Bukti Cokelat adalah Makanan Sehat Berdasarkan Penelitian
Rista Adityaputry - wolipop
Selasa, 21 Feb 2017 18:29 WIB
Jakarta
-
Dunia baru saja merayakan Valentine pada 14 Februari lalu. Jika membicarakan tentang Valentine, yang sering terpikirkan tentu saja cokelat. Makanan yang tak pernah absen di hari kasih sayang itu semakin sering dikonsumsi orang-orang di dunia, termasuk Indonesia. Selain sebagai bahan makanan, cokelat memang banyak digunakan sebagai bahan kecantikan. Manfaat cokelat untuk kesehatan pun sudah teruji sejak lama, namun beberapa orang masih ragu untuk memutuskan olahan biji kakao ini sebagai makanan yang sehat.
Beberapa penelitian nutrisi di bawah ini membuktikan bahwa cokelat memang makanan sehat. Kakao itu sendiri mengandung antioksidan katechin dan epikatechin yang bermanfaat untuk tubuh. Perlu diperhatikan bahwa cokelat yang sehat di sini adalah cokelat yang tidak mengandung perasa dan pemanis tambahan atau pewarna, alias dark chocolate dengan kandunga minimal 50 persen kakao. Cokelat dengan kandungan kakao yang tinggi memiliki manfaat yang lebih. Apa saja? Simak uraiannya seperti dikutip dari Mind Body Green.
1. Meningkatkan Metabolisme Tubuh
Dengan mengonsumsi cokelat, peredaran darah akan lancar sehingga oksigen dan nutrisi bisa disebarkan ke seluruh tubuh. Metabolisme yang meningkat disebabkan oleh adanya produksi energi yang meningkat pula dari oksigen dan nutrisi tersebut.
Ini dibuktikan oleh penelitian yang dipublikasikan di US National Library of Medicine National Institutes of Health pada tahun 2013. Epikatechin dalam kakao bisa meningkatkan daya tahan tubuh sebanyak 30% dan persediaan darah baru sebanyak 30%. Apabila dikombinasikan dengan berolahraga, energi bahkan akan meningkat hingga 50%.
2. Menurunkan Rasa Depresi
Ada yang pernah menonton Harry Potter? Ia memakan cokelat setelah Dementor menyerang dengan mengambil momen bahagianya. Ya, ternyata memang ada penelitian yang menunjukkan bahwa cokelat bisa membuat orang merasa senang dan tenang. Penelitian tahun 2010 dari Universitas Swinburne di Melbourne, Australia mengatakan bahwa kandungan polifenol dalam kakao bisa mengurangi depresi sebanyak 10% dan meningkatkan ketenangan sebanyak 10% apabila dikonsumsi dengan jumlah cukup selama 30 hari.
3. Baik untuk Jantung
Ternyata kandungan lemak jenuh dalam cokelat baik untuk jantung. Mengapa bisa begitu? 1/3 kandungan lemak di kakao terdiri dari asam stearat yang tidak akan meningkatkan kolesterol jahat Anda. Liver akan mengubah asam stearat tersebut menjadi asam oleat yang merupakan lemak tak jenuh.
Menurut penelitian yang dipimpin oleh Mellor DD dari Universitas Hull, Inggris, mengonsumsi lemak kakao bisa meningkatkan kolesterol baik (HDL) dalam tubuh. Sebuah meta analisis dari Universitas Cambridge, Inggris tahun 2011 pun menyebutkan bahwa konsumsi cokelat kakao yang tinggi berhubungan dengan penurunan penyakit kardiovaskular sebanyak 37% dan risiko stroke sebanyak 29%.
4. Menurunkan Tekanan Darah
Konsumsi cokelat kakao secara konsisten juga memengaruhi pembuluh darah arteri sehingga bisa menurunkan tekanan darah. Epikatechin dalam kakao membuat pembuluh darah arteri menjadi elastis sehingga bisa mencegah terjadinya tekanan darah tinggi.
Ini dibuktikan dengan penelitian yang dipimpin oleh Heiss C. dari Institut Biokimia dan Biologi Molekuler I di Aachen, Jerman. Hasil dari penelitian ini adalah meningkatnya elastisitas pembuluh arteri sebanyak 40% setelah mengonsumsi cokelat kakao selama tiga hari, bahkan selama seminggu bisa mengalami peningkatan hingga 70%. Sayangnya, elastisitas arteri bisa kembali seperti semula jika tidak dikonsumsi selama seminggu. (hst/hst)
Beberapa penelitian nutrisi di bawah ini membuktikan bahwa cokelat memang makanan sehat. Kakao itu sendiri mengandung antioksidan katechin dan epikatechin yang bermanfaat untuk tubuh. Perlu diperhatikan bahwa cokelat yang sehat di sini adalah cokelat yang tidak mengandung perasa dan pemanis tambahan atau pewarna, alias dark chocolate dengan kandunga minimal 50 persen kakao. Cokelat dengan kandungan kakao yang tinggi memiliki manfaat yang lebih. Apa saja? Simak uraiannya seperti dikutip dari Mind Body Green.
