Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Teh Oolong, Teh Kaya Antioksidan dengan Proses Pembuatan Unik

Hestianingsih - wolipop
Kamis, 16 Mei 2013 09:10 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Teh oolong merupakan jenis teh yang tergolong unik. Mulai dari proses pembuatan, citarasa hingga manfaatnya yang beragam untuk kesehatan.

Pembuatan teh yang berasal dari dataran tinggi di pegunungan Wuyi, Fujian, China ini ditemukan sekitar 400 tahun yang lalu. Bisa dibilang jenis teh yang paling 'muda' jika dibandingkan dengan teh-teh lain yang sudah ditemukan sejak 5000 tahun lalu.

Kandungan antioksidan dalam teh oolong terbilang lebih lengkap dibandingkan teh hijau/putih atau teh merah/hitam. Hal itu karena proses pembuatannya yang cukup rumit dan unik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Teh hijau adalah teh yang tidak mengalami proses oksidasi (melibatkan oksigen sehingga warnanya menggelap) sama sekali. Sementara teh hitam 100 persen oksidasi. Nah, teh oolong ini semi oksidasi," jelas pakar teh Ratna Somantri, dalam acara 'Oolong Tea' yang diadakan Suntory Garuda di Cafe Aria, Gedung Panin Pusat, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (15/05/2013).

Perbedaan proses pembuatan masing-masing jenis teh akan menghasilkan komponen antioksidan yang berbeda pula. Teh hijau/putih kaya akan polifenol yang baik untuk memelihara kesehatan dan kelenturan kulit. Namun tidak mengandung theaflavin dan thearubigin seperti pada teh merah/hitam yang mengalami proses oksidasi. Dua antioksidan ini baik untuk mencegah tekanan darah tinggi dan berkhasiat sebagai proteksi terhadap kanker.

Sebaliknya, karena telah 100 persen mengalami oksidasi, teh merah/hitam kehilangan kandungan polifenol sehingga tidak memberikan manfaat perlindungan untuk kulit. Pada oolong tea yang didapatkan dari proses semi oksidasi, masih memiliki polifenol juga theaflavin dan thearubigin.

"Teh oolong punya dua-duanya yang tidak dimiliki teh hijau atau teh hitam," ujar Nutrisionist Emilia E. Achmadi MS., RD.

Seperti apa uniknya pembuatan teh yang berasal dari zaman Dinasti Ming ini? Ini penuturan Ratna, yang mendalami dunia teh sejak tahun 2003.

"Di negara asalnya, teh dipetik mulai pukul 7 pagi. Hanya 3-5 pucuk daun teratas yang diambil karena antioksidannya paling tinggi, harum dan lebih manis," ujar Ratna.

Setelah dipetik, daun-daun teh dilayukan dengan dua tahap. Pertama dijemur di bawah sinar matahari selama 1,5 - 2 jam. Pada tahap ini daun harus dibolak-balik agar layunya merata dan tidak merusak kualitas teh. Pelayuan berikutnya dilakukan di dalam ruangan dan didiamkan selama 8 - 12 jam.

Proses selanjutnya daun-daun tersebut di-shaking di anyaman yang permukaannya agak runcing. Tujuannya agar daun sobek atau terkoyak. Saat inilah terjadi proses oksidasi. Kemudian oksidasi dihentikan dengan cara dipanaskan di atas wajan sambil diaduk dengan tangan. Pada teh merah/hitam, oksidasi tidak dihentikan sehingga warnanya hitam.

Kemudian daun teh menjalani proses kneading (dihancurkan dengan cara digosok menggunakan tangan) agar aromanya keluar. Terakhir adalah baking (dipanaskan kembali) agar oksidasi benar-benar berhenti. Kemudian didapatlah daun teh kering yang siap diseduh.

(hst/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads