Kain Ramah Lingkungan Indonesia dari Kulit Jengkol Diminati Pasar Kuwait

Daniel Ngantung - wolipop Jumat, 25 Okt 2019 08:38 WIB
Koleksi Humbang Kriya x Purana dan Windy Chandra di Jakarta Fashion Week 2020. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto) Koleksi Humbang Kriya x Purana dan Windy Chandra di Jakarta Fashion Week 2020. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto)

Jakarta - Peragaan busana label Purana mewarnai hari ketiga Jakarta Fashion Week (JFW) 2020, Kamis (24/10/2019). Seperti tahun sebelumnya, fashion show Purana kali ini merupakan buah kolaborasi dengan Humbang Kriya yang merupakan kelompok perajin kain khas Sumatera Utara binaan Rumah Kreatif Sinar Mas.

Dalam debut kolaborasi mereka di JFW 2019, Purana dan Humbang Kriya memperkenalkan kain tie-dye atau celup sebagai bagian dari wastra khas Sumatera Utara (Sumut) selain ulos, dalam koleksi bertajuk bertajuk 'Humbang Shibori x Purana'.


Kain Ramah Lingkungan Indonesia dari Kulit Jengkol Diminati Pasar KuwaitKoleksi Humbang Kriya x Purana (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto)
Kata Humbang diambil dari nama Humbang Hasundutan, sebuah kabupaten di Sumut, lokasi dari Rumah Kreatif Sinar Mas yang menaungi para perajin celup ikat tersebut. Sementara 'shibori' adalah sebutan teknik celup ikat dalam bahasa Jepang.

Dulu, teknik tie-dye sempat berkembang di kawasan Toba. Disebut 'Uis Batujala', teknik tersebut diaplikasikan pada kain ulos. Kejayaan teknik tie-dye dari Tanah Batak perlahan memudar seiring kepopuleran ulos versi tenun.
Terancam punah, kain tie-dye diangkat lagi oleh Rumah Kreatif Sinar Mas. Bermula dari pelatihan teknik tie-dye berbasis ramah lingkungan oleh desainer Merdi Sihombing untuk perajin lokal pada 2016, sampai akhirnya berujung pada kolaborasi dengan Purana.

Kain Ramah Lingkungan Indonesia dari Kulit Jengkol Diminati Pasar KuwaitKoleksi Humbang Kriya x Purana (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto)

Di tangan Nonita Respati, desainer sekaligus pendiri Purana, kain tie-dye Humbang Shibori menjelma dalam koleksi busana kekinian bernapas urban dengan permainan teknik layering dan twist potongan asimetris yang modern.

Humbang Kriya memakai kain berbahan dasar alami seperti katun, linen dan sutera dengan pewarnaan alami. Bahan pewarnaan terbuat dari dari kulit biji kopi, kayu meranti sisa pembuatan mebel, kulit kayu putih dan jati, tanaman hisik-hisik, sanduduk hingga kulit jengkol. Tak disangka Nonita, koleksi tersebut menarik atensi buyers dari Kuwait.

Kain Ramah Lingkungan Indonesia dari Kulit Jengkol Diminati Pasar KuwaitKoleksi Humbang Kriya x Purana (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto)

"Kaget juga ada buyers Kuwait yang tertarik sama busana sustainable. Kalau ngomong Kuwait yang notebenenya negara Timur Tengah, pasarnya lebih condong ke baju-baju yang penuh detail beading dan sebagainya," kata Nonita kepada Wolipop jelang peragaan di JFW 2020.

Nonita menduga, informasi 'eco-friendly' yang tertera pada label di setiap busana membuat pembeli di Kuwait tertarik memakai koleksi tersebut. Tak hanya sekali, buyers tersebut memesan koleksi perdana Humbang Shibori x Purana berulang kali. "Mereka sudah repeat-order. Ada 11 artikel yang bisa dibuat sampai 50 kali," kata Nonita yang baru-baru ini berbagi pengalamannya sebagai desainer yang bergelut dengan kain tradisional dalam sebuah forum di Afrika Selatan.

Melanjutkan kesuksesan tersebut, Nonita dan Humbang Kriya mempersembahkan koleksi terbaru dalam tema 'Laboring Love, Weaving Hope'. Selain tie-dye, eksplorasi merambah teknik batik dan ecoprint. Total terdapat 48 look yang disajikan. Didominasi palet alam yang cenderung kelam seperti hijau lumut atau coklat tanah, koleksi tetap terasa lebih 'hidup' dengan kombinasi kuning mustard.

Kain Ramah Lingkungan Indonesia dari Kulit Jengkol Diminati Pasar KuwaitKoleksi Humbang Kriya x Purana (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto)

Konsep busana hybrid yang juga diterapkan pada koleksi sebelumnya juga menjadi daya tarik. Terdapat busana yang bisa dipakai dalam beberapa cara. Dengan opsi pemakaian yang beragam, pembeli tak perlu lagi membeli baju baru sehingga bisa meminamilisir limbah fashion.

Hadir varian atasan A-line yang berpadu apik dengan celana longgar bergaya resort yang rileks. Sesekali, terselip crop-top bagi mereka yang mau tampil seksi. Pada bagian akhir, juga muncul gaun hitam dengan rok menerawang yang dihiasi potongan kain ecoprint berbentuk bunga.

Selain Purana, naik pentas pula karya Windy Chandra yang juga terbuat dari kain-kain 'eco-friendly' buatan perajin Humbang Kriya. Mengolah kain tersebut lantas memberi tantangan tersendiri bagi Windy yang dikenal sebagai desainer gaun bridal atau pengantin.

"Cukup menantang karena kain yang dipakai panjangnya cuma 1-2 meter," ungkap Windy yang mengangkat tema 'Midnight in Manhattan' untuk koleksi tersebut.

Kain Ramah Lingkungan Indonesia dari Kulit Jengkol Diminati Pasar KuwaitKoleksi Humbang Kriya x Windy Chandra (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto)


Hasilnya, deretan busana cocktail dan evening wear dengan rasa ramah lingkungan. Untuk menambahkan kesan glamor, Windy mengaplikasikan detail beading yang berkilauan.

Hasil penjualan koleksi Humbang Kriya x Windy Chandra sepenuhnya akan didonasikan untuk program pendidikan di Mokndoma, sebuah daerah pedalaman di Papua.


Direktur PT Asuransi Sinar Mas Dumasi MM Samosir Wongso berharap, koleksi ini dapat membuka wawasan masyarakat lebih lagi tentang eco fashion yang berkearifan lokal sekaligus berdampak positif bagi perekonomian anggota binaan.

"Selain sustainability, kesejahteraan para perajin kain ramah lingkungan yang diberdayakan ini juga semakin membaik sehingga meraka bisa hidup lebih mandiri," tutur Dumasi.

Kain Ramah Lingkungan Indonesia dari Kulit Jengkol Diminati Pasar KuwaitDesainer Nonita Respati dari Purana, Direktur PT Asuransi Sinar Mas Dumasi MM Samosir Wongso dan desainer Windy Chandra di JFW 2020, Kamis (24/10/2019). (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto)


Simak Video "Pede Abis! Aksi Catwalk Anak Down Syndrome di JFW 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(dng/hst)