Pentingnya Kembalikan Eksistensi Pewarna Alam di Industri Mode Lokal
Konsep eco fashion sudah mulai berkembang akhir-akhir ini, baik secara internasional maupun di negeri sendiri. Berbagai kampanye pun mulai disuarakan demi menciptakan industri mode yang tak hanya indah hasil akhirnya, namun juga dalam perjalanan prosesnya.
Eco fashion atau fashion yang ramah lingkungan memiliki banyak cakupan. Salah satunya lewat pemanfaatan bahan alami sebagai material utama produksi. Salah satunya lewat penggunaan pewarna alam; yang sebenarnya telah dimulai dari zaman nenek moyang. Saat di mana zat pewarna tekstil dicari sendiri dari tumbuh-tumbuhan.
"Sebetulnya kita sangat bersyukur memiliki budaya yang sangat kuat karena dari busana kita memiliki sejarah di mana bukti-bukti di candi, pria dan wanita sudah memakai pakaian dalam ragam hias. Mereka sudah menggunakan serat kayu yang dipintal menjadi tekstil. Jadi dari zaman dulu eco fashion sudah milik bangsa kita," tutur Anastasia Inne Adhie, pengurus dari Gerakan Warna Alam Indonesia (Warlami) saat berbincang dengan Wolipop di Tree House, Bandung, Minggu (22/3/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun kini, cukup banyak desainer yang mulai mau mengenal dan mempelajari budaya. Membuat industri mode lokal kembali mengangkat popularitas pewarnaan alam. Beberapa di antaranya adalah desainer Lenny Agustin, Carmanita, Musa Widyatmodjo sampai Priyo Oktaviano yang juga pernah mengolah tekstil dengan pewarna alam.
Tak hanya bagi desainer ternama, para pengrajin tekstil di daerah juga mulai kembali ke pewarna alam. Di antaranya ada di kawasan Bali, Nusa Tenggara Timur, Flores dan juga Toraja. Setidaknya tercatat, telah ada 19 propinsi di Indonesia yang mulai kembali ke proses pewarnaan alam yang ramah lingkungan.
Diakui Anastasia, memang sulit untuk menyetarakan pewarna alam dengan zat warna sintetis di industri retail. Disebabkan prosesnya yang lebih rumit, warna yang pucat dan juga harga lebih mahal. Namun bukan berarti hal itu mustahil untuk kembali mempopulerkan pewarnaan alami di industri fashion lokal.
"Buat anak muda kita harus mencintai budaya nenek moyang kita yang sudah melakukan eco fashion. Kita juga perlu mengenal tekstil, dari pegang saja sudah ketahuan. Lihat seratnya. Generasi muda juga harus menghargai tenun dan kain buatan tangan. Alangkah baiknya kalau kita juga bisa buat sendiri," tambahnya lagi.
(asf/hst)
Kesehatan
Suplemen Harian Jaga Imun Tubuh di Tengah Aktivitas Padat! Review Swisse Ultiboost Vitamin C 1000mg
Pakaian Pria
Corduroy Jacket Jadi Outer Andalan Cowok yang Ingin Tampilan Casual Modern
Pakaian Pria
Raw Denim Bukan Cuma Tren Musiman! Investasi Celana yang Makin Lama Makin Bagus
Home & Living
Pandaoma Mesin Cuci Mini Portable, Solusi Cuci Praktis buat Hidup yang Lebih Ringkas!
Demi Totalitas Akting, Kate Hudson Rela Nggak Skincare-an dan Naik BB 7 Kg
Rihanna Gandeng Anak Elon Musk Jadi Model Lingerie untuk Koleksi Valentine
Tas Belanja Kanvas Ini Jadi Rebutan Dunia, Ada yang Dijual Rp 160 Juta
Jaket Nicolas Maduro saat Ditangkap Jadi Sorotan, Viral Diburu Netizen
Deretan Perhiasan Mewah di Karpet Merah Critics' Choice Awards 2026
7 Potret Siraman Anak Tommy Soeharto, Tata Cahyani Curi Atensi Berkebaya Floral
Foto: Transformasi Bradley Cooper Jadi Lebih Muda, Bikin Pangling Dikira Oplas
Most Popular: Viral Pengantin Paling Tak Bahagia, Muka Suram di Pernikahan
Ramalan Shio 2026
Rezeki Mengalir Deras! 5 Shio Paling Beruntung di Tahun 2026











































