Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Jadi Penutup Manis JFW 2020

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 29 Okt 2019 18:04 WIB
Rancangan Adrian Gan dari ulos antik di Dewi Fashion Knights menutup Jakarta Fashion Week 2020. (Foto: Rachman Haryanto/detikfoto) Rancangan Adrian Gan dari ulos antik di Dewi Fashion Knights menutup Jakarta Fashion Week 2020. (Foto: Rachman Haryanto/detikfoto)
Jakarta - Hari terakhir perhelatan Jakarta Fashion Week (JFW) 2020 di Senayan City tak seperti biasanya. Alih-alih menjelang akhir pekan, JFW tahun ini berakhir pada Senin (28/10/2019) yang juga bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Meski demikian, itu tak mengurangi antusiasme para fashionista untuk menghadiri hari terakhir JFW 2020.

Bukan disengaja, JFW 2020 seharusnya mulai pada 19 Oktober dan ditutup pada Jumat, 25 Oktober. Namun, jadwal dimundurkan untuk memberi kesempatan kepada masyarakat Indonesia merayakan inaugurasi presiden dan wapres RI yang digelar pada 20 Oktober.

Senin di JFW edisi ke-12 ini ibarat 'Manic Monday' di Wimbledon ketika hampir semua pemain tenis ternama dunia bermain pada Senin kedua dalam pekan Grand Slam tersebut. Para fans tenis sungguh menantikan aksi mereka.

JFW pun menyuguhkan deretan karya sejumlah desainer terbaik Indonesia. Puncaknya pada Senin malam di Dewi Fashion Knights (DFK) yang selalu menjadi pamungkas dari ajang terpenting di kalender mode Tanah Air tersebut.



Karya Auguste Soesastro membuka Dewi Fashion Knights di penutupan Jakarta Fashion Week 2020.Karya Auguste Soesastro membuka Dewi Fashion Knights di penutupan Jakarta Fashion Week 2020. (Foto: Rachman Haryanto/detikfoto)
Pertama kali digelar pada 2008, DFK yang merupakan hajatan dari majalah Dewi itu menyuguhkan kreasi para desainer yang 'dikukuhkan' sebagai kesatria mode Indonesia berkat prestasi dan dampak mereka bagi kemajuan industri ini. Sebastian Gunawan, Oscar Lawalata, Ghea Panggabean, Rinaldy A. Yunardi, Barli Asmara, Sapto Djojokartiko, Major Minor dan Toton adalah beberapa nama para kesatria di DFK terdahulu.

Tahun ini, ada empat desainer yang mendapatkan kehormatan tersebut. Mereka adalah Mel Ahyar, Auguste Soesastro, Jeffry Tan dan Adrian Gan. Jumlahnya memang tak sebanyak dulu.

Menurut Pemimpin Redaksi Dewi Margaretha Untoro atau Margie, DFK tahun ini ingin mempertegas kualitas dari para desainer yang terpilih.

"Kalau desainernya terlalu banyak, karya yang ditampilkan hanya sedikit. Dengan hanya memilih empat desainer, mereka bisa memamerkan karya yang lebih banyak. Selain itu, desainer jadi termotivasi untuk bisa lebih mengeksplor kreativitasnya demi menunjukkan kualitas," ungkap Margie kepada Wolipop.

Adapun 'Borderless' menjadi tema DFK tahun ini sebagai refleksi dari perkembangan dunia digital dan kehadiran media sosial yang meruntuhkan tembok-tembok pembatas. Tema tersebut, kata Margie, juga merepresentasikan konsep gender yang sekarang menjadi lebih fluid dan sudah tak bisa lagi dikotak-kotakkan antara pria dan wanita.
Foto: Rachman Haryanto/detikcom

Masing-masing desainer pun memaknai 'Borderless' dengan cara dan gayanya tersendiri. Auguste Soesastro membuka DFK tahun ini dengan 14 busananya yang bertajuk 'Javanese Invasion'. Membawa label Kraton, Ia menginterpretasikan tema 'Borderless' dengan meleburkan elemen baju adat Jawa dengan tren active wears yang menggema terakhir ini.

Di tangan dingin Auguste, beberapa siluet yang terinspirasi dari baju-baju keraton seperti beskap dan surjan menjelma sebagai parka dan coat berpotongan minimalis yang kekinian khas sang desainer. Di ranah aksesori, desainer yang selalu mengedepankan jahitan yang berpresisi ini menghadirkan sebuah versi modern dari belangkon dalam gaya topi atlet berkuda dan turban.



Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Jadi Penutup Manis JFW 2020Foto: Rachman Haryanto/detikfoto


"Koleksi ini secara garis besar bercerita bagaimana memberikan pengaruh elemen baju Jawa ke baju modern supaya budaya kita tidak hancur," ungkap Auguste.

Adapun semua material untuk koleksi ini dipasok dari produsen yang berkualitas seperti Loro Piana dan Emernegildo Zegna, Taroni dan Gandini. Pilihan tersebut untuk memastikan busananya dapat berusia panjang demi mengurangi limbah fashion.
Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Jadi Penutup Manis JFW 2020Foto: Rachman Haryanto/detikfoto

Konsep eco-fashion juga tercermin pada koleksi Mel Ahyar yang bertajuk 'Skins' di DFK tahun ini. Mel memanfaatkan sisa-sisa bahan dari Byo, label aksesori besutan Tommy Ambiyo Tedji.

"Sebagian terbuat dari limbah yang aku minta dari Byo. Sisa fabrikasi patung yang terbuat mika juga aku ambil. Aku coba untuk no waste dan belajar lebih bertanggung jawab agar koleksiku lebih sustainable," kata Mel.

Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Jadi Penutup Manis JFW 2020Karya Mel Ahyar (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)



Busana ramah lingkungan memang menjadi fokus di JFW 2020. Desainer lulusan ESMOD Paris ini 'menghidupkan' kembali limbah tersebut menjadi varian busana eklektik penuh detail khas Mel. Gaun, varia coat, atasan loose dan rok panjang asimetris menjadi tawaran Mel malam itu.
Karya Mel Ahyar. (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)

Giliran Jeffry Tan yang memaknai 'Borderless' dengan menabrakkan unsur yang saling berseberangan. Ia mencontohkan, elemen yang fluid dipasangkan dengan sesuatu yang struktural, ada pula kombinasi geometris dan spiral. Perbedaan tersebut lantas menciptakan kekontrasan yang unik. Muncul blus feminin dengan lengan panjang 'bergerigih' yang terbuat dari gabungan bahan berbentuk potongan segitiga kecil.

Untuk koleksi ini, Jeffry Tan juga bermain dengan 'cross-dressing. Di saat model perempuan tampil maskulin dengan padanan kemeja dan celana panjang, model pria muncul dalam balutan terusan panjang kuning. Atas nama fashion, semua bebas berekspresi terlepas dari gender apapun.
Rancangan Jeffry Tan. (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)

Karya perancang senior Adrian Gan lalu menutup DFK 2019 di JFW 2020 dengan kain-kain ulos antik yang menawan.

"Kain ulos yang saya pakai ini dari (kolektor dan perancang) Torang Sitorus. Kainnya sangat antik dan sangat rapuh," kata Adrian Gan.

Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Jadi Penutup Manis JFW 2020Karya Adrian Gan (Foto: Rachman Haryanto/detikfoto)

Ia menghadirkan kain tersebut dengan teknik draperi sehingga tak merusaknya. Kain kuno tersebut seolah seperti lahir kembali dengan padanan busana ber-twist kekinian. Muncul pula oversized A-line dress hitam dengan bahu berbentuk kipas yang unik.

Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Jadi Penutup Manis JFW 2020Foto: Rachman Haryanto/detikfoto


"Saya biasanya membuat pakaian berdasarkan kemauan klien. Untuk koleksi ini, saya mau sebebas-bebasnya berekspresi," ujar sang desainer.

Reinkarnasi Limbah dan Ulos Antik Jadi Penutup Manis JFW 2020Foto: Rachman Haryanto/detikfoto
Halaman
1 Tampilkan Semua

(dng/hst)