Begini Cara Bedakan Tenun Warna Alam Dan Sintetik
Firda Puri Agustine - wolipop
Senin, 25 Nov 2013 16:03 WIB
Jakarta
-
Kain tenun Nusa Tenggara Timur kini makin bervariasi. Baik dari segi motif maupun pewarnaan. Ada yang memakai warna sintetik biasa, ada juga yang mengembangkan tenun dari sumber warna alami.
Antara kain warna sintetik dan alam jelas berbeda. Kain yang menggunakan pewarna alami membutuhkan proses pembuatan lebih lama dibanding tenun warna sintetik. Harganya pun lebih mahal.
Namun, secara kasat mata, kedua jenis tenun tersebut hampir sama. Nah, agar tak terkecoh, penenun tradisional dari Alor, NTT, Sariat Lebana, menjelaskan letak perbedaan itu.
"Kalau kain pakai warna alam itu warnanya tidak begitu mencolok. Lebih kelihatan lembut di mata," kata wanita yang juga menemukan 186 pewarna alam ini, pekan lalu.
Sifat warna juga lain. Tenun dengan warna alam cenderung lebih mudah luntur apabila terkena deterjen. Makanya, hanya boleh dicuci memakai air garam saja.
"Perawatannya lebih hati-hati. Jangan pakai mesin cuci," ujarnya.
Meski butuh perlakuan yang tidak mudah, beberapa rombongan peserta festival serat dan warna alam, SWARNAFest 2013 dari Jakarta, mengaku lebih puas membeli tenun yang seluruhnya dipoles warna alam.
Seperti Herdiastuti, 58 tahun, pembeli tenun yang warnanya berasal dari biota laut teripang. Menurutnya, ada rasa puas bisa memiliki sebuah hasil karya asli tanpa mesin.
"Warnanya itu cantik-cantik sekali. Proses buatnya juga unik, warna-warni ini dari teripang semua," katanya.
Harga yang lebih tinggi pun tak jadi masalah. Malah, wajar karena sebanding dengan proses pembuatan yang sulit serta menghabiskan banyak tenaga.
"Mahal atau murah kan relatif ya. Tapi, kalau melihat langsung bikinnya, ya wajar-lah," ujar Herdiastuti.
(fip/hst)
Antara kain warna sintetik dan alam jelas berbeda. Kain yang menggunakan pewarna alami membutuhkan proses pembuatan lebih lama dibanding tenun warna sintetik. Harganya pun lebih mahal.
Namun, secara kasat mata, kedua jenis tenun tersebut hampir sama. Nah, agar tak terkecoh, penenun tradisional dari Alor, NTT, Sariat Lebana, menjelaskan letak perbedaan itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sifat warna juga lain. Tenun dengan warna alam cenderung lebih mudah luntur apabila terkena deterjen. Makanya, hanya boleh dicuci memakai air garam saja.
"Perawatannya lebih hati-hati. Jangan pakai mesin cuci," ujarnya.
Meski butuh perlakuan yang tidak mudah, beberapa rombongan peserta festival serat dan warna alam, SWARNAFest 2013 dari Jakarta, mengaku lebih puas membeli tenun yang seluruhnya dipoles warna alam.
Seperti Herdiastuti, 58 tahun, pembeli tenun yang warnanya berasal dari biota laut teripang. Menurutnya, ada rasa puas bisa memiliki sebuah hasil karya asli tanpa mesin.
"Warnanya itu cantik-cantik sekali. Proses buatnya juga unik, warna-warni ini dari teripang semua," katanya.
Harga yang lebih tinggi pun tak jadi masalah. Malah, wajar karena sebanding dengan proses pembuatan yang sulit serta menghabiskan banyak tenaga.
"Mahal atau murah kan relatif ya. Tapi, kalau melihat langsung bikinnya, ya wajar-lah," ujar Herdiastuti.
(fip/hst)










































