Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Bordir Kerancang Kudus, Dari Penghias Taplak Meja Jadi Gaun Malam Indah

Hestianingsih - wolipop
Senin, 06 Feb 2017 09:09 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Foto: Hestianingsih/Wolipop
Jakarta - Bordir kerancang gunting selama ini lebih populer sebagai ornamen penghias kebaya atau taplak meja. Tapi siapa sangka, kerajinan khas Kabupaten Kudus ini ternyata bisa tampil lebih kekinian di tangan para desainer.

Adalah Rudy Chandra, Ariy Arka, Defrico Audy dan Ivan Gunawan yang mengkreasikan ulang bordir kerancang Kudus sehingga bisa mengisi panggung mode Ibu Kota dengan bentuk yang baru. Lewat tangan-tangan dingin mereka, terbukti bila kerajinan tangan tradisional ini bisa tampil lebih global.
Bordir Kerancang Kudus, Dari Penghias Taplak Meja Jadi Gaun Malam IndahFoto: Foto: Hestianingsih/Wolipop

Keempat desainer berkolaborasi dengan para perajin bordir kerancang gunting asal Kudus menciptakan koleksi busana bertema Savana Muria: The Authentic Kudus Embroidery, yang Minggu (5/2/2017) malam sukses ditampilkan di Indonesia Fashion Week 2017, Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat. Penonton dibuat berdecak kagum bagaimana bordir kerancang gunting dikreasikan sedemikian rupa menjadi busana ala Parisian hingga bernuansa edgy.

Rudy Chandra membuka peragaan dengan 16 set busana serba putih berpotongan simpel dengan aura feminin yang kental. Bordir kerancang gunting hadir sebagai aksen pada celana pipa, rok pensil, blouse hingga gaun malam. Gaya wanita Paris cukup kental dalam koleksi ini; chic, feminin sekaligus elegan. Untuk koleksi ini, Rudy terinspirasi dari keindahan gunung Muria di Kudus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Rancangan ready to wear kali ini terinspirasi dari bentuk bunga-bunga seruni yang tumbuh di pegunungan Muria. Selain bunga ada juga kupu-kupunya jadi saya angkat itu. Cutting-nya simpel, feminin, elegan. Tujuan dari show ini memang mengangkat seni bordir," tutur Rudy saat konferensi pers sebelum peragaan.
Bordir Kerancang Kudus, Dari Penghias Taplak Meja Jadi Gaun Malam IndahFoto: Foto: Hestianingsih/Wolipop

Lain lagi dengan Ariy Arka yang menampilkan koleksi busana pria. Di tangan Ariy, bordir kerancang menjadi terlihat edgy sekaligus eklektik. Ariy mengaplikasikan bordir dalam warna-warna terang, dengan bentuk yang kontemporer mulai dari ayam hingga geometris. Ariy sukses membuktikan bahwa bordir juga bisa diterapkan pada busana pria tanpa terkesan kemayu atau feminin.

Bordiran tiga dimensi bertengger apik di atas rancangan jas, jaket, coat, kemeja sampai celana bernuansa netral seperti beige, hitam, putih dan abu-abu. "Busana pria dikemas young dan enerjik. Di pakaian pria, kerancang Kudus terlihat lebih fun dan futuristik serta bisa dipakai sehari-hari," jelas Ariy.

Kemudian ada Defrico Audy yang mengantarkan nuansa hutan tropis ke panggung IFW 2017 di Plenary Hall JCC. Audy menonjolkan pekerjaan tangan yang sangat detail. Aksen bordir menghiasi hampir seluruh busana dalam bentuk- bentuk flora khas hutan tropis mulai dari pohon bakau, cengkeh, daun tembakau, bunga lotus hingga kupu-kupu.

Karya Audy mengingatkan pada rancangan Valentino yang ultra feminin, namun pada beberapa look terlihat sentuhan maskulin dari rancangan cropped jacket dan potongan tailoring. Sebuah perpaduan yang pas untuk menggambarkan femininitas dan maskulinitas dalam kesatuan harmoni yang indah.

Terakhir adalah karya Ivan Gunawan yang membawa penonton ke 'alam mimpi' nya. Desainer yang akrab disapa Igun ini menerjemahkan mimpinya dengan gaun-gaun bernuansa fantasi yang berwarna-warni. Gaun berpotongan A-line serta ballgown membaluti tubuh para model. Ada pula coat aksen bulu serta setelan blazer dan celana. Warna-warna nude mendominasi, yang 'dikagetkan' dengan warna shocking seperti fuchsia dan kuning neon. Kreasi bordir ditampilkan dalam bentuk bunga anggrek serta tegel kuno berwarna-warni. Di akhir peragaan, muncul koleksi busana hitam yang kontras dengan warna-warni nan cerah.

"Mimpi ada yang indah dan buruk. Jadi saya menghadirkan warna-warna terang dan ada gelapnya juga," pungkas Igun.

Lewat Savana Muria, keempat desainer ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang tradisional bisa tampil secara global apabila para desainer mau berpikir secara out of the box. Mereka pun ingin memberikan pandangan baru tentang bordir Kudus yang ternyata bisa divariasikan sedemikian rupa jadi bentuk yang sama sekali berbeda. Tak lagi hanya untuk kebaya atau penghias taplak meja di rumah.

(hst/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads