Curhat Buruh Pabrik Indonesia yang Digaji Rendah oleh Brand Ivanka Trump

Rahmi Anjani - wolipop Rabu, 14 Jun 2017 17:05 WIB
Foto: REUTERS/Kevin Lamarque
Jakarta - Sebelumya, tersiar kabar jika pabrik yang memproduksi barang brand Ivanka Trump mengalami masalah hingga harus diinvestigasi. Diberitakan jika perusahaan itu melanggar peraturan dan menyebabkan dua orang yang menyelidikinya hilang.

Tampaknya, pabrik anak Donald Trump ini memang sedikit bermasalah. Karena baru-baru ini terungkap fakta mengejutkan lainnya. Disebutkan jika para pekerja pabrik di Indonesia yang memproduksi barang untuk brand Ivanka Trump digaji kurang layak.

Ternyata sebagian barang keluaran brand Ivanka Trump diproduksi di Indonesia di bawah PT Buma Apparel Industry. Perusahaan garmen milik orang Korea itu terletak di Subang, Jawa Barat, Indonesia. Dilansir Guardian, para pekerja di sana mengalami masalah dengan pembayaran. Dikatakan jika mereka tidak mendapatkan upah yang rendah. Pabrik pun menolak untuk membayarkan THR di bulan Ramadan. Mereka juga dikabarkan sering tak dibayar saat harus lembur kerja.

Baca Juga: Jadi Asisten Presiden di Gedung Putih, Ivanka Trump Tak Akan Dibayar

Salah satu pekerja bernama Alia (nama samaran) pun curhat mengenai ketidaknyamanannya bekerja di sana. Ia mengungkap jika meski sudah lama bekerja untuk pabrik Ivanka Trump tersebut, tidak ada peningkatan finansial sehingga keluarganya tetap harus hidup di bawah kemiskinan. Alia dikatakan digaji Rp 2,3 juta yang merupakan standar penghasilan terendah di Indonesia.

Selain digaji rendah, suami Alia yang sama-sama bekerja di pabrik itu dan beragama Islam juga mengalami konflik dengan kebijakan Trump mengenai pelarangan orang Islam masuk Amerika. Meski begitu, tentu Ahmad tidak bisa berbuat apa-apa. "Kami tidak suka dengan kebijakan Donald Trump. Tapi kami tidak dalam posisi yang bisa membuat keputusan perusahaan berdasarkan prinsip kami," ungkap Ahmad.

Curhat Buruh Pabrik Indonesia yang Digaji Rendah oleh Brand Ivanka TrumpFoto: REUTERS/Kevin Lamarque
Ketika diberitahu mengenai buku Ivanka Trump berjudul Women Who Work, ia pun hanya bisa tertawa. Kemudian ia mengatakan jika mimpinya sebagai wanita karier adalah bisa melihat anaknya lebih dari sebulan sekali. Karena keterbatasan ekonomi, Alia memang harus tinggal dekat pabrik dan menitipkan anaknya pada sang ibu.

Alia tampaknya masih mau bertahan untuk memproduksi barang-barang brand Ivanka Trump. Namun rekannya yang lain bernama Sita mengaku sudah tidak tahan.

Baca Juga: Ivanka Trump Pakai Dress Rp 400 Ribuan, Mulai Merakyat?

"Aku sudah tidak tahan lagi. Aku bekerja lembur tanpa dibayar setiap hari dan mendapat Rp 2,3 juta sebulan. Aku berencana untuk pindah dari Subang di mana standar penghasilan terlalu kecil. Tapi aku tidak tahu mau pergi ke mana. Aku tidak punya koneksi," ungkap Sita.

Dikatakan jika sebenarnya kondisi kerja para buruh pabrik tidak terlalu menyiksa. Mereka mendapat cuti melahirkan tiga bulan, asuransi kesehatan, dan bonus Rp 140 ribuan jika tidak ambil cuti menstruasi. Meski begitu, tetap saja brand fashion Ivanka Trump seharusnya bisa memberi penghidupan yang lebih layak kepada para pekerjanya.

"Tentu aku bangga membuat busana untuk brand terkenal. Tapi karena aku melihat harganya, aku jadi bertanya-tanya, tidak bisakah mereka membayar kami lebih banyak sedikit," kata pekerja lain bernama Fadli.

Curhat Buruh Pabrik Indonesia yang Digaji Rendah oleh Brand Ivanka TrumpFoto: Getty Images
Mengenai protes para pekerja ini, pihak Guardian telah menghubungi PT Buma untuk meminta komentarnya. Seorang wakil PT Buma mengatakan jika dia ada orang di pihaknya yang ingin memberi pernyataan. Ketika menghubungi Gedung Putih, staff Public Relation perusahaan fashion Ivanka Trump juga menolak berkomentar.

Namun supplier brand Ivanka Trump G-III Apparel bersedia memberikan pernyataan. "G-III Apparel Group, Ltd. berkomitmen pada kepatuhan hukum dan praktek bisnis yang etis dalam semua operasi kami di seluruh dunia. Kami mengharapkan dan meminta hal yang sama kepada rekan bisnis kami di dunia. Kami mengaudit dan menginspeksi fasilitas produksi vendor kami dan etika ada masalah kami bekerja dengan rekan kami untuk mengoreksinya segera," kata perwakilan G-III. (ami/ami)