Tepis Stres dan Cemas dengan Menulis Jurnal Harian
Daniel Ngantung - wolipop
Jumat, 24 Feb 2017 19:24 WIB
Jakarta
-
Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, bukan berarti sesuatu yang konvensional benar-benar kehilangan manfaatnya. Menuangkan isi pikiran di atas secarik kertas misalnya yang diyakini dapat meredakan stres.
Banyak hasil penelitian yang menyebut menulis jurnal secara rutin berdampak positif bagi kesehatan mental, terutama dalam mengatasi stres dan depresi.
Akibat stres dan rasa gelisah, pikiran pun tidak tenang. Kondisi ini mengganggu pola tidur yang akhirnya berujung pada berbagai masalah kesehatan.
National Institutes of Health mencatat, sebanyak 40 juta orang Amerika mengidap gangguan tidur yang kronis dan jangka panjang.
Dengan semakin meningkatnya pasien stres dan insomnia, para ahli mencoba mengatasinya dengan pendekatan yang konvensional. Pasien disarankan untuk mengutarakan hal-hal yang mengganggu pikiran dan membuat mereka takut dalam bentuk tulisan di sebuah jurnal.
Michael J. Breus, Ph.D., seorang psikolog yang fokus menangani masalah gangguan tidur, seperti dikutip Shape, mengatakan menulis jurnal "adalah cara terbaik untuk mengeluarkan isi pikiran sebelum tidur."
Psikolog yang kerap menjadi bintang tamu di acara 'Dr. Oz Show' itu biasanya menyarankan pasiennya menulis jurnal tiga jam sebelum tidur. "Jika mereka menulisnya sesaat sebelum tidur, saya minta mereka menuliskan hal-hal yang disyukuri, yang mana sangat positif," katanya.
Tidak melulu harus sebelum tidur, 'ritual' ini juga bisa Anda lakukan di saat pikiran mulai terasa jenuh karena pekerjaan.
Tertarik untuk memulai ritual ini?
Untuk pemula, menurut Michael ada baiknya membagi dulu isi jurnal sesuai topik bahasannya. Misal satu bagian untuk "hal-hal yang perlu Anda perhatikan", bagian lain untuk "hal yang harus diingat" dan sesuatu yang membuat Anda "khawatir". Saat melampiaskan seluruh unek-unek, pastikan juga Anda menyisihkan bagian untuk solusi masalah.
Satu hal yang perlu diperhatikan, kata Michael, Anda harus jujur dan lebih terbuka pada diri sendiri agar isi pikiran dapat tercurahkan secara maksimal.
Aktivitas ini diharapkan dapat meringkan beban pikiran yang selama ini mengganggu, sekaligus memberi perspektif baru untuk menghadapi beban atau persoalan yang tengah dihadapi. (dtg/dtg)
Banyak hasil penelitian yang menyebut menulis jurnal secara rutin berdampak positif bagi kesehatan mental, terutama dalam mengatasi stres dan depresi.
Akibat stres dan rasa gelisah, pikiran pun tidak tenang. Kondisi ini mengganggu pola tidur yang akhirnya berujung pada berbagai masalah kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Thinkstock |
Dengan semakin meningkatnya pasien stres dan insomnia, para ahli mencoba mengatasinya dengan pendekatan yang konvensional. Pasien disarankan untuk mengutarakan hal-hal yang mengganggu pikiran dan membuat mereka takut dalam bentuk tulisan di sebuah jurnal.
Michael J. Breus, Ph.D., seorang psikolog yang fokus menangani masalah gangguan tidur, seperti dikutip Shape, mengatakan menulis jurnal "adalah cara terbaik untuk mengeluarkan isi pikiran sebelum tidur."
Psikolog yang kerap menjadi bintang tamu di acara 'Dr. Oz Show' itu biasanya menyarankan pasiennya menulis jurnal tiga jam sebelum tidur. "Jika mereka menulisnya sesaat sebelum tidur, saya minta mereka menuliskan hal-hal yang disyukuri, yang mana sangat positif," katanya.
Foto: Thinkstock |
Tidak melulu harus sebelum tidur, 'ritual' ini juga bisa Anda lakukan di saat pikiran mulai terasa jenuh karena pekerjaan.
Tertarik untuk memulai ritual ini?
Untuk pemula, menurut Michael ada baiknya membagi dulu isi jurnal sesuai topik bahasannya. Misal satu bagian untuk "hal-hal yang perlu Anda perhatikan", bagian lain untuk "hal yang harus diingat" dan sesuatu yang membuat Anda "khawatir". Saat melampiaskan seluruh unek-unek, pastikan juga Anda menyisihkan bagian untuk solusi masalah.
Satu hal yang perlu diperhatikan, kata Michael, Anda harus jujur dan lebih terbuka pada diri sendiri agar isi pikiran dapat tercurahkan secara maksimal.
Aktivitas ini diharapkan dapat meringkan beban pikiran yang selama ini mengganggu, sekaligus memberi perspektif baru untuk menghadapi beban atau persoalan yang tengah dihadapi. (dtg/dtg)












































Foto: Thinkstock
Foto: Thinkstock