Perubahan Radikal Gucci Demi Hadapi Krisis Imbas COVID-19

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 27 Mei 2020 18:07 WIB
ROME, ITALY - MAY 18: A Gucci employee measures the temperature to a customer at the store entrance on May 18, 2020 in Rome, Italy. Museums, restaurants, bars, cafes, hairdressers and other shops have reopened, subject to social distancing measures, after more than two months of a nationwide lockdown meant to curb the spread of Covid-19. Churches are starting to celebrate Mass again, but there will be strict social distancing and worshippers must wear face masks. And citizens will no longer be required to justify their movements with self-certification. (Photo by Marco Di Lauro/Getty Images) Suasana di depan salah satu butik Gucci di Roma, Italia, menyusul pandemi COVID-19. (Foto: Getty Images/Marco Di Lauro)
Milan -

Industri fashion dunia ikut bergejolak karena pandemi COVID-19. Untuk menghadapinya, Gucci melakukan perubahan radikal agar mampu bertahan di tengah krisis.

Perubahan tersebut antara lain mengurangi jadwal fashion tahunan rumah mode berbendera Italia itu. Bila biasanya Gucci yang berada di bawah naungan Kering itu bisa menggelar lima fashion tahunan kini koleksi terbarunya hanya ditampilkan dua kali.

Models wear creations as part of Gucci's Fall/Winter 2020/2021 collection, presented in Milan, Italy, Wednesday, Feb. 19, 2020. (AP Photo/Luca Bruno)Direktur Kreatif Gucci Alessandro Michele di fashion show Gucci Fall/Winter 2020/2021 yang digelar dalam rangkaian Milan Fashion Week pada Februari 2020. (Foto: AP Photo/Luca Bruno)



Direktur Kreatif Gucci Alessandro Michele mengumumkannya dalam sebuah 'catatan harian' bernada puitis di Instagram, baru-baru ini. Ia juga memastikan, Gucci tak akan terikat lagi dengan jadwal kalender mode dunia dalam berkarya.

"Kita akan bertemu hanya dua kali setahun untuk berbagi babak di cerita baru. Saya ingin meninggalkan pemikiran lama yang menjajah dunia kita: cruise, pre-fall, spring-summer, fall-winter. Saya rasa itu tidak menyehatkan," ungkap desainer yang pernah bekerja untuk Fendi itu.

Alessandro menambahkan, pandemi COVID-19 seharusnya dilihat sebagai kesempatan bagi industri fashion untuk berbenah diri agar lebih ramah terhadap lingkungan. Industri fashion merupakan salah satu penyumbang terbesar polusi di dunia.

Models wear creations as part of Gucci's Fall/Winter 2020/2021 collection, presented in Milan, Italy, Wednesday, Feb. 19, 2020. (AP Photo/Luca Bruno)Fashion show Gucci Fall/Winter 2020/2021 yang digelar dalam rangkaian Milan Fashion Week pada Februari 2020. (AP Photo/Luca Bruno)



Selama ini, merek-merek ternama dunia mengikuti jadwal kalender mode dunia yang sibuk. Masing-masing koleksi pakaian pria dan wanita memiliki pekan modenya tersendiri, baik itu spring-summer atau fall-winter, dan digelar secara terpisah di empat kota fashion dunia. Belum lagi koleksi antar musim, seperti cruise atau pre-fall.

Orang-orang datang dari segala penjuru dunia datang untuk menghadiri perhelatan tersebut. Alhasil, jejak karbon yang ditinggalkan meningkat.

"Aksi kita yang sembrono telah membakar rumah yang kita tinggali ini. Kita berkarya secara terpisah dari alam dan kita merasa hebat. Kita mengeksploitasi alam, mendominasi lalu melukainya," tegas Alessandro.

Pengurangan jadwal fashion show seperti yang akan Gucci terapkan diharapkan dapat menekan angka polusi.

Menyusul pandemi COVID-19, desainer dan merek mewah lainnya juga menyerukan perombakan besar dalam sistem industri mode dunia. Bulan lalu, Saint Laurent, label milik Kering, mengumumkan akan "mengambil alih kecepatan dan membentuk jadwal fashion sendiri. Sementara itu, menurut desainer senior Giorgio Armani, satu-satunya cara untuk selamat dari krisis ini adalah "memperlambat diri secara bijaksana".



Simak Video "Bikin Baju dari Tas Louis Vuitton dan Gucci, Wanita Filipina Viral"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)