ADVERTISEMENT

Beda Batik Yogyakarta dan Solo untuk Pernikahan Seperti Kaesang dan Erina

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 07 Des 2022 18:30 WIB
Puteri Indonesia DIY 2022 Erina Gudono Ilustrasi Erina Gudono berpose memakai kain batik. Foto: Instagram/@erinagudono
Yogyakarta -

Sarat filosofi hidup, batik menjadi bagian penting dalam rangkaian prosesi adat pernikahan Jawa. Seperti halnya untuk pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono nanti yang berlangsung di Yogyakarta dan Solo, Jawa Tengah.

Di Yogyakarta, daerah asal calon mempelai wanita, sejoli ini akan menggelar prosesi seperti siraman hingga puncaknya akad nikah dan panggih di Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo, Sabtu (10/12/2022). Esok harinya, acara berlanjut dengan Tasyakuran di Pura Mangkunegaran, Surakarta, kota kelahiran Kaesang, putra bungsu Presiden Joko Widodo.

Meski sama-sama berada di Pulau Jawa dan berdekatan, Yogyakarta dan Solo memiliki karakteristik budaya yang berbeda. Namun, dalam hal pemakaian batik untuk prosesi pernikahan, perbedaannya tidak terlalu signifikan. Setidaknya demikian menurut Siti Amieroel Noonsundari, seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Menurut Siti, yang menjabat sebagai Carik Kawedanan Radya Kartiyasa Keraton, pernikahan adat Jawa Yogya menggunakan jenis batik yang bervariasi sesuai prosesinya.

"Kalau di Yogya, acara siramannya dengan kain batik motif grompol. Bentuknya seperti adonan yang menyatu tapi tidak berbentuk bulat halus. Filosofinya lebih kepada penyatuan dua jiwa yang berbeda. Jadi harus tetap bersatu walau bentuknya tidak karuan. Esensinya kita menjadi satu rasa," terang Siti saat ditemui Wolipop di sekitaran Keraton Yogyakarta, Rabu (7/12/2022).

Ilustrasi kain batikIlustrasi kain batik Foto: Getty Images/iStockphoto/apartura

Pengantin memakai kain yang sama di acara siraman yang terpisah. Sementara para orangtua, tambah Siti, kompak dengan batik sidoasih atau truntum. Sidoasih melambangkan kasih sayang, sementara truntum yang bentuknya seperti bunga bermekaran yang melambangkan berseminya rasa cinta dan kebahagiaan.

Untuk prosesi ngerik atau pencukuran rambut di dahi calon mempelai wanita sebagai lambang kesiapan melangkah ke tahapan hidup yang baru, batiknya berbeda lagi. "Bisa batik sidoluhur atau sidomukti yang menggambarkan kegembiraan dan kasih sayang," kata perempuan lulusan Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada itu.

Masuk ke prosesi midodareni, pengantin adat Yogya membungkus tubuhnya dengan batik wahyu tumurun. Bentuk motif yang menyerupai mahkota menyimbolkan harapan agar pemakainya mendapat petunjuk (wahyu) dan rahmat dari Sang Pencipta.

Batik truntum juga lumrah untuk prosesi ucap ijab kabul saat akad nikah. "Tapi ada pula yang memakai motif cakar ayam yang bentuknya seperti titik-titik. Itu doa supaya calon suami diberikan kelancaran rezeki, seperti ayam kalau lagi nyeker langsung dapat makan," jelas Siti.

Sementara itu, orangtua memakai batik truntum saat akad nikah. "Yogya dan Solo hampir sama. Tidak ada perbedaan mencolok. Motifnya hampir sama tapi namanya beda. Contohnya, wahyu tumurun nama Yogya, di Solo kalau tidak salah namanya bledek," tambah Siti.



Simak Video "Ganti Busana! Ini Penampilan Kaesang dan Erina di Tasyakuran Malam"
[Gambas:Video 20detik]
(dng/eny)