasia pada saya. Tapi bagaimana dengan penderitaan saya? Saya hanya ingin pergi dengan tenang, berhenti menderita, itu saja," ujarnya.

Ia juga menyadari keputusan ini berat bagi keluarganya, namun tetap berpegang pada pilihannya.

"Saya akan pergi, dan kalian tetap di sini dengan semua rasa sakit, tapi saya pikir dengan semua penderitaan yang saya alami selama bertahun-tahun. Saya hanya ingin pergi dengan damai sekarang dan berhenti menderita, titik. Kebahagiaan ayah, ibu, atau saudara tidak harus selalu lebih diutamakan daripada kebahagiaan seorang anak perempuan, atau kesedihan dalam hidupnya," lanjutnya.

Spanyol melegalkan eutanasia atau 'bunuh diri' dengan obat medis sejak 2021, menjadikannya salah satu negara di Uni Eropa yang mengatur praktik ini secara hukum dengan syarat ketat, seperti mengalami sakit serius hingga mengalami penderitaan yang dianggap tak tertahankan.

Permohonan juga harus melalui persetujuan dokter, tenaga medis lain, serta badan evaluasi khusus. Dokter memiliki hak untuk menolak jika tidak memenuhi syarat, maupun mengundurkan diri dari prosedur atas dasar keyakinan pribadi. Kisah Noelia pun memicu perdebatan, terutama soal batasan eutanasia yang melibatkan kondisi kesehatan mental.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads