Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Sarung Bisa Dimodifikasi Jadi Busana Modern, Tapi Harus Tetap Ada Batasan

Hestianingsih - wolipop
Kamis, 02 Jan 2014 14:09 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Wolipop
Jakarta - Sarung lebih identik dengan busana untuk laki-laki, dan umumnya hanya dikenakan di acara-acara tertentu. Misalnya upacara adat, kegiatan keagamaan atau hari raya umat Muslim. Tapi dengan sedikit kreativitas dan berbagai modifikasi, sarung juga bisa dikenakan ke pesta atau acara semi formal dan tak kalah stylish dengan busana modern lainnya.

Hal itulah yang ingin digalakkan Indonesia Fashion Week (IFW) bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam kampanye 'Local Movement' yang sudah dijalankan sejak 2012. Modifikasi sarung jadi busana modern merupakan langkah penting untuk membuat salah satu konten lokal ini mendunia. Namun tidak bisa sembarang diubah menjadi bentuk busana lain yang mengganti fungsi sarung itu sendiri.

Desainer Irna Mutiara menjelaskan, suatu bahan atau benda bisa disebut sarung apabila masih berbentuk kain dan lubang di bagian atas dan bawah, seperti tabung atau silinder. Modifikasi dengan mengguntingnya jadi atasan atau bawahan, sehingga tidak berbentuk tabung lagi bukanlah dinamakan sarung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Boleh saja dibikin jadi bolero, belt, atasan atau apa saja. Asalkan tidak menggunting sarung jadi sebuah baju. Tapi tetap bentuknya sarung, tabung. Jadi masih bisa dipakai sebagai sarung. Tetap bisa dikembalikan ke fungsi awal. Kalau dipotong jadi baju bukan sarung lagi namanya, tapi kain tekstil yang dijadikan baju," terang Irna, saat berbincang dengan Wolipop di sela-sela trip wisata Bromo dan Jawa Timur bersama IFW dan Kemenparekraf, belum lama ini.

Modifikasi sarung bisa dilakukan dengan cara dilipat, dilipit, menggunakan tali atau peniti sebagai pengait atau dijadikan bentuk-bentuk seperti pita dan korsase. Sarung juga bisa dijadikan celana jodhpur dan rok mini dengan detail kerut maupun lipit, atau sebagai busana luaran dan aksen di atas busana utama.

Motif sarung juga tidak melulu kotak-kotak. Irna menjelaskan, semua tekstil Indonesia bisa dijadikan sarung. Mulai dari batik, tenun, songket hingga ikat pun bisa dibuat sarung. Hanya saja karena yang beredar di pasaran selama ini lebih banyak bermotif kotak, maka banyak orang awam yang menganggap bahwa sarung adalah kain bermotif kotak.

"Batik Cirebon suka dipakai untuk (bawahan) kebaya encim. Motif tribal Dayak sudah ratusan tahun ada di Indonesia. Juga ada tenun dan sulam," ujar creative director brand busana muslim Up2date ini. 

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads