Intimate Interview
Evita Zoraya, Tingkatkan Kualitas Hidup Lewat Aromaterapi
Hestianingsih - wolipop
Selasa, 23 Jul 2013 10:16 WIB
Jakarta
-
Profesi aromatherapist masih terbilang jarang di Indonesia. Perlu keahlian khusus untuk menjadikan wewangian sebagai terapi untuk menenangkan pikiran bahkan membantu menyembuhkan penyakit. Evita Zoraya, adalah satu di antara sedikit orang yang serius menekuni dunia tersebut.
Sebelum menjadi aromatherapist, Evita sempat mengalami tantangan hidup yang cukup berat. Masalah yang menyebabkan stres kerap menghampirinya hingga sampai pada satu titik, ia sadar harus membuat suatu perbaikan dalam hidup. Wanita berusia 41 tahun ini pun akhirnya menemukan solusi lewat aromaterapi.
"Pertama untuk diri sendiri dulu awalnya. Aku lihat mamaku sakit, ada masalah di keluarga, stres. Lalu aku belajar bagaimana wewangian juga bisa meningkatkan kualitas hidup dan membawa perbaikan. Sakit bukan hanya fisikal tapi banyak faktor. Karena stres, karena tidak ada keseimbangan dalam hidup," ujar Evita saat berbincang dengan wolipop di klinik miliknya, Scentsibility di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Pada 2007, ibu dua anak ini 'berguru' ke salah satu pakar pengobatan holistik. Ia mengikuti kursus untuk mendapatkan sertifikat sebagai aromatherapist. Waktunya terbilang singkat, yaitu 20 hari namun dengan jam latihan yang intensif setiap hari.
Setelah selesai pelatihan dan mendapatkan sertifikat, Evita tidak lantas membuka praktek. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, belajar aromatherapist berawal dari keinginannya memperbaiki diri sendiri. Lama kelamaan keahliannya tersebut juga dicoba pada beberapa teman dekatnya.
"Awalnya teman-teman dekat yang coba, lalu mereka merasakan ada perubahan di kualitas hidup. Tadinya gampang stres kemudian secara emosional jadi bisa lebih stabil dan kalem. Yang awalnya nggak bisa fokus jadi lebih fokus. Akhirnya mereka rekomen ke teman-temannya lagi. Dari situ akhirnya buka praktek di rumah, lebih seperti home clinic," cerita Evita.
Belajar aromaterapi bukan tanpa kendala bagi lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti ini. Banyak hapalan yang harus ia pelajari karena ternyata wewangian tidak sesederhana yang dikira orang selama ini. Ada sekitar 50 jenis aroma dan setiap minyak esensial yang digunakan untuk aromaterapi memiliki bermacam-macam senyawa. Efeknya bagi fisik, mental dan spiritual pun beragam. Misalnya saja mawar dan lavender. Meskipun sama-sama punya efek menenangkan tapi karakteristiknya tetap berbeda.
"Efek menenangkan, tapi menenangkan yang seperti apa? Itu berbeda. Di situ salah satu tantangannya. Tidak mudah karena untuk saya yang sudah suka dunia aromaterapi juga merasa tidak segampang itu," jelasnya.
Ia menjelaskan esensi dari aromaterapi adalah penyembuhan dan pemulihan dari dalam serta luar tubuh. Aromaterapi memiliki efek yang holistik; meliputi fisik, psikis juga spiritual. Segala keluhan yang dirasakan secara fisik sebagian besar berasal dari pikiran dan emosi. Ketika seseorang stres, dia jadi tidak enak makan, kurang tidur dan olahraga. Akhirnya penyakit pun lebih mudah datang.
"Aromaterapi bisa untuk penyembuhan fisik atau psikis. Tapi tidak seperti obat-obatan karena yang terjadi dengan pengobatan medis konvensional, gejala hilang tapi seringkali penyebabnya tidak hilang. Kalau healing aromatherapy gejala tidak langsung hilang tapi lebih cari ke pusatnya. Makanya lebih lihat secara emosional dan spiritual karena awalnya dari situ dulu baru ke fisik," terang wanita yang hobi nonton film untuk mengisi waktu luang ini.
