ADVERTISEMENT

Polemik Kerudung Pacar Kanye West dan Degradasi Makna Hijab di Prancis

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 02 Feb 2022 08:15 WIB
Julia Fox Julia Fox dan Kanye West di Paris Fashion Week. (Foto: AP/Lewis Joly)
Paris -

Eksistensi kekasih baru Kanye West, Julia Fox, terus berlanjut di Paris Fashion Week. Namun, gayanya baru-baru ini dengan kerudung sempat memicu perdebatan soal kebebasan memakai hijab di Prancis.

Dalam sebuah kesempatan, Julia Fox muncul dalam balutan busana serba hitam dengan kain senada yang dipakai seperti kerudung untuk mentup rambutnya.

[Gambas:Instagram]



Pada Sabtu (29/1/2022), Vogue Prancis secara khusus memajang foto gaya Julia Fox itu di feed Instagram-nya dan memberikan pujian. "Yes to the headscarf!" tulis Vogue sembari menginfokan soal foto-foto deretan gaya perdana Kanye West dan Julia Fox sebagai sejoli baru selama di Paris. Kanye sendiri terlihat memakai balaclavas yang membungkus seluruh kepala.

Namun tak lama, keterangan fotonya berubah. Vogue Prancis menghapus kalimat tersebut setelah kolom Instagram-nya dibanjiri kritikan. Netizen protes karena kata-kata tersebut dinilai sangat menyinggung para muslimat Prancis yang hak untuk berhijabnya 'diharamkan' oleh negara.

Ada yang menyebut Vogue Prancis 'bias'. Tak sedikit pula yang mengkritik majalah fashion tersebut 'berstandar ganda' dan 'munafik'.

"Yes to the headscarf, kata-kata tersebut memang sangat sederhana. Namun di saat bersamaan, kami masih harus memohon, menunggu sambil berangan-angan kapan kami bisa memakainya (hijab) lagi," ujar model sekaligus aktivis Hanan Houachmi kepada CNN.

Menurut wanita keturunan Prancis-Maroko itu, hijab telah mengalami penurunan makna menjadi sekadar aksesori. Pandangan tersebut terbukti saat Julia Fox yang notabenenya berkulit putih dan non-Muslim dapat memakainya dan dipuji sebagai bagian dari 'tren'. Ditambah lagi, katanya, hijab di mata pemerintah Prancis adalah 'seragam kelompok teroris'.

Pada 2011, Prancis menjadi negara pertama di Eropa yang melarang warganya memakai apapun itu yang menutup wajah dan kepala, seperti burka, niqab, dan balaclavas, saat berada di tempat publik. Menyusul kemudian Belanda, Jerman, dan Belgia mengadopsi aturan tersebut.

PARIS - JANUARY 17:  Muslim women demonstrate against the French proposal to bar Muslim women from wearing headscarves in state schools on January 17, 2004 in Paris, France. French President Jacques Chirac asked parliament to ban the wearing of Aksi protes yang digelar pada 2004 untuk menentang usulan pelarangan hijab di Prancis. Pada 2011, Prancis menjadi negara pertama di Eropa yang melarang hijab. (Foto: Getty Images/Pascal Le Segretain)

Tahun lalu, senat Prancis mengusulkan larangan penggunaan hijab untuk perempuan di bawah 18 tahun. Usulan itu didasari atas RUU 'Anti Separatisme' yang diklaim bertujuan untuk mendukung sistem sekuler negara. Namun, kritikus mengecam peraturan tersebut karena dikhawatirkan akan menjadikan populasi muslim sebagai minoritas.

Tak berhenti di situ, hak para atlet Prancis untuk berhijab juga terancam menyusul pengesahan larangan mereka memakai atribut keagamaan tersebut saat berlaga. Presiden Emmanuel Macron telah mengambil sikap dan menyatakan penolakannya.

Larangan berhijab di Prancis menimbulkan permasalahan lain. Diskriminasi salah satunya seperti yang dialami Chaïma Benaicha.

Sejak memutuskan berhijab saat berusia 14 tahun, Chaïma yang tinggal di tenggara Prancis kerap menjadi target perundungan karena hijabnya. "Giliran wanita kulit putih yang memakainya dan bukan seorang Muslim, ini dibilang trendi dan sesuatu yang baru untuk fashion. Walaupun kami memakainya bukan untuk menyenangkan orang lain," kata perempuan 18 tahun itu.



Simak Video "Curhatan Julia Fox Gagal Bikin Kanye West Move On dari Kim Kardashian"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)