Kebiasaan Bernapas yang Salah Bisa Sebabkan 'Lemot'
Mega Agnesty Anjasmoro - wolipop
Rabu, 23 Nov 2011 17:24 WIB
Jakarta
-
Fiona Troup, seorang fisioterapis di Six Physio London, menjelaskan orang dewasa sehat bernapas sekitar 10-14 napas per menit, tetapi beberapa orang bernapas 20 kali atau lebih. Hal ini dapat menyebabkan perasaan kehabisan napas dan berbagai gejala lain seperti kesemutan di jari dan sekitar bibir, kelelahan, serta ketidakmampuan untuk berkonsentrasi alias 'lemot'.
Dikutip dari Daily Mail, gejala tersebut merupakan tanda Anda bernapas melalui mulut bukan melakukan pernapasan lebih dalam melalui hidung. Hal ini menyebabkan penurunan tingkat karbondioksida dalam darah, sehingga oksigen tidak bisa dilepaskan ke otot dan organ. Komplikasi lainnya juga menyebabkan kejang otot. Jika otak kekurangan kadar oksigen yang cukup, dapat menyebabkan kebingungan dan pusing.
"Napas cepat pada dasarnya adalah sebuah kebiasaan buruk, yang sering terjadi saat sedang stres, nyeri punggung atau leher, trauma emosional atau operasi," kata Fiona.
Stephen Spiro, profesor University College London Hospitals dan wakil deputi British Lung Foundation, menyatakan bahwa bernapas terlalu cepat seharusnya tidak memiliki implikasi jangka panjang terhadap kesehatan. Namun bernapas terlalu cepat dan sesak napas bisa menjadi tanda penyakit paru-paru, terutama asma dan bronkitis. Dengan kondisi seperti ini, saluran udara di paru-paru menyempit, sehingga membuat udara susah keluar-masuk.
Fiona menambahkan, "Jika dokter tidak menemukan penyakit dalam diri Anda, dan bernapas terlalu cepat hanya kebiasaan Anda, maka Anda bisa dirujuk ke fisioterapis untuk melatih pernapasan Anda agar normal kembali."
(fer/hst)
Dikutip dari Daily Mail, gejala tersebut merupakan tanda Anda bernapas melalui mulut bukan melakukan pernapasan lebih dalam melalui hidung. Hal ini menyebabkan penurunan tingkat karbondioksida dalam darah, sehingga oksigen tidak bisa dilepaskan ke otot dan organ. Komplikasi lainnya juga menyebabkan kejang otot. Jika otak kekurangan kadar oksigen yang cukup, dapat menyebabkan kebingungan dan pusing.
"Napas cepat pada dasarnya adalah sebuah kebiasaan buruk, yang sering terjadi saat sedang stres, nyeri punggung atau leher, trauma emosional atau operasi," kata Fiona.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fiona menambahkan, "Jika dokter tidak menemukan penyakit dalam diri Anda, dan bernapas terlalu cepat hanya kebiasaan Anda, maka Anda bisa dirujuk ke fisioterapis untuk melatih pernapasan Anda agar normal kembali."
(fer/hst)
Fashion
Ingin Tampil Feminin dan Lebih Stylish dengan Bawahan Rok? Cek Koleksi Menariknya di Sini!
Fashion
Pilihan Aksesori Simpel yang Bikin Gaya Kamu Terlihat Lebih Keren
Fashion
Cari Dompet Kulit Awet Biar Bisa Dipakai Lama? Produk dari ROUNN Ini Bisa Jadi Jawabannya
Health & Beauty
Dua Serum PDRN Favorit Banyak Orang, Fokus Regenerasi dan Hidrasi Kulit!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Benarkah Beras Porang Bagus untuk Diet? Ini Fakta dan Manfaatnya
5 Minuman yang Baik untuk Kesehatan Pencernaan, Atasi Perut Kembung
5 Makanan Terbaik untuk Buka Puasa Diet IF, Kenyang Lebih Lama dan BB Turun
Tak Hanya Minyak Berlebih, Ini Penyebab Jerawat di Wajah
Kenali Jenis-Jenis Jerawat dan Cara Merawatnya dengan Tepat
Most Popular
1
Ditangkap Bersama, Kisah Pacaran 20 Tahun Presiden Venezuela & Istri Disorot
2
Fan Bingbing Ungkap Rahasia Awet Muda di Usia 44 Tahun, Pakai 700 Masker
3
Ramalan Zodiak Taurus 2026: Perlahan Bangkit, Perubahan Besar Menanti
4
Benarkah Beras Porang Bagus untuk Diet? Ini Fakta dan Manfaatnya
5
8 Foto Bridesmaid Proposal Ranty Maria, Cantik Pancarkan Aura Calon Manten
MOST COMMENTED











































