4 Alasan Vaksin Corona Butuh Waktu Lama untuk Ditemukan

Vina Oktiani - wolipop Jumat, 01 Mei 2020 10:06 WIB
Wabah virus corona telah ditetapkan oleh WHO sebagai darurat global. Para ilmuwan di berbagai negara di dunia berlomba-lomba mengembangkan vaksin dari virus itu Foto: AP Photo/Alasan Vaksin Corona Butuh Waktu Lama untuk Ditemukan
Jakarta -

Vaksin Corona adalah salah satu hal yang paling dinanti-nantikan oleh banyak orang saat ini. Namun proses untuk menemukan vaksin Corona tersebut tidaklah sebentar. Mengapa butuh waktu lama untuk mendapatkan vaksin Corona?

Pada akhir April, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sendiri mengabarkan bahwa ada sekitar 71 vaksin Corona yang masih dalam tahap uji praklinis, dengan lima responden tambahan yang sudah dalam uji klinis.

Seperti dikutip dari Huffingtonpost, para ahli medis mengatakan bahwa setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 12 hingga 18 bulan sebelum vaksin tersebut dibagikan ke publik. Namun jika vaksin Corona berhasil ditemukan dalam jangka waktu tersebut, maka itu bisa menjadi penemuan vaksin tercepat dalam sejarah. Vaksin Ebola saja membutuhkan waktu lima tahun untuk dikembangkan.

Umumnya, pengembangan vaksin membutuhkan waktu setidaknya delapan hingga sepuluh tahun. Namun bukan tidak mungkin vaksin Corona juga bisa ditemukan dalam waktu yang lebih singkat, yaitu sekitar 12 hingga 18 bulan.

Lalu apa yang membuat penemuan vaksin membutuhkan waktu yang lama?

Menurut Kelvin Lee, seorang profesor teknik kimia dan biomolekuler di University of Delaware dan direktur National Institute untuk Inovasi dalam Pembuatan Biofarmasi, vaksin bukanlah pengobatan untuk orang yang sakit. Vaksin diberikan kepada orang yang sehat untuk mencegahnya agar tidak sakit, sehingga proses penemuannya sangat berbeda dengan obat-obatan. Berikut ini adalah beberapa tahapan yang perlu dilewati sebelum vaksin dibagikan ke publik:

1. Peneliti Mempelajari Virus dan Berusaha Menentukan Jenis Vaksin yang Paling Tepat

Ada beberapa jenis vaksin, ada yang memiliki sedikit virus hidup dan ada juga yang mengandung virus tidak aktif untuk memicu respon kekebalan tubuh. Beberapa juga menggunakan DNA atau RNA yang direkayasa secara genetik untuk membuat jenis protein yang dapat mencegah virus mengikat sel kita dan membuat kita sakit.

Setelah para peneliti menentukan jenis vaksin mana yang paling baik, selanjutnya mereka akan menguji vaksin tersebut. Menurut penuturan Lee, dalam banyak kasus, vaksin akan menjalani tes pada hewan untuk memastikan bahwa itu akan aman bagi manusia. Setelahnya, bagian yang paling memakan waktu adalah saat uji klinis pada manusia. Peneliti akan menguji vaksin tersebut kepada beberapa sukarelawan yang sehat untuk melihat keefektifan dan efek samping yang mungkin ditimbulkan pada manusia.

Virus corona: Vaksin sudah tersedia bila ilmuwan melanjutkan penelitian vaksin untuk SARS dan MERSVirus corona: Vaksin sudah tersedia bila ilmuwan melanjutkan penelitian vaksin untuk SARS dan MERS Foto: BBC World

2. Peneliti Mencari Vaksin yang Terbaik

Dalam fase ini, para peneliti mengamati keefektifan vaksin, termasuk mencari tahu dosis terbaik untuk digunakan. Para ilmuwan akan mempertimbangkan apakah vaksin sudah cukup aman dan respon imun sudah cukup bagus sebelum akhirnya melanjutkan ke studi klinis tambahan.

3. Peneliti Melakukan Studi Lapangan yang Lebih Besar

Peneliti akan mengambil populasi yang rentan dan melakukan vaksinasi kepada beberapa orang dan memantau efeknya dari waktu ke waktu. Pada tahap ini, peneliti dapat mencari efek samping jangka pendek yang umum dan pada dosis apa efek samping tersebut muncul. Semua hal itu harus dilakukan terlebih dahulu. Jika dalam tahap ini vaksin tersebut terbukti aman dan efektif, barulah peneliti membuat lisensi vaksin. Bahkan setelah vaksin tersebut disetujui oleh Food and Drug Administration, masih butuh waktu untuk memproduksi dan mendistribusikannya.

4. Peneliti Melakukan Pengujian dan Pemantauan

Penelitian dan pemantauan masih terus berlanjut, bahkan setelah vaksin sudah disebar luaskan. Hal itu dikarenakan butuh waktu untuk memastikan keamanan vaksin. Lee mengatakan bahwa tidak ada yang dapat memastikan, apakah sesuatu yang buruk akan terjadi sebulan, dua bulan, atau bahkan setahun kemudian.

Efek samping umum yang mungkin terjadi adalah kemerahan dan rasa sakit di tempat injeksi. Sedangkan efek samping seperti kejang, atau reaksi alergi lainnya sangat jarang terjadi. Tetapi intinya adalah para ilmuwan dan dokter bertujuan untuk mengembangkan vaksin yang memiliki manfaat perlindungan lebih besar daripada risikonya.

Lee mengatakan bahwa menurutnya saat ini sangat mungkin untuk mempercepat proses penemuan vaksin COVID-19 karena adanya beberapa teknologi baru yang memang sudah dipersiapkan untuk pandemi Corona. Seperti metode bioteknologi yang lebih baru, yang kadang disebut 'metode kultur sel'. Metode tersebut bisa membuat perkembangan lebih cepat. Slain itu para peneliti tidak sedirian karena ada bantuan global untuk menemukan vaksin yang layak.

Selain menemukan vaksin, para ahli saat ini juga tengah menguji perawatan potensial COVID-19 untuk memulihkan kembali pasien yang terinfeksi. Beberapa obat COVID-19 yang saat ini tengah mendapatkan perhatian adalah ramdesivir dan juga hydroxychloroquine. Hydroxychloroquine adalah obat yang dulunya digunakan untuk malaria atau kondisi peradangan seperti rheumatoid arthritis atau lupus. Namun FDA baru-baru ini mencatat bahwa orang Amerika tidak disarankan untuk mengonsumsi hydroxychloroquine secara bebas tanpa adanya rekomendasi dari rumah sakit.

Pada akhirnya, mungkin saja COVID-19 bisa disembuhkan dengan plasma darah. Plasma darah tersebut diberikan kepada orang yang sakit dari orang yang telah sembuh dari Covid-19. Namun semua itu masih membutuhkan tahap pengujian dan penelitian lebih lanjut.



Simak Video "Patricia Gouw Dibikin Kaget dengan Protokol Covid-19 di Luar Negeri"
[Gambas:Video 20detik]
(vio/eny)