Imbas Social Distancing karena Corona, KDRT Meningkat di Berbagai Negara

Hestianingsih - wolipop Sabtu, 11 Apr 2020 13:05 WIB
Young woman is sitting hunched at a table at home, the focus is on a mans fist in the foregound of the image Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga. Foto: iStock
Jakarta -

Social atau physical distancing dengan tetap di rumah menjadi salah satu cara untuk memutus rantai penyebaran virus Corona. Namun ternyata imbauan untuk #dirumahaja menimbulkan masalah baru, yakni meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), seiring semakin panjang waktu orang-orang berdiam di tempat tinggal mereka masing-masing.

Melakukan semua kegiatan di rumah dalam waktu lama memang bisa menimbulkan kebosanan dan rasa frustasi. Kondisi mental inilah yang disebut berpotensi besar memicu KDRT, khususnya bagi golongan rentan seperti wanita dan anak-anak.

Sekretaris Umum PBB Antonio Guterres menyampaikan kekhawatirannya atas peningkatan kasus KDRT di tengah krisis pandemi virus Corona lewat Twitter, pekan lalu.

"Lockdown dan karantina memang sangat penting dilakukan untuk memperlambat penyebaran COVID-19. Tapi itu juga bisa membuat wanita terperangkap bersama pasangan yang kasar," ujar Antonio.

young asian couple having a big argument. click for more: Foto: Dok. istock


"Ancaman ini membayangi banyak wanita dan anak perempuan, di tempat di mana mreka seharusnya merasa paling aman - yaitu rumah mereka sendiri," lanjutnya.

Seperti dikutip dari Al Jazeera, beberapa negara mencatat adanya peningkatan laporan KDRT melalui telepon, hingga dua kali lipat. Sayangnya petugas komisi perempuan maupun polisi tidak dapat berbuat banyak karena mereka juga memiliki keterbatasan dana untuk mengatasi masalah tersebut.

New York Times juga melaporkan hotline darurat meningkat untuk pengaduan tindak kekerasan sejak sejumlah negara menerapkan kebijakan lockdown, karantina wilayah dan social distancing. Menurut pakar sosiologi Marianne Hester dari Bristol University, hal ini sebenarnya sudah bisa diprediksi.

Marianne mengatakan bahwa kasus KDRT secara global selalu meningkat kapanpun seluruh anggota keluarga menghabiskan waktu bersama. Misalnya ketika liburan Natal dan Tahun Baru atau liburan musim panas.

Young woman is sitting hunched at a table at home, the focus is on a man's fist in the foregound of the imageFoto: Dok. iStock


Begitu juga ketika menghabiskan banyak waktu bersama selama masa isolasi, ternyata banyak pasangan justru jadi sering bertengkar. China, negara yang mejadi pusat penyebaran virus Corona, mencatat sedikitnya 300 pasangan mengajukan cerai sejak 24 Februari 2020, waktu di mana lockdown di Negeri Tirai Bambu itu mulai diberlakukan.

Menurut petugas pendaftaran pernikahan di Provinsi Sichuan, China, kebanyakan dari mereka ingin cerai karena virus Corona. Di Provinsi Sichuan, misalnya, angka perceraian meningkat pesat dibandingkan waktu sebelum virus Corona mewabah.

Orang-orang muda menghabiskan banyak waktu di rumah. Mereka cenderung berargumen karena sesuatu yang remeh dan cepat-cepat menginginkan perceraian," kata Lu Shijun, manajer pendaftaran pernikahan.

Sementara itu di Spanyol, nomor darurat untuk KDRT juga menerima aduan 18 persen lebih banyak di dua minggu pertama lockdown diberlakukan. Kepolisian Prancis pun melaporkan ada peningkatan kasus KDRT hingga 30 persen.


Seorang warga China bernama Lele yang juga mengalami KDRT mengatakan bahwa konflik rumah tangga semakin banyak akibat suami maupun istri frustasi dan stres. Sifat asli mereka pun jadi keluar.

"Saat epidemi, kami tidak bisa keluar rumah, dan konflik yang terjadi semakin membesar dan lebih sering. Semuanya terbongkar," katanya.

Untuk itu Antonio Guterres mengimbau pemerintah di berbagai negara agar lebih terlibat dalam pencegahan KDRT.

"Saya mengimbau semua pemerintah melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan KDRT terhadap wanita sebagai salah satu isu utama yang disebabkan COVID-19," kata Antonio.

Couple arguing at restaurantFoto: Thinkstock


Pertengkaran yang bisa berujung KDRT bisa dicegah jika pasangan fokus pada kegiatan sehari-hari yang menyenangkan. Psikolog Meity Arianty STP. M. Psi menyarankan agar pasangan memulainya dari hal-hal ringan dan sederhana yang dilakukan bersama-sama. Misalnya membersihkan rumah, menonton film atau masak. Bisa juga dengan melibatkan anak.

"Pertengkaran terjadi jika kedua pihak sibuk dengan pikirkan dan ego masing-masing. Namun jika pasangan merasa saat ini menjadi ajang untuk menghabiskan waktu bersama-sama, maka mereka nggak akan menyia-yiakan saat ini dengan pertengkaran," jelasnya saat dihubungi Wolipop.



Simak Video "Lockdown karena Corona, Bisa Nikah Online di New York"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/hst)