Kata Desainer Soal Kontroversi Batik dan Jeans Belel Atta Halilintar 

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 08 Sep 2020 15:42 WIB
Atta Halilintar Atta Halilintar (Foto: Noel/detikHOT)
Jakarta -

Gaya Atta Halilintar memakai kemeja motif batik sedang ramai dibahas di media sosial. Memadukannya dengan celana jeans belel, ia disebut-sebut gagal mengapresiasi batik. Apakah ada aturan pakem yang tak memperbolehkan batik dipasangkan dengan celana tertentu?

Pilihan gaya YouTuber 25 tahun tersebut menjadi kontroversi setelah dipicu oleh komentar akun Twitter milik Putu Rudy Setiawan di cuitan Garuda Indonesia. Unggahan tersebut menampilkan foto Atta Halilintar dalam balutan kemeja batik motif floral dalam nuansa keunguan saat bertemu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Bandara Soekarno Hatta.

"Bila saja busana yang dikenakan Atta itu batik ori, batik hasil karya budaya luhur bangsa, sangat tidak pantas dikombinasikan dengan celana denim belel dan sobek begitu. Jangan pernah lagi pakai batik kalau anda tidak punya kemampuan mengapresiasi batik," tulis pria yang mengaku di profil sebagai dosen teknik sipil di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu.

Cuitan tersebut langsung mengundang berbagai reaksi netizen. Banyak di antaranya menilai pendapat sang dosen terkesan berlebihan. "Lebay pak! Masih mending dia anak muda masih mau pakai batik. Lah adekku disuruh pake batik bilangnya kek ibu-ibu kondangan," tulis seorang netizen.



Pantas atau tidaknya bisa bergantung pada perspektif apa yang mau dipakai untuk menilainya. Setidaknya demikian menurut Nonita Respati, desainer sekaligus pendiri label Purana yang fokus mengangkat keindahan wastra Indonesia, khususnya batik, dengan gaya kontemporer.

"Batik itu soal perspektif. Sebelum batik menjadi bagian dari fashion dan lifestyle, batik dipandang sebagai bagian dari seremoni," kata Nonita kepada Wolipop, Selasa (8/9/2020).

Bicara batik untuk seremoni, lanjut Nonita, berkaitan dengan filosofi sakral yang tersirat dalam motifnya. Terdapat beberapa motif batik klasik yang memiliki peruntukannya tersendiri, terutama dalam budaya Jawa.

"Misalnya batik latar ireng. Itu khusus buat menutup jasad si pemilik kain yang meninggal. Nggak mungkin dipakai untuk kemeja dan buat datang wisudaan atau tunangan. Pasti ditegur," jelas Nonita yang eyangnya dulu pernah memiliki sebuah pabrik batik di Solo, Jawa Tengah.

Nonita menduga, reaksi negatif terhadap batik Atta muncul karena dilihat dengan kacamata tersebut. "Apalagi, motif di kemeja Mas Atta sepintas mirip dengan batik klasik," ungkap Nonita.

Di sisi lain, menurut pengamatan singkatnya pula, kemeja Atta merupakan kombinasi dari batik khas Yogyakarta dan motif pisang Bali.

"Motif lama tapi tergolong baru juga. Dan kalau tidak salah, tidak ada fungsi seremonialnya. Ornamental sifatnya," tambah desainer yang karyanya beberapa kali menemani penampilan mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu.

[Gambas:Instagram]



Terlepas dari konsep seremonial itu, tak bisa dimungkiri bahwa batik turut berevolusi seiring perkembangan zaman agar tetap relevan dengan kebutuhan pemakainya.

Menjadi bagian dari fashion dan lifestyle, muncul berbagai batik dalam ragam motif dan desain yang kekinian. Esensinya sebagai batik tak hilang karena tetap dibuat dengan teknik membatik yang sebenarnya, yakni kain yang dicanting dengan malam (tak diketahui secara pasti apakah kemeja pilihan Atta Halilintar merupakan produk batik asli, cap atau digital-print).

"Dari sisi saya personal, sebagai perancang yang lebih mengeksplorasi batik secara kontemporer, batik dipakai dengan gaya apapun sah-sah saja. Toh yang dilestarikan tekniknya," tutur Nonita.

(dtg/dtg)