1. Meningkatkan Metabolisme Tubuh
Foto: Thinkstock |
Dengan mengonsumsi cokelat, peredaran darah akan lancar sehingga oksigen dan nutrisi bisa disebarkan ke seluruh tubuh. Metabolisme yang meningkat disebabkan oleh adanya produksi energi yang meningkat pula dari oksigen dan nutrisi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
2. Menurunkan Rasa Depresi
Foto: Detikfood |
Ada yang pernah menonton Harry Potter? Ia memakan cokelat setelah Dementor menyerang dengan mengambil momen bahagianya. Ya, ternyata memang ada penelitian yang menunjukkan bahwa cokelat bisa membuat orang merasa senang dan tenang. Penelitian tahun 2010 dari Universitas Swinburne di Melbourne, Australia mengatakan bahwa kandungan polifenol dalam kakao bisa mengurangi depresi sebanyak 10% dan meningkatkan ketenangan sebanyak 10% apabila dikonsumsi dengan jumlah cukup selama 30 hari.
3. Baik untuk Jantung
Foto: Thinkstock / Pinterest |
Ternyata kandungan lemak jenuh dalam cokelat baik untuk jantung. Mengapa bisa begitu? 1/3 kandungan lemak di kakao terdiri dari asam stearat yang tidak akan meningkatkan kolesterol jahat Anda. Liver akan mengubah asam stearat tersebut menjadi asam oleat yang merupakan lemak tak jenuh.
Menurut penelitian yang dipimpin oleh Mellor DD dari Universitas Hull, Inggris, mengonsumsi lemak kakao bisa meningkatkan kolesterol baik (HDL) dalam tubuh. Sebuah meta analisis dari Universitas Cambridge, Inggris tahun 2011 pun menyebutkan bahwa konsumsi cokelat kakao yang tinggi berhubungan dengan penurunan penyakit kardiovaskular sebanyak 37% dan risiko stroke sebanyak 29%.
4. Menurunkan Tekanan Darah
Foto: iStock/detikFood |
Konsumsi cokelat kakao secara konsisten juga memengaruhi pembuluh darah arteri sehingga bisa menurunkan tekanan darah. Epikatechin dalam kakao membuat pembuluh darah arteri menjadi elastis sehingga bisa mencegah terjadinya tekanan darah tinggi.
Ini dibuktikan dengan penelitian yang dipimpin oleh Heiss C. dari Institut Biokimia dan Biologi Molekuler I di Aachen, Jerman. Hasil dari penelitian ini adalah meningkatnya elastisitas pembuluh arteri sebanyak 40% setelah mengonsumsi cokelat kakao selama tiga hari, bahkan selama seminggu bisa mengalami peningkatan hingga 70%. Sayangnya, elastisitas arteri bisa kembali seperti semula jika tidak dikonsumsi selama seminggu. (hst/hst)
Home & Living
Sekali Coba Susah Balik! Handuk Premium Ini Harus Kamu Punya, Cek Alasannya
Home & Living
Satu Set Alat Ini Memudahkan Pekerjaan Kamu! TEKIRO Socket Set Harus Kamu Miliki di Rumah
Home & Living
Nggak Perlu Capek Bersihin WC! Notale Spin Scrubber Ini Memudahkan Pekerjaan, Harus Ada di Rumah
Home & Living
Cari Dudukan Santai yang Empuk dan Estetik? Pilihan Bean Bag Ini Layak Jadi Andalan
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Tak Hanya Minyak Berlebih, Ini Penyebab Jerawat di Wajah
Kenali Jenis-Jenis Jerawat dan Cara Merawatnya dengan Tepat
Tren 'Ozempic Body' Makin Ekstrem, Kini Beralih ke Pengangkatan Tulang Rusuk
6 Tren Diet yang Viral dan Populer Sepanjang 2025
6 Bulan Diet Ayam Rebus, Influencer Ini Nyaris Kehilangan Nyawa
Most Popular
1
Rebutan Uang Duka, Konflik Menantu dan Mertua Berujung Tragis
2
Niat Cantik Berujung Maut, Ibu 2 Anak Meninggal Usai Oplas Bokong & Perut
3
8 Foto Alyssa Daguise Liburan ke London, Bumil Tampil Stylish Pakai Coat Bulu
4
Ramalan Zodiak 5 Januari: Taurus Jaga Emosi, Gemini Manfaatkan Momentum
5
Potret Cilia Flores, Istri Presiden Venezuela Maduro yang Ikut Ditangkap AS
MOST COMMENTED












































Foto: Thinkstock
Foto: Detikfood
Foto: Thinkstock / Pinterest
Foto: iStock/detikFood