Gaun Glamour nan Eksentrik di Koleksi 'La Divina Marchesa' Sebastian Gunawan
Daniel Ngantung - wolipop
Rabu, 30 Nov 2016 09:30 WIB
Jakarta
-
Di penghujung abad 20-an, hidup seorang wanita bernama Luisa Casati. Menyandang status marchesa atau bangasawan, Luisa hidup dalam kemewahan dan keglamoran dengan kepribadiannya yang eksentrik.
Di saat kebanyakan kaum sosialita memilih anjing sebagai piaraannya, Luisa justru memelihara leopard. Tak jarang pula, ia melingkarkan seekor ular boa di lehernya sebagai scarf saat menghadiri pesta-pesta.
Karakternya yang eksentrik itu juga tercermin pada gaya busananya. Ia tidak ragu untuk mengawinkan elemen-elemen timur dan barat sehingga menciptakan perpaduan gaya yang unik namun tetap terlihat glamor.
Dengan personanya yang khas itu, maka tidak heran jika Luisa sering dijadikan sebagai sumber inspirasi para seniman, mulai dari penulis hingga pelukis, lintas zaman.
Selasa (29/11/2016) malam, di Ballroom Hotel Mulia, sosok Luisa seolah hidup kembali melalui rancangan adibusana (couture) teranyar Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese yang dipentaskan dalam peragaan tunggal bertajuk "La Divina Marchesa". Untuk koleksi dari lini utama mereka kali ini, Sebastian dan Cristina memang terilhami oleh sosok sang marchesa.
"Luisa Casati adalah bangsawan yang juga dikenal sebagai ikon fashion. Kecintaannya pada fashion terlihat dari gayanya yang merupakan perpaduan budaya Turki, India, Jepang, China, dan Eropa," terang Seba, panggilan akrab Sebastian.
Meski tidak ada yang baru dari segi siluet dan cutting, kejutan tetap hadir lewat permainan detail dan perpaduan warna yang lebih berani.
Didominasi oleh busana bergaya era 30an yang sarat akan dekorasi bulu mendominasi koleksi tersebut, namun di tangan Seba dan Cristina, gaya lawas tersebut tampil lebih kekinian dengan permainan color block (semisal mengawinkan biru, merah, dan hijau) dan payetan stud emas berkilauan. Semuanya berpadu apik menciptakan rasa eksentrik nan glamor.
Koleksi ini tentu saja turut membuktikan kembali kepiawaian Seba dan Cristina dalam mengolah material. Di atas bahan tipis dan terlihat rapuh seperti lace yang digunakannya, disulap menjadi tekstur baru dan bersalin rupa menjadi sebuah busana berkonstruksi kokoh.
Malam itu, Seba dan Cristina menampilkan 88 looks atau set busana, dengan siluet yang beragam mulai dari berbentuk gelas pasir yang ramping, jumpsuit, cape panjang hingga gaun bervolume gigantis yang spektakuler.
Bukan jumlah yang sedikit, terutama untuk busana sekaliber couture yang tingkat kesulitannya lebih tinggi sehingga proses kreatifnya pun memakan waktu yang cukup lama. Namun itulah bentuk dedikasi Seba dan Cristina untuk mengakomodasi para wanita yang kebutuhannya kian sophisticated. Sebagaimana dedikasi Luisa pada fashion. (dng/ami)
Di saat kebanyakan kaum sosialita memilih anjing sebagai piaraannya, Luisa justru memelihara leopard. Tak jarang pula, ia melingkarkan seekor ular boa di lehernya sebagai scarf saat menghadiri pesta-pesta.
Karakternya yang eksentrik itu juga tercermin pada gaya busananya. Ia tidak ragu untuk mengawinkan elemen-elemen timur dan barat sehingga menciptakan perpaduan gaya yang unik namun tetap terlihat glamor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Mohammad Abduh |
Selasa (29/11/2016) malam, di Ballroom Hotel Mulia, sosok Luisa seolah hidup kembali melalui rancangan adibusana (couture) teranyar Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese yang dipentaskan dalam peragaan tunggal bertajuk "La Divina Marchesa". Untuk koleksi dari lini utama mereka kali ini, Sebastian dan Cristina memang terilhami oleh sosok sang marchesa.
"Luisa Casati adalah bangsawan yang juga dikenal sebagai ikon fashion. Kecintaannya pada fashion terlihat dari gayanya yang merupakan perpaduan budaya Turki, India, Jepang, China, dan Eropa," terang Seba, panggilan akrab Sebastian.
Meski tidak ada yang baru dari segi siluet dan cutting, kejutan tetap hadir lewat permainan detail dan perpaduan warna yang lebih berani.
Didominasi oleh busana bergaya era 30an yang sarat akan dekorasi bulu mendominasi koleksi tersebut, namun di tangan Seba dan Cristina, gaya lawas tersebut tampil lebih kekinian dengan permainan color block (semisal mengawinkan biru, merah, dan hijau) dan payetan stud emas berkilauan. Semuanya berpadu apik menciptakan rasa eksentrik nan glamor.
Koleksi ini tentu saja turut membuktikan kembali kepiawaian Seba dan Cristina dalam mengolah material. Di atas bahan tipis dan terlihat rapuh seperti lace yang digunakannya, disulap menjadi tekstur baru dan bersalin rupa menjadi sebuah busana berkonstruksi kokoh.
Malam itu, Seba dan Cristina menampilkan 88 looks atau set busana, dengan siluet yang beragam mulai dari berbentuk gelas pasir yang ramping, jumpsuit, cape panjang hingga gaun bervolume gigantis yang spektakuler.
Foto: Mohammad Abduh |
Home & Living
Pandaoma Mesin Cuci Mini Portable, Solusi Cuci Praktis buat Hidup yang Lebih Ringkas!
Olahraga
Cukup Satu Alat! Latihan Lebih Variatif di Rumah dengan B-STRONG BS-10 yang Adjustable dan Multifungsi
Perawatan dan Kecantikan
Rahasia Rambut Lembut & Berkilau dengan Perawatan Premium dari Jepang!
Perawatan dan Kecantikan
Airbot Aria HyperStyler, Satu Alat, Banyak Gaya Rambut Tanpa Ribet!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Demi Totalitas Akting, Kate Hudson Rela Nggak Skincare-an dan Naik BB 7 Kg
Rihanna Gandeng Anak Elon Musk Jadi Model Lingerie untuk Koleksi Valentine
Tas Belanja Kanvas Ini Jadi Rebutan Dunia, Ada yang Dijual Rp 160 Juta
Jaket Nicolas Maduro saat Ditangkap Jadi Sorotan, Viral Diburu Netizen
Deretan Perhiasan Mewah di Karpet Merah Critics' Choice Awards 2026
Most Popular
1
7 Potret Siraman Anak Tommy Soeharto, Tata Cahyani Curi Atensi Berkebaya Floral
2
Foto: Transformasi Bradley Cooper Jadi Lebih Muda, Bikin Pangling Dikira Oplas
3
Most Popular: Viral Pengantin Paling Tak Bahagia, Muka Suram di Pernikahan
4
Ramalan Shio 2026
Rezeki Mengalir Deras! 5 Shio Paling Beruntung di Tahun 2026
5
Viral 'Poverty Challenge' Bikin Murka, Pamer Mi Instan di Atas Ferrari
MOST COMMENTED












































Foto: Mohammad Abduh
Foto: Mohammad Abduh