Seberapa Bahaya Semprotan Disinfektan pada Tubuh?

Vina Oktiani - wolipop Jumat, 03 Apr 2020 05:30 WIB
Hujan Disinfektan, Cara Pemkot Madiun Pertahankan Zero Positif covid-19 Penyemprotan disinfektan ke tubuh.Foto: Sugeng Harianto
Jakarta -

Untuk mencegah terinfeksi Covid-19 atau virus Corona, saat ini banyak orang yang menggunakan disinfektan untuk disemprotkan ke seluruh tubuh dengan tujuan untuk mematikan semua bakteri dan virus yang menempel. Seringkali cairan dari semprotan disinfektan tersebut mengenai kulit atau bagian tubuh lainnya yang rentan dan sensitif, seperti mata dan mulut. Hal tersebut yang kemudian menimbulkan pertanyaan. Apakah cairan disinfektan aman jika disemprotkan langsung pada tubuh?

WHO sendiri sebenarnya sudah memberikan peringatan melalui akun Twitternya di @WHOIndonesia untuk berhenti menyemprotkan disinfektan langsung ke tubuh atau badan seseorang. Hal tersebut dinilai bisa membahayakan jika terkena pakaian atau selaput lendir, seperti mata dan mulut. Selain itu, alkohol atau klorin juga tidak dapat membunuh virus yang sudah masuk ke dalam tubuh. Oleh karena itu, WHO hanya merekomendasikan penggunaan alkohol dan klorin sebagai disinfektan hanya pada permukaan benda dan harus digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan.

Disinfektan memiliki beberapa kandungan yang berpotensi berbahaya bagi manusia, misalnya etilen oksida yang sangat mudah terbakar dan mudah meledak. Disinfektan kimia seperti pengoksidasi kuat dapat menghasilkan gas beracun setelah bereaksi dengan bahan kimia lainnya. Hal itu tertulis dalam buku Guidance Notes on Safe Use of Chemical Disinfectants yang dikeluarkan oleh Occupational Safety and Health Branch of the Labour Department.

Dalam buku tersebut juga menyebutkan bahwa disinfektan bisa menimbulkan beberapa masalah jika tidak digunakan dengan tepat. Beberapa disinfektan kimia berpotensi untuk mengiritasi kulit, mata, dan sistem pernapasan. Bahkan disinfektan yang korosif dapat menyebabkan kerusakan serius jika terkena kulit atau mata. Tidak hanya itu saja, disinfektan yang melayang di udara juga dapat menyebabkan masalah pernapasan jika digunakan di area yang memiliki ventilasi buruk.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pedersen LK, Held E, Johansen JD, dan Agner T. yang dipublikasikan pada tahun 2005 di jurnal PubMed, menemukan bahwa disinfektan berbasis alkohol menyebabkan lebih sedikit iritasi kulit dibandingkan dengan penggunaan deterjen. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi efek jangka pendek dari paparan berulang terhadap disinfektan berbasis alkohol, deterjen, dan alkohol berbasis disinfektan atau deterjen. Efek pengerasan pada kulit setelah 4 minggu penggunaan juga dievaluasi.

Penelitian tersebut dilakukan dengan mengaplikasikan secara bergantian disinfektan berbasis alkohol, deterjen, dan alkohol berbasis disinfektan atau deterjen setiap 15 menit selama 6 jam selama 2 hari pada lengan 15 responden. Setelah 4 minggu, tambahan natrium lauril sulfat diaplikasikan pada setiap area.

Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa deterjen menyebabkan lebih banyak kemerahan pada kulit daripada dua jenis disinfektan lainnya. Tidak ada efek pengerasan pada kulit yang ditemukan setelah 4 minggu masa percobaan. Sayangnya, penelitian mengenai bahaya disinfektan pada kulit belum terlalu banyak.

Walaupun demikian, berdasarkan data-data di atas dapat disimpulkan bahwa disinfektan jenis apapun dapat berisiko negatif jika terkena kulit atau bagian tubuh sensitif lainnya. Oleh sebab itu gunakan disinfektan sesuai dengan petunjuk pemakaian dan hanya gunakan pada permukaan benda saja.



Simak Video "5 Tips Aman ala dr Reisa agar Terhindar COVID-19 Saat Terima Paket"
[Gambas:Video 20detik]
(vio/agm)