Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

5 Tahun Hari Batik Nasional, Sudah Saatnya Jangan Hanya Asal Pakai Batik

Rahmi Anjani - wolipop
Kamis, 02 Okt 2014 15:41 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Rahmi/Wolipop
Jakarta -

Tak banyak yang tahu presenter dan penyiar radio, Iwet Ramadhan memiliki brand busana batik bertajuk TIKprive. Pria 33 tahun ini pun pernah menelurkan sebuah buku tentang teknik tekstil asal Jawa tersebut yang diberi judul Cerita Batik. Tentu saja, dia sudah paham betul dengan seluk beluk kain batik.

‎Di Hari Nasional Batik yang jatuh pada Kamis, (2/10/2014) hari ini, Iwet melihat batik sudah sangat berkembang pesat. Tak hanya batik, sejumlah kain tradisional lain seperti tenun atau songket juga sudah mulai eksis berkat para desainer yang mencoba mengangkatnya. Sebagai penggiat batik, dia tentu saja merasa senang.

Namun ada satu hal yang sedikit meresahkan pria kelahiran Yogyakarta ini. Menurutnya, sungguh disayangkan jika para desainer memotong-motong kain batik dan menjadikannya sebuah busana modern tanpa memahami batik itu sendiri dengan benar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau tanya tren sama saya, itu yang bisa saya jawab. Bukannya saya anti-modernisasi. Tapi alangkah baiknya jika si desainer memahami batik. Kalau ada pemahaman, ada soulnya," jelas Iwet ketika diwawancarai Wolipop di bilangan Menteng saat peluncuran botol bayi batik Pigeon yang dia desain, Kamis (2/10/2014).

Hadirnya Hari Batik Nasional yang telah dirayakan kelima kalinya ini jelas menambah euforia masyarakat Indonesia akan penggunaan batik. Iwet menyikapi euforia ini dengan sedikit kekhawatiran. Pria yang kerap berbagi ilmu public speaking tersebut takut jika euforia akan menciptakan batik-batik yang berasal dari wilayah selain Jawa. Padahal sudah jelas batik berasal dari Jawa. Hal tersebut dilatarbelakangi pengamatan Iwet yang melihat belum semua masyarakat Indonesia memahami batik.

"Yang ditakutkan nanti ada batik Papua, batik Minahasa. ‎Padahal mereka kan punya kain tradisional sendiri. Kenapa tidak itu yang diangkat," tambah Iwet.

Maka dari itu, pada Hari Batik Nasional ini, Iwet pun berharap agar masyarakat mau memahami batik bukan hanya asal pakai atau asal mengaplikasikan. Karena masing-masing motif batik memiliki filosofi tersendiri. Paling tidak, masyarakat mengerti perbedaan batik dengan tenun serta mengenal motif-motif batik. Hal tersebut juga akan menghindarkan kita dari menyalah artikan semua yang berbau etnik merupakan batik.

"Begitu etnik dibilang batik. Batik itu teknik. Waktu batik diklaim Malaysia, saya juga tidak marah karena tahu bahwa itu bukan batik." ungkap ‎pria yang baru saja dianugrahi piagam berbentuk Arjuna oleh brand Pigeon atas kepedulianya akan batik.

(ami/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads