Bahaya Makan Junk Food Bagi Kesuburan Wanita

Karina Mahardi - wolipop Kamis, 11 Okt 2012 17:00 WIB
Dok. ist Dok. ist

Jakarta -

Makanan cepat saji yang mudah didapatkan dan rasanya nikmat seringkali menjadi penyesalan setelah dikonsumsi, khususnya bagi wanita. Bagi Stephanie King, kecanduannya terhadap makanan cepat saji selama 4 tahun membuatnya nyaris tidak bisa menjadi seorang ibu.

Wanita asal Kirkcaldy, Fife, Inggris tersebut mulai kecanduan makanan cepat saji saat dirinya bekerja di gerai McDonald's saat berusia 16 tahun. Saat baru mulai bekerja Stephanie bertubuh normal dengan ukuran pakaian 12, namun akibat jatah makan tiga kali sehari dari tempatnya bekerja maka beratnya bertambah sekitar 50 kg dan ukuran pakaiannya meroket menjadi ukuran 24.

Wanita berusia 22 tahun itu pun menjadi kecanduan memakan junk food sehingga kalori yang dikonsumsinya per hari adalah 4000 kalori, dua kali lipat dari jumlah kalori per hari yang dianjurkan untuk wanita.

Saking kecanduannya, saat itu Stephanie tidak mau makan makanan apapun selain makanan cepat saji. "Bahkan saat saya sedang tidak bekerja, saya menyingkirkan masakan rumahan dan membeli Quarter Pounder (sebuah merek hamburger)," ujarnya kepada The Sun.

Awalnya Stephanie merasa baik-baik saja, sampai akhirnya pada usianya yang ke-20 siklus menstruasinya berhenti. Merasa khawatir, Stephanie memeriksakan kondisinya tersebut ke dokter dan mengetahui bahwa pola makannya yang tidak sehat itu dapat membuatnya tidak bisa hamil. Selain itu, kandungan gula pada makanan cepat saji juga mempengaruhi perubahan mood ekstrem yang dialaminya.

Setelah itu, Stephanie pun merubah pola makannya dan bergabung dengan sebuah pusat penurunan berat badan bernama Scottish Slimmers. Usahanya tidak sia-sia, kini Stephanie memiliki berat badan 66 kg dan memakai pakaian ukuran 10. Stephanie pun berhenti dari pekerjaan lamanya dan tidak pernah menyentuh makanan cepat saji lagi.

Selama proses penurunan berat badan, Stephanie selalu didukung oleh kekasihnya Fraser yang menerimanya apa adanya. Kini keinginan sepasang kekasih itu untuk memiliki keturunan dapat terkabul dan mereka berencana untuk melangsungkan pernikahan tahun 2014 mendatang. "Sekarang saya merasa semangat bukannya ketakutan tentang jalan menyusuri lorong di hari pernikahan saya," tutur Stephanie.


(fer/fer)