Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Mahasiswa Fashion Ini Berniat Buat Tas dari Kulit Mendiang Alexander McQueen

Rahmi Anjani - wolipop
Kamis, 21 Jul 2016 17:40 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: ist
Jakarta - Kecanggihan teknologi juga mengembangkan industri fashion dalam hal pembuatan material produknya. Selain menggunakan bahan alami yang ramah lingkungan, ternyata item mode juga bisa dibuat dari DNA kulit manusia. Seorang mahasiswa lulusan sekolah fashion bahkan ingin membuat tas dari DNA mendiang desainer Alexander McQueen.

Wanita bernama Tina Gorjanc tersebut tentu tidak mengambilnya langsung dari tubuh mendiang. Namun ia menggunakan DNA Alexander yang sempat dianalisa di laboratorium pasca ditemukan bunuh diri enam tahun lalu. Konsep ini merupakan bagian dari proyek final Tina untuk kelulusan sekolah fashion Central Saint Martins, London, Inggris.

Program fashion tak biasa itu ternyata terinspirasi dari proyek Pure Human yang pernah digunakan mendiang. Kala itu, Alexander menggunakan rambutnya sendiri untuk koleksi pertamanya. Tina pun sudah mendapat persetujuan untuk proyek ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Ini menggunakan sebuah proses yang disebut de-extinction, yang mana sebuah agen biologis digunakan dalam rambut berbentuk cair lalu kamu mengekstrak informasi genetis tertentu dari situ. Dan kamu menggunakan informasi tersebut untuk memogram kembali kulit yang ada sehingga tekstur dan warnanya sama persis dan semuanya dari sumber original, dalam hal ini kulit McQueen," kata Tina pada Telegraph.

Kulit tersebut kemudian dikembangkan dalam sebuah cawan dengan sejumlah cairan dan nutrisi untuk membuatnya membesar. Lalu panas akan digunakan untuk membunuh sel di lapisan permukaannya sehingga dapat dibuat material kulit. Setelah itu, kulit tersebut baru bisa dibuat tas.

"Ketika kulit dikembangkan di laboratorium, itu tidak akan terlihat seperti kulit asli karena kami hanya menggunakan dua lapisan pertama dari kulit. Secara visual, ketika kamu menggelapkannya dan menambahkan pewarna, itu bisa terlihat seperti material kulit," tambah Tina.

Banyak orang mungkin termasuk Anda mempertanyakan etika dari proyek ini. Sebagian bahkan menganggap jika tas yang dibuat dari kulit manusia adalah menjijikan. Namun Tina menjelaskan jika eksperimennya tersebut bertujuan untuk menunjukkan bahwa informasi genetis bisa dipatenkan oleh orang lain.



Ia sendiri sudah mematenkan proyeknya itu untuk membuktikan bahwa informasi genetis memang dapat dieksploitasi kembali. Tina juga tidak berencana menjadikannya koleksinya yang komersial atau untuk dijual kembali.

"Menurutku, itu tidak lebih menjijikan dari pada prosedur lain di pabrik kulit karena tidak melibatkan pembantaian hewan dan benar-benar hasil laboratorium dan tidak melukai mahluk apapun. Kita sangat jijik dengan kulit manusia tetapi menggunakan kulit binatang di kehidupan sehari-hari," jelasnya lagi.

Karena dibuat dari DNA kulit manusia, tas tersebut pun perlu diperlakukan selayaknya kuit Anda. Untuk perawatan, tas bisa diaplikasikan sunblock atau pelembap untuk melindunginya dari pengaruh buruk sinar matahari dan tidak terbakar. Kulit itu juga bisa ditambahkan tato atau bintik-bintik. Saat ini Tina tengah mengerjakan sample DNA Alexander di laboratorium untuk menguji apakah proyek ini benar bisa diwujudkan. (sra/sra)
Tags

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads