Bahaya Microplastic di Pakaian, Ini Bahan Outfit yang Lebih Aman untuk Bumi
Microplastic kini ada di mana-mana, mulai dari mainan, kosmetik, produk pembersih, hingga pakaian. Partikel plastik ini juga ada di udara yang kita hirup, makanan yang kita santap, bahkan di air yang kita minum atau gunakan untuk berenang.
Untuk yang masih awam, microplastic adalah partikel plastik berukuran sangat kecil-lebih kecil dari 5 milimeter-yang berasal dari pecahan plastik berukuran besar atau sengaja dibuat dalam ukuran mikro untuk keperluan industri. Saking kecilnya, partikel ini sulit dilihat dengan mata telanjang.
Partikel ini diduga dapat berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, pencernaan, hingga pernapasan. Beberapa penelitian mengaitkannya dengan risiko infertilitas, kanker usus besar, hingga masalah paru-paru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski ukurannya mini, microplastic bisa ditemukan hampir di setiap aspek kehidupan. Mulai dari mainan, kosmetik, produk pembersih rumah tangga, hingga pakaian. Bahkan, microplastic sudah terdeteksi di udara yang kita hirup, makanan yang kita makan, dan air yang kita minum atau gunakan untuk berenang.
Meski para ilmuwan masih terus meneliti dampak partikel yang ukurannya lebih kecil dari sebutir beras ini pada tubuh dan lingkungan, satu hal yang jelas, meminimalkan paparan microplastic adalah langkah penting yang bisa kita mulai dari sekarang.
Ilustrasi wanita memegang tumpukan pakaian berbahan wol, kashmir dan katun. Foto: Getty Images/PeopleImages |
Salah satu caranya adalah lewat pilihan bahan pakaian yang kita kenakan sehari-hari. Pakaian berbahan sintetis-seperti polyester, nilon, dan akrilik-menjadi salah satu sumber terbesar polusi microplastic. Serat-serat halusnya bisa terlepas saat proses produksi, ketika dipakai, dan terutama saat dicuci.
"Saya hanya membeli pakaian berbahan wol, linen, dan hemp (rami) untuk keluarga saya, karena bahan-bahan ini lebih baik dalam menyerap dan melepaskan keringat di cuaca panas dibandingkan serat sintetis," ujar Joshua Grolman, asisten profesor ilmu material dan teknik di Technion - Israel Institute of Technology, seperti dilansir New York Post.
Serat alami seperti katun, wol, linen, dan hemp berasal dari tumbuhan atau hewan, serta bersifat biodegradable. Artinya dapat terurai secara alami di akhir siklus hidupnya dan kembali ke Bumi tanpa meninggalkan jejak polusi.
"Bahan alami akan hancur secara organik, tidak meninggalkan partikel berbahaya bagi lingkungan," jelasnya.
Menurutnya, meski harganya sering kali lebih mahal dibandingkan bahan sintetis, kualitas lebih penting daripada kuantitas ketika kita memilih pakaian untuk digunakan sehari-hari.
Lebih penting lagi, apapun bahan pakaian yang kamu pilih, Joshua menyarankan untuk mengeringkannya dengan cara diangin-anginkan atau dijemur. Cara ini tidak hanya mengurangi kerusakan serat (dan mencegah lepasnya microplastic), tetapi juga membuat pakaian lebih awet.
(hst/hst)
Elektronik & Gadget
HUAWEI WATCH FIT 4 Series, Smartwatch Premium Favorit Banyak Orang!
Health & Beauty
Makeup Nempel Seharian dengan 3 Setting Spray Andalan untuk Hasil Flawless Anti Geser!
Fashion
Banyak yang Repeat Order! Pilihan Celana Pendek dari Hi Girls Label Ini Bikin Nyaman Dipakai Seharian
Fashion
Naik Level di 2026! Selain Praktis, Pilihan Dress Ini Bikin Tampilan Kamu Langsung Rapi dan Keren
Deretan Perhiasan Mewah di Karpet Merah Critics' Choice Awards 2026
5 Tren Sepatu 2026 yang Bakal Booming, Terinspirasi Runway Dunia
Kontroversi Boots Rama Duwaji di Pelantikan Mamdani, Dianggap Terlalu Mewah
Hermes Birkin Dijual di Department Store, Tanda Pergeseran Dunia Luxury?
130 Tahun Monogram Louis Vuitton: Sejarah, Inovasi, dan Warisan Abadi
Potret Ira Wibowo Kondangan Bareng Anak, Bak Tak Menua di Usia 58 Tahun
Foto Prewedding Darma Mangkuluhur-DJ Patricia, Anak Tommy Soeharto Siap Nikah
Kim Woo Bin & Shin Min Ah Bulan Madu di Spanyol, Foto Bareng Fans & Bagi TTD
Tren K-Beauty 2026: Dari Bahan Medis hingga Makeup Berbasis Skincare












































