Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus <i>Liquid Diet</i>

Target Turunkan Berat Badan Dalam Sebulan, Amankah dengan Liquid Diet?

wolipop
Jumat, 14 Mar 2014 16:17 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Arina Yulistara/Wolipop
Jakarta - Sebagian wanita pernah mengikuti tren diet penurunan berat badan hanya dengan mengonsumsi cairan tanpa makanan padat atau yang disebut liquid diet. Sayangnya diet ini tidak dianjurkan untuk menurunkan berat badan.

Selain memberikan dampak negatif untuk tubuh ketika dilakukan terus menerus juga bisa berisiko terkena penyakit. Bagaimana bila diet ini hanya dijalani dalam sebulan bukan untuk jangka panjang? Apa boleh dilakukan? Pakar diet Emilia E. Achmadi MS. RD., tetap menegaskan untuk tidak menjalani liquid diet walaupun hanya satu bulan.

"Saya tetap tidak anjurkan seperti itu karena ini adalah proses yang tidak sehat. Mungkin efek negatif secara fisik kalau liqud diet itu dilakukan dalam jangka pendek tidak terlalu besar tapi dampak secara psikologis si orang ini, apakah dia akan hidup sehat setelah liquid diet-nya selesai? Hampir selalu tidak akan mengubah pola makannya," ungkap Emilia kepada Wolipop di Pondok Indah Mall, Selasa (11/3/2014).

Selain itu, liquid diet bisa mengganggu mobilitas makanan dari mulut hingga lambung karena terbiasa mengonsumsi makanan dalam bentuk cairan. Ketika diberikan asupan padat maka otot-otot untuk menelan mulai dari mulut melemah yang bisa membuat Anda tersedak.

Oleh karena itu, wanita 44 tahun ini menyarankan agar sebaiknya diet dengan mengikuti aturan makan yang sehat. Pola makan yang seharusnya dilakukan tiga kali sehari dengan dua kali camilan. Dengan demikian maka tubuh tidak akan mengalami fase kelaparan.

Saat tubuh tidak kelaparan itu tandanya gula darah stabil antara 90 sampai 140. Gula darah yang stabil juga mempengaruhi hormon supaya tidak kalap makan. Berbeda ketika Anda merasa terlalu lapar yang membuat tubuh bersiap menumpuk lemak sehingga asupan makan secara alami menjadi tidak terkontrol. Ini yang akan memicu berat badan bertambah.

"Kalau kita kelaparan makannya kalang kabut, hormonnya sudah siap buat makan semua makanan. Kalau kita makan terlalu banyak itu juga bahaya karena akan merusak pencernaan karena kapasitas lambung terlalu penuh," tutur wanita yang sudah menjadi pakar diet sejak 1993 itu.


(aln/fer)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads