Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Sukses dengan Batik, Sejauh Mata Memandang kini Angkat Tenun Ikat Sumba

Hestianingsih - wolipop
Selasa, 06 Des 2016 18:35 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Hestianingsih/Wolipop
Jakarta - Dua tahun sudah label Sejauh Mata Memandang hadir memberi warna dalam industri fashion dengan rancangan batik yang unik dan kekinian. Kali ini label yang lebih dikenal dengan nama Sejauh, kembali mengeksplorasi satu lagi kekayaan tekstil Tanah Air, yakni tenun ikat.

Founder sekaligus Creative Director Sejauh Chitra Subyakto mencoba mengangkat kekhasan dan keunikan tenun ikat Sumba lewat koleksi terbaru yang ia beri tajuk Humba. Kata Humba, merupakan bahasa asli untuk Sumba. Sebagai pulau yang berada di Timur Indonesia, Sumba dikenal dengan pemandangan gunung-gunung serta birunya langit yang ketika dipandang secara utuh, bagaikan lukisan alam nan dramatis.

Pemandangan Tanah Sumba itulah yang menginspirasi Chitra untuk merilis koleksi yang disebutnya cukup istimewa ini. Pencinta kain yang juga seorang stylist ini mengaku memerlukan waktu tiga bulan untuk berdiskusi dan merundingkan motif serta warna kain kepada pengrajin tenun ikat yang ditemuinya di Sumba. Setelah proses yang cukup panjang, terciptalah helaian kain yang sarat nilai seni.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Inspirasinya dari hutan dan pegunungan Sumba. Makanya motifnya ini seperti penuh bukit. Seperti gunung dengan terpaan anginnya. Semuanya murni terinspirasi alam Sumba," ujar Chitra saat konferensi pers Humba di Senayan City, Jakarta Selatan, Selasa (6/12/2016).
Sukses dengan Batik, Sejauh Mata Memandang kini Angkat Tenun Ikat SumbaFoto: Hestianingsih/Wolipop

Semua koleksi ditenun dengan tangan dan melibatkan sekitar delapan pengrajin. Pengerjaan satu kain saja bisa memakan waktu 3-5 bulan karena prosesnya yang cukup rumit. Benang-benang diikat dengan daun terlebih dahulu, baru kemudian ditenun untuk menghasilkan motif yang diinginkan.

Pewarnaannya pun menggunakan bahan-bahan alami. Warna biru didapatkan dari tumbuhan nila, merah dari mengkudu sedangkan abu kecokelatan didapat dari campuran lumpur dan kayu. Warna-warnanyapun terinspirasi dari alam Sumba dengan tanahnya yang merah, hijau dan birunya perbukitan serta langit Sumba abu-abu dengan semburat cokelat.

Koleksi Humba dipamerkan lewat sebuah instalasi seni dan videografi karya Jay Subyakto, di Curated Room, lantai 1 Senayan City, Jakarta Selatan. Pameran Humba dilangsungkan mulai 6-18 Desember 2016 dengan menampilkan tenun ikat yang digantungkan pada tabung-tabung panjang untuk memperlihatkan detailnya.
Sukses dengan Batik, Sejauh Mata Memandang kini Angkat Tenun Ikat SumbaFoto: Hestianingsih/Wolipop

Di pameran ini para penggemar kain Indonesia juga bisa membeli koleksi Humba di pameran ini. Koleksi yang diproduksi secara terbatas ini terdiri dari sarung, selendang dan Kabakil (kain memanjang untuk dijadikan syal atau ikat pinggang) dan dijual dengan harga mulai Rp 875 ribu hingga Rp 6 jutaan.

"Pengerjaannya cukup lama dan tergantung cuaca. Kalau hujan maka prosesnya bisa lebih lama lagi karena warnanya jadi lebih susah masuk ke kain. Maka dari itu harganya juga tinggi," kata Chitra. (hst/ays)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads