Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Pentingnya Kembalikan Eksistensi Pewarna Alam di Industri Mode Lokal

Alissa Safiera - wolipop
Senin, 23 Mar 2015 09:20 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Alissa Safiera/Wolipop
Jakarta -

Konsep eco fashion sudah mulai berkembang akhir-akhir ini, baik secara internasional maupun di negeri sendiri. Berbagai kampanye pun mulai disuarakan demi menciptakan industri mode yang tak hanya indah hasil akhirnya, namun juga dalam perjalanan prosesnya.

Eco fashion atau fashion yang ramah lingkungan memiliki banyak cakupan. Salah satunya lewat pemanfaatan bahan alami sebagai material utama produksi. Salah satunya lewat penggunaan pewarna alam; yang sebenarnya telah dimulai dari zaman nenek moyang. Saat di mana zat pewarna tekstil dicari sendiri dari tumbuh-tumbuhan.

"Sebetulnya kita sangat bersyukur memiliki budaya yang sangat kuat karena dari busana kita memiliki sejarah di mana bukti-bukti di candi, pria dan wanita sudah memakai pakaian dalam ragam hias. Mereka sudah menggunakan serat kayu yang dipintal menjadi tekstil. Jadi dari zaman dulu eco fashion sudah milik bangsa kita," tutur Anastasia Inne Adhie, pengurus dari Gerakan Warna Alam Indonesia (Warlami) saat berbincang dengan Wolipop di Tree House, Bandung, Minggu (22/3/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diceritakan Anastasia, proses pewarnaan alam mulai tercemar sejak zat warna kimia sintetis dikembangkan pada tahun 1856. Sekitar akhir 1900-an zat pewarna alam mulai kehilangan pamor dari zat warna sintetis. Saat itu, para pengrajin beralih menggunakan bahan pewarna kimia, dengan alasan efisiensi waktu dan juga warnanya yang lebih cerah dibanding pewarna alam.

Namun kini, cukup banyak desainer yang mulai mau mengenal dan mempelajari budaya. Membuat industri mode lokal kembali mengangkat popularitas pewarnaan alam. Beberapa di antaranya adalah desainer Lenny Agustin, Carmanita, Musa Widyatmodjo sampai Priyo Oktaviano yang juga pernah mengolah tekstil dengan pewarna alam.

Tak hanya bagi desainer ternama, para pengrajin tekstil di daerah juga mulai kembali ke pewarna alam. Di antaranya ada di kawasan Bali, Nusa Tenggara Timur, Flores dan juga Toraja. Setidaknya tercatat, telah ada 19 propinsi di Indonesia yang mulai kembali ke proses pewarnaan alam yang ramah lingkungan.

Diakui Anastasia, memang sulit untuk menyetarakan pewarna alam dengan zat warna sintetis di industri retail. Disebabkan prosesnya yang lebih rumit, warna yang pucat dan juga harga lebih mahal. Namun bukan berarti hal itu mustahil untuk kembali mempopulerkan pewarnaan alami di industri fashion lokal.

"Buat anak muda kita harus mencintai budaya nenek moyang kita yang sudah melakukan eco fashion. Kita juga perlu mengenal tekstil, dari pegang saja sudah ketahuan. Lihat seratnya. Generasi muda juga harus menghargai tenun dan kain buatan tangan. Alangkah baiknya kalau kita juga bisa buat sendiri," tambahnya lagi.

(asf/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads