Koleksi Tenun Lombok 'Garuda', Definisi Mewah Baru Sinergi Desainer Prancis-RI
"My friend went to Lombok and all I got is this designer piece". Kalimat tersebut menghiasi sebuah tank top putih bergaya lapis yang dipakai seorang model perempuan.
Penampilannya merupakan bagian dari presentasi busana buah kolaborasi unik antara desainer Indonesia-Prancis, Beatrice Angelica dan Mickael Nana di BRI JF3 Fashion Festival 2026 baru-baru ini.
Atasan kutang tanpa lengan dengan grafis tulisan yang catchy itu kian terasa jenaka dengan padanan kulot yang tampak menggelembung pada lingkaran pinggang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koleksi 'Garuda' persembahan Beatrice Angelica dan Mickael Nana dari Pintu Residency di JF3 Fashion Festival 2026. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
"Ini merupakan interpretasi kami dari sarung. Ada aksen bervolume, tapi potongannya tetap klasik. Dilengkapi kantong, sehingga menciptakan siluet yang elegan," ujar Mickael saat sesi re-see keesokan harinya.
Terlihat jelas bahwa setiap detail jahitan sangat rapi sehingga bagian yang mengembang tetap jatuh pas di badan tanpa terkesan berantakan.
Ia menyebut bawahan tersebut sebagai salah satu highlight dari koleksi yang terdiri dari lima set busana laki-laki dan lima untuk perempuan ini. Namun, primadona sebenarnya adalah deretan pakaian berbahan tenun dan songket yang dikembangkan secara khusus bersama perajin lokal di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
'Garuda', demikian tajuk koleksi ini. Sesuai namanya, Garuda sebagai lambang nasional Indonesia yang sarat filosofi kekuatan, perlindungan, dan keterbukaan menjadi sumber inspirasi utama.
Koleksi Garuda. (Foto: Dok. JF3) |
Mickael dan Beatrice merupakan partisipan Pintu Residency, salah satu program Pintu Incubator. Diluncurkan tahun lalu sebagai inisiasi baru dari JF3, Lakon Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di RI (melalui Institut français d'Indonésie/IFI), program awalnya memberikan kesempatan bagi dua desainer Prancis yang tertarik untuk menggarap kain tradisional di Indonesia.
Edisi kedua ini dibuat sedikit berbeda, dengan melibatkan perancang muda Tanah Air sebagai kolaborator mereka. Selain Mickael dan Beatrice, ada Lisa Layar yang dipasangkan dengan Gabriel Marcella Budiono untuk membuat koleksi dari batik Mojokerto, Jawa Timur.
Sinergi dari dua pelaku kreatif dengan selera desain yang berbeda tersebut tak diduga melahirkan sebuah dialog dan pandangan segar dalam mengangkat wastra tanpa berpaling dari identitasnya sebagai warisan budaya.
"Kami punya latar belakang yang berbeda, belum lagi ciri khas desain yang distingtif satu sama lain. Namun dari situ kami bisa saling melengkapi dan kami menemukan kesamaan dalam hal arahan gaya ," kata Beatrice.
Lulusan ESMOD Jakarta ini sudah punya pengalaman mengolah tekstil tradisional. Koleksi kapsul tenun garapannya bahkan pernah dipamerkan di Hong Kong.
Sementara itu, Mickael berkecimpung di industri fashion lebih dulu 10 tahun lalu. Sebelum mendirikan labelnya, Marlon Nana, ia memperdalam ilmu mode di École Duperré Paris lalu melanjutkan ke jenjang master di Paris Sciences & Lettres.
Pada 2024, ia mengikuti LVMH Prize, sebuah kompetisi fashion prestisius yang digelar induk perusahaan luxury brand seperti Louis Vuitton, Fendi, Dior, dan Bvlgari.
Meski tidak memenangkan hadiah utama, Mickael berhasil mendapatkan Graduate Prize yang memberinya kesempatan untuk bekerja selama setahun di divisi busana pria Dior (dulu Dior Homme).
Selain tenun dan songket Lombok, kedua desainer juga mengeksplorasi material non-kain untuk baju. (Foto: Dok. JF3) |
Pengalaman tersebut kian mengasah kemampuan Mickael, khususnya dalam menguasai teknik tailoring. Tak heran bila koleksi 'Garuda' didominasi pilihan setelan, mulai dari kombinasi jas-celana palazzo dengan tambahan kancing untuk kebutuhan multi-styling hingga pant-suit untuk perempuan. Eksekusi jahitannya presisi, dan hampir tak bercacat, khas Savile Row atau penjahit berkelas lainnya di Eropa.
Celana dengan potongan lebar memperkuat aura retro yang dipengaruhi oleh temuan kedua desainer dari foto-foto arsip dari abad 19 dan 20. Gaya musisi R&B kontemporer seperti Lauryn Hill, Erykah Badu, serta rocker Lenny Kravitz juga menjadi referensi.
Vest rajut Garuda, salah satu primadona koleksi ini. (Foto: Dok. JF3) |
DNA desain Beatrice yang kuat dengan energi urban khas gen-Z terwakili lewat oversized parka berwarna acid green yang mencolok. Jaket tebal yang biasa dipakai saat cuaca dingin yang ekstrem itu dipadukan dengan sarung bermotif garis mirip lurik yang sekali lagi memperlihatkan pendekatan yang berbeda dalam mengharmonisasikan unsur tradisional dan modern.
Vest rajut bermotif garuda yang geometris dalam ukuran besar di dada hasil kolaborasi mereka dengan Chici Fitria dari Zