Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Lenny Agustin Bawa Sulaman Borneo untuk Dipamerkan di Prancis

Arina Yulistara - wolipop
Senin, 31 Agu 2015 19:14 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Arina/Wolipop
Jakarta - Desainer Lenny Agustin selalu menyelipkan unsur Indonesia ke dalam setiap karyanya. Seperti dalam rancangan terbarunya yang telah dipamerkan dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2015 dengan tema 'Borneo off Beat'. Terinspirasi dari kain tradisional Kalimantan, Lenny menciptakan potongan busana yang etnik menggunakan teknik sulaman.

Teknik yang diterapkan sang desainer cukup sulit dengan pengaplikasian swedish embroidery. Meski diakui sulit, Lenny cukup puas akan hasil akhirnya. Oleh sebab itu, ketika dipilih menjadi salah satu desainer Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) untuk mengikuti pameran dagang bergengsi 'Who's Next' di Prancis, anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini juga akan membawakan sulaman Borneo dengan gaya yang sedikit berbeda dari IFW 2015.

Jika saat di IFW 2015 ia menampilkan busana dengan teknik sulaman yang penuh, kali ini tampak lebih simpel. Lenny merancang busana yang gfeminin dengan pengaplikasian sulam atau bordir hanya pada bagian tengah busana seperti dada dan pinggang. Sulaman yang dijelujur menggunakan beragam warna benang tersebut akan membuat penampilan tampak lebih atraktif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lenny berencana membawa 20 setelan busana yang terdiri dari rok, blouse, hingga dress. Palet dasar yang dipilihnya dominan hitam namun sulamannya bernuansa pastel. Menurut desainer yang selalu bergaya dengan rambut pendek itu, palet dasar hitam akan membuat rancangannya terlihat semakin 'hidup'.

Pameran dagang tersebut merupakan pameran pertama yang diikuti Lenny di Prancis. Meski demikian, ia mengatakan bahwa koleksi yang dibawa ke Prancis nanti bukanlah baru melainkan tambahan dari rangkaian 'Borneo Off Beat'. Ia menambahkan rangkaian koleksinya dengan potongan yang lebih sederhana sehingga cocok untuk dipakai sehari-hari.

"Ini pameran dagang pertamakali, koleksi yang kemarin, cuma aku tambahkan lagi, prosesnya kurang lebih sebulan. Dengan teknik sulaman ini, aku berharap bisa menarik pangsa pasar dunia," papar Lenny saat berbincang dengan Wolipop di Conclave, Jl. Wijaya 1. Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (31/8/2015).

Lenny berharap karyanya bisa diterima oleh masyarakat dunia, khususnya Spanyol. Lenny melihat Spanyol memiliki selera fashion etnik dan colorful serupa seperti di Indonesia. Oleh sebab itu, ia cukup optimis untuk bisa menarik buyer untuk membeli produk-produk lokal Indonesia.

Selain Lenny, desainer kondang Sofie juga turut unjuk gigi dalam pameran yang diikuti oleh banyak negara di seluruh dunia itu. Berbeda dengan Lenny yang menyelipkan unsur tradisional lewat sulaman, Sofie menuturkan karyanya lebih ke pasar urban. Ia berharap bisa memasukkan karyanya ke dalam salah satu department store di Prancis.

Sofie mengatakan akan membawa sekitar 25 potong busana. Potongannya simpel dan cocok untuk ke acara kasual. Sementara warnanya lebih monokrom dan nanti akan dilengkapi aksesori hasil buatan tangan. Aksesori seperti kalung akan sengaja dibuat warna-warni sehingga tampak kontras.

Berbeda dengan desainer Ali Charisma yang memakai batik sebagai bahan dasar rancangannya. Presiden Direktur Indonesia Fashion Week itu menampilkan karya yang akan membuat penampilan wanita terlihat tradisional dan elegan. Salah satu desain yang akan dipamerkan berupa dress panjang tanpa lengan dengan taburan detail di area dada. Ali juga melengkapinya dengan potongan bahan transparan di bagian atas.

Sementara salah satu pemilik label 'D'Tale', Kristalia Darwin, yang juga akan pamer karya di Prancis, membawakan busana modern terinspirasi dari polusi udara. Sekitar 23 padu padan busana minimalis yang simpel dan menggunakan teknik digital printing akan dipamerkan selama masa pameran mulai dari 4 hingga 7 September 2015 di Paris, Prancis. D'Tale merilis koleksi busana monokrom namun tak semua hitam-putih. D'Tale juga melengkapi karyanya dengan berbagai potongan atasan warna cerah.

Lain halnya dengan label Flobamore yang meluncurkan busana modern dari kain tradisional Nusa Tenggara Timur. Kain tersebut dirancang menjadi dress yang membuat penampilan wanita terlihat feminin dan berkelas. Seperti potongan dress dengan kombinasj rok kulit yang bagian atasnya memakai kain ikat dari NTT. Potongan backless tanpa lengan dengan bagian tengah transparan membuat penampilan wanita terlihat seksi.

Selain Flobamore, desainer lain yang menuangkan unsur khas daerah di Indonesia adalah Savira Lavinia Raswari dengan labelnya 'Sav Lavin'. Perancang lulusan ESMOD itu mengeluarkan desain yang unik dan memiliki detail khas. Terinspirasi dari tato Borneo, ia mengeluarkan koleksi ready-to-wear dengan pangsa pasar anak muda. Dengan palet dasar hitam, ia memilih menuangkan ragam detail untuk menarik perhatian.

Selain enam desainer tersebut akan hadir pula perancang Oka Diputra dan Eny Ming yang juga bergabung dengan mereka. Pameran akan berlangsung di Paris, Prancis.

(aln/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads