Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Laporan dari Melbourne

Fashion Modest Indonesia Mulai Dilirik Pasar Australia

Alissa Safiera - wolipop
Selasa, 14 Mar 2017 19:18 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Alissa Safiera
Jakarta - Industri mode lokal semakin menunjukkan geliatnya dari tahun ke tahun. Beberapa negara mode dunia mulai terbuka dengan fashion Indonesia, salah satunya di Kota Melbourne, Australia.

Kota yang dikenal dengan cuacanya yang tak menentu ini menjadi pasar yang potensial bagi para desainer ataupun pebisnis modestwear lokal. Terbukti dengan terpilihnya label Etu dari desainer modestwear Restu Anggraini yang menampilkan karya hijab perdana di pekan mode Australia, Virgin Australia Melbourne Fashion Festival (VAMFF) tahun 2016 lalu.

Bukan hanya Etu, tahun ini kembali desainer modestwear, yaitu I.K.Y.K, Anandia Putri yang maju menampilkan koleksi teranyar di VAMFF 2017. Lantas, seperti apa pesona pasar Australia di mata desainer hijab?
Fashion Modest Indonesia Mulai Dilirik Pasar AustraliaFoto: Alissa Safiera

Desainer Dian Pelangi mengatakan industri fashion modest lokal berkembang pesat di sana. VAMFF sebagai wadah menampilkan karya di mata dunia, menghadirkan akulturasi antara hijab dengan fashion.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari aku pertamakali berkarier, aku sudah keep an eye kepada Australia untuk ekspansi bisnis. Tahun 2008 itu adalah pertamakali aku fashion show saat baru menghandle label Dian Pelangi, aku juga sangat memerhatikan fashion mereka, yang pasti di sini sudah sangat hijab-friendly" kata Dian Pelangi kepada Wolipop di tengah kegiatan Wardah Fashion Journey di Melbourne, Australia, Selasa (14/3/2017).
Fashion Modest Indonesia Mulai Dilirik Pasar AustraliaFoto: Alissa Safiera

Pun ditimpali desainer Barli Asmara. Menurutnya perkembangan fashion hijab di dunia bukan hanya besar di negeri sendiri ataupun Australia, namun juga berbagai negara dunia.

"Mereka mulai memerhatikan modestwear, bisa dibilang ini adalah industri yang baru masuk di sini. Mereka juga ingin mengedukasi tentang fashion modest lewat VAMFF sebagai wadahnya," terang Barli.

Perkembangan modestwear yang tinggi di Australia tentu menjadi peluang luar biasa bagi desainer lokal. Warga Australia juga memiliki gaya yang senada, dideskripsikan oleh Dian adalah ready to wear, kasual, ringan, namun tetap chic. Barli menambahkan bila koleksi yang menarik di mata penikmat mode Melbourne adalah fashion yang universal dan menghadirkan mix and match yang kuat.

Meski potensinya besar, ada beberapa kendala yang biasa dihadapi para desainer lokal. Masalah utama terletak pada shipping. Biaya ekspor yang tak murah kerap jadi kendala oleh para desainer untuk menentukan harga.

Penyesuaian musim dengan gaya busana juga wajib dipertimbangkan mengingat Melbourne adalah kota yang 'labil' cuacanya. Penggunaan material berkualitas tinggi menjadi nilai jual di sini. Misalnya Anandia Putri dari I.K.Y.K yang mengaku memakai bahan woll untuk menyiasati perubahan musim yang ekstrem.

Menurutnya bahan ini dapat menyimpan panas saat dingin dan terasa dingin di cuaca panas. Etu juga memberi teknologi baru di karyanya yang dipamerkan tahun lalu di Melbourne, yakni busana dengan bahan teknologi tinggi yang dinamakan Ultrasuede. Material ini dibuat dengan teknologi ultra-microfiber untuk menandingi kualitas bahan kulit asli. Material yang juga dipakai label ternama seperti Halston Heritage, Issey Miyake, Uniqlo hingga Prada.

Desainer lokal dan pemerintah sebelumnya telah gencar mempromosikan industri fashion hijab dan moslemwear. Melihat perjalanan moslemwear yang semakin mendunia, tampaknya semakin dekat angan-angan desainer serta pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat busana muslim di tahun 2020. (asf/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads