Sering Merasakan 'Getaran Palsu' dari Ponsel, Sindrom yang Perlu Diwaspadai?
Hestianingsih - wolipop
Sabtu, 02 Jan 2016 13:13 WIB
Jakarta
-
Sering merasakan ponsel di tas bergetar atau mendengar bunyi notifikasi, namun setelah dicek ternyata tidak ada panggilan maupun pesan teks yang masuk? Anda tidak sendiri. Sebanyak 90 persen pemakai ponsel atau smartphone pernah mengalami yang namanya phantom vibration syndrome (PVS), atau kondisi psikologis dimana penggunanya berhalusinasi kalau telepon mereka berbunyi.
Begitu banyaknya orang yang mengalami sindrom ini, membawa peneliti tertarik menganalisa mengapa PVS bisa terjadi. Menurut analisa mereka, ponsel telah 'melatih' tubuh untuk menanggapi bahwa sensasi apapun yang dirasakan pada seluruh tubuh sebagai panggilan masuk telepon.
Mengecek ponsel setiap waktu kini sudah menjadi sebuah kebiasaan, disadari atau tidak. Hal itu diungkapkan Dr robert Rosenberg dari Georgia Institute of Technology, Atlanta, Amerika Serikat dalam studinya mengenai dampak teknologi terhadap perilaku manusia.
Menurutnya kini ada kecenderungan para pengguna ponsel sangat khawatir terlambat menerima panggilan masuk atau pesan teks sehingga tubuh jadi terbiasa mendeteksi sensasi apa pun di tubuh sebagai notifikasi dari ponsel. Padahal mungkin saja hanya disebabkan adanya pergerakan urat syaraf.
Seringkali bahan pakaian yang tersibak, atau kejang otot ringan juga dikira sebagai notifikasi getar yang datang dari ponsel. Reaksi ini lebih kurang mirip seperti seseorang yang memakai kacamata bantu penglihatan.
"Kalau Anda sudah ketergantungan pada kacamata dan sudah menjadi bagian dari diri Anda, Anda terkadang sampai lupa saat itu sedang memakai kacamata. Ponsel yang ditaruh di kantung baju pun demikian," jelas Dr Robert, seperti dikutip dari Daily Mail.
Ponsel yang dibawa kemanapun Anda pergi, bahkan ke toilet sekalipun juga dikenali otak sebagai bagian dari tubuh Anda. Tubuh pun terlatih untuk mengenali getaran dari ponsel sebagai dering panggilan masuk atau teks.
PVS pertamakali diidentifikasi pada era 90-an, yaitu ketika sedang maraknya penggunaan pager. Namun belakangan sindrom tersebut meningkat jumlahnya akibat makin banyaknya orang yang memakai smarpthone. Dengan banyaknya aplikasi dan social media yang di-instal di dalam smartphone maka notifikasi pun semakin banyak dan makin besar kemungkinan sindrom ini lebih sering terjadi.
Para ahli psikologi pun menyebut PVS sebagai bentuk gangguan kecemasan di era teknologi serba canggih ini. Namun menurut Dr Robert, hal tersebut lebih disebabkan oleh adaptasi dan respon tubuh terhadap teknologi.
Dr Robert mengimbau bagi mereka yang kerap mengalami PVS untuk tidak terlalu khawatir. Kecuali jika gangguan ini sudah terlalu sering sehingga memengaruhi kualitas hidup mereka, maka perlu sedikit diwaspadai.
Misalnya saja Anda merasakan getaran mirip ponsel ini setiap waktu hingga mengganggu konsentrasi kerja atau ketika presentasi di meeting kantor. Maka satu-satunya cara mengatasinya adalah 'membiasakan' kembali tubuh untuk mengirimkan respon yang 'normal'. Caranya, dengan mengurangi penggunaan ponsel atau membatasi membawanya kemanapun Anda pergi. (hst/hst)
Begitu banyaknya orang yang mengalami sindrom ini, membawa peneliti tertarik menganalisa mengapa PVS bisa terjadi. Menurut analisa mereka, ponsel telah 'melatih' tubuh untuk menanggapi bahwa sensasi apapun yang dirasakan pada seluruh tubuh sebagai panggilan masuk telepon.
Mengecek ponsel setiap waktu kini sudah menjadi sebuah kebiasaan, disadari atau tidak. Hal itu diungkapkan Dr robert Rosenberg dari Georgia Institute of Technology, Atlanta, Amerika Serikat dalam studinya mengenai dampak teknologi terhadap perilaku manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seringkali bahan pakaian yang tersibak, atau kejang otot ringan juga dikira sebagai notifikasi getar yang datang dari ponsel. Reaksi ini lebih kurang mirip seperti seseorang yang memakai kacamata bantu penglihatan.
"Kalau Anda sudah ketergantungan pada kacamata dan sudah menjadi bagian dari diri Anda, Anda terkadang sampai lupa saat itu sedang memakai kacamata. Ponsel yang ditaruh di kantung baju pun demikian," jelas Dr Robert, seperti dikutip dari Daily Mail.
Ponsel yang dibawa kemanapun Anda pergi, bahkan ke toilet sekalipun juga dikenali otak sebagai bagian dari tubuh Anda. Tubuh pun terlatih untuk mengenali getaran dari ponsel sebagai dering panggilan masuk atau teks.
PVS pertamakali diidentifikasi pada era 90-an, yaitu ketika sedang maraknya penggunaan pager. Namun belakangan sindrom tersebut meningkat jumlahnya akibat makin banyaknya orang yang memakai smarpthone. Dengan banyaknya aplikasi dan social media yang di-instal di dalam smartphone maka notifikasi pun semakin banyak dan makin besar kemungkinan sindrom ini lebih sering terjadi.
Para ahli psikologi pun menyebut PVS sebagai bentuk gangguan kecemasan di era teknologi serba canggih ini. Namun menurut Dr Robert, hal tersebut lebih disebabkan oleh adaptasi dan respon tubuh terhadap teknologi.
Dr Robert mengimbau bagi mereka yang kerap mengalami PVS untuk tidak terlalu khawatir. Kecuali jika gangguan ini sudah terlalu sering sehingga memengaruhi kualitas hidup mereka, maka perlu sedikit diwaspadai.
Misalnya saja Anda merasakan getaran mirip ponsel ini setiap waktu hingga mengganggu konsentrasi kerja atau ketika presentasi di meeting kantor. Maka satu-satunya cara mengatasinya adalah 'membiasakan' kembali tubuh untuk mengirimkan respon yang 'normal'. Caranya, dengan mengurangi penggunaan ponsel atau membatasi membawanya kemanapun Anda pergi. (hst/hst)











