Lima tahun sudah Evita menjalani profesi sebagai aromatherapist. Dari memulai praktik di rumah, kini wanita asal Bogor ini sudah memiliki klinik aromaterapi sendiri yang dikelolanya bersama seorang teman.
(hst/kik)
Sebelum menjadi aromatherapist, Evita sempat mengalami tantangan hidup yang cukup berat. Masalah yang menyebabkan stres kerap menghampirinya hingga sampai pada satu titik, ia sadar harus membuat suatu perbaikan dalam hidup. Wanita berusia 41 tahun ini pun akhirnya menemukan solusi lewat aromaterapi.
"Pertama untuk diri sendiri dulu awalnya. Aku lihat mamaku sakit, ada masalah di keluarga, stres. Lalu aku belajar bagaimana wewangian juga bisa meningkatkan kualitas hidup dan membawa perbaikan. Sakit bukan hanya fisikal tapi banyak faktor. Karena stres, karena tidak ada keseimbangan dalam hidup," ujar Evita saat berbincang dengan wolipop di klinik miliknya, Scentsibility di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah selesai pelatihan dan mendapatkan sertifikat, Evita tidak lantas membuka praktek. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, belajar aromatherapist berawal dari keinginannya memperbaiki diri sendiri. Lama kelamaan keahliannya tersebut juga dicoba pada beberapa teman dekatnya.
"Awalnya teman-teman dekat yang coba, lalu mereka merasakan ada perubahan di kualitas hidup. Tadinya gampang stres kemudian secara emosional jadi bisa lebih stabil dan kalem. Yang awalnya nggak bisa fokus jadi lebih fokus. Akhirnya mereka rekomen ke teman-temannya lagi. Dari situ akhirnya buka praktek di rumah, lebih seperti home clinic," cerita Evita.
Belajar aromaterapi bukan tanpa kendala bagi lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti ini. Banyak hapalan yang harus ia pelajari karena ternyata wewangian tidak sesederhana yang dikira orang selama ini. Ada sekitar 50 jenis aroma dan setiap minyak esensial yang digunakan untuk aromaterapi memiliki bermacam-macam senyawa. Efeknya bagi fisik, mental dan spiritual pun beragam. Misalnya saja mawar dan lavender. Meskipun sama-sama punya efek menenangkan tapi karakteristiknya tetap berbeda.
"Efek menenangkan, tapi menenangkan yang seperti apa? Itu berbeda. Di situ salah satu tantangannya. Tidak mudah karena untuk saya yang sudah suka dunia aromaterapi juga merasa tidak segampang itu," jelasnya.
Ia menjelaskan esensi dari aromaterapi adalah penyembuhan dan pemulihan dari dalam serta luar tubuh. Aromaterapi memiliki efek yang holistik; meliputi fisik, psikis juga spiritual. Segala keluhan yang dirasakan secara fisik sebagian besar berasal dari pikiran dan emosi. Ketika seseorang stres, dia jadi tidak enak makan, kurang tidur dan olahraga. Akhirnya penyakit pun lebih mudah datang.
"Aromaterapi bisa untuk penyembuhan fisik atau psikis. Tapi tidak seperti obat-obatan karena yang terjadi dengan pengobatan medis konvensional, gejala hilang tapi seringkali penyebabnya tidak hilang. Kalau healing aromatherapy gejala tidak langsung hilang tapi lebih cari ke pusatnya. Makanya lebih lihat secara emosional dan spiritual karena awalnya dari situ dulu baru ke fisik," terang wanita yang hobi nonton film untuk mengisi waktu luang ini.
Lima tahun sudah Evita menjalani profesi sebagai aromatherapist. Dari memulai praktik di rumah, kini wanita asal Bogor ini sudah memiliki klinik aromaterapi sendiri yang dikelolanya bersama seorang teman.
(hst/kik)










































