Kisah Dokter Bedah Kanker Payudara yang Terkena Kanker Payudara

Gresnia Arela Febriani - wolipop Selasa, 16 Jul 2019 11:41 WIB
Dr Liz ORiordan ahli bedah kanker payudara yang terkena kanker payudara. Foto: Dok. Instagram Liz ORiordan Dr Liz O'Riordan ahli bedah kanker payudara yang terkena kanker payudara. Foto: Dok. Instagram Liz O'Riordan

Jakarta - Liz O'Riordan, seorang dokter ahli bedah kanker payudara, akhirnya harus menyerah menjalani pekerjaannya, setelah dia divonis terkena penyakit yang tak pernah disangkanya akan dia dapatkan, kanker payudara.

Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang berbahaya bagi wanita, setelah kanker serviks. Sel kanker akan tumbuh dan menyerang jaringan payudara.

Dan Dr O'Riordan menjadi salah satu wanita yang menderita kanker tersebut. Sang dokter mengira bisa berpraktik sebagai ahli bedah kanker payudara setidaknya selama 20 tahun. Namun ternyata dia hanya sanggup menjalani pekerjaan tersebut selama dua tahun. Kanker payudara membuatnya berhenti bekerja sebagai ahli bedah.

Dr O'Riordan harus menjalani radioterapi untuk menyembuhkan kanker payudaranya. Efek pengobatan itu membuat bahunya sekarang sulit untuk digerakan.



"Seperti kebanyakan perempuan lainnya, saya tidak pernah memeriksa payudara saya ke dokter. Saya berpikir, penyakit itu tidak akan terjadi pada saya, karena saya seorang ahli bedah kanker payudara," ucap Liz O'Riordan seperti dikutip BBC Internasional.

Sebelum didiagnosis kanker payudara, Dr O'Riordan menemukan ada benjolan yang diduga hanya kista. Enam bulan sebelumnya saat melakukan pemeriksaan mamogram pun payudaranya dinyatakan sehat.

Dr Liz O'Riordan ahli bedah kanker payudara yang terkena kanker payudara.Dr Liz O'Riordan ahli bedah kanker payudara yang terkena kanker payudara. Foto: Dok. Instagram Liz O'Riordan


Tapi ternyata benjolan lainnya mulai muncul dan ibunya mendesak sang dokter agar menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dokter bedah yang tinggal di kawasan Suffolk, Inggris ini, tahu diagnosa apa yang akan didapatkannya.

"Aku melihat hasil scan dan aku tahu aku membutuhkan mastektomi, kemo dan aku bisa memprediksi aku memiliki kesempatan hidup setidaknya 10 tahun terakhir, semua itu bisa aku tahu dalam hitungan detik," kata Dr O'Riordan.

Dr O'Riordan mengatakan tidak banyak dokter menderita penyakit di mana mereka ahli akan penyakit tersebut. Dan di rumah sakit tempatnya berpraktik Rumah Sakit Ipswich, hanya dia seorang. Berbagai pertanyaan pun muncul di kepalanya. Mulai dari bagaimana dia memberitahukan kondisinya pada suaminya hingga bagaimana dia bisa membedakan dirinya sebagai ahli bedah dan pasien kanker itu sendiri.

Setelah akhirnya berbincang dengan suaminya Dermot, Dr O'Riordan memutuskan untuk mengungkapkan ke media sosial mengenai penyakitnya. Dan ia mendapatkan banyak dukungan dari berbagai kalangan.

Setelah menyelesaikan pengobatan pertamanya, Dr O'Riordan bisa kembali bekerja sebagai dokter bedah di Ipswich Hospital, Inggris. Tapi dia tidak menyangka betapa perubahan dalam hidupnya itu juga membuatnya juga merasakan tantangan emosi yang berbeda saat melakukan pekerjaannya lagi.

Sebagai ahli bedah kanker payudara yang juga menderita kanker payudara, Dr O'Riordan mengira dia bisa lebih membantu pasiennya. "Tapi itu menjadi hal yang paling sulit yang harus saya lakukan," katanya.

[Gambas:Instagram]



Dr O'Riordan mengaku sebenarnya sangat ingin merasa lebih dekat dengan pasiennya yang mengalami hal sama dengannya. Namun dia tidak bisa melakukan itu karena mereka adalah pasiennya dan dia adalah dokter.

"Aku merasa sangat kesakitan setelah mastektomi. Aku juga sangat sadar bahwa aku akan memberikan mereka rasa sakit yang aku rasakan dan aku tidak mau melakukan itu, itu sangat-sangat berat," ujar sang dokter mengisahkan pertentangan batinnya. Dr O'Riordan sendiri menjalani mastektomi atau pengangkatan payudara pada 2015.

Pada 2018, kanker Dr. O'Riordan kembali muncul di ketiak yang sama. Benjolan itu ditemukan saat ia sedang scan untuk rencana operasi pengangkatan implan payudara yang membuatnya kesakitan. Radioterapi pun harus kembali dijalaninya dan karena terjadi di daerah yang sama dosis radioterapi harus ditingkatkan.

Sebelumnya, Dr. O'Riordan diperingatkan bahwa dia kemungkinan tidak dapat menggerakkan lengannya dengan benar setelah menjalani radioterapi. Tetapi jika dia tidak menjalaninya, kondisinya bisa lebih buruk. Dan ternyata setelah radioterapi itu, kemampuannya untuk menggerakkan lengannya berkurang.

"Aku masih bisa melakukan kegiatan sehari-hari, tapi melakukan operasi dengan aman, itu tidak akan terjadi," ujarnya.

Kurang lebih empat bulan setelah serangan kanker keduanya, Dr O'Riordan memutuskan bahwa kariernya sebagai ahli bedah kanker payudara sudah berakhir. "Sungguh kenyataan yang pahit dan sangat berat mengucapkan selamat tinggal," katanya.




Simak Video "Peduli Kanker Payudara Lewat Indonesia Goes Pink"
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/eny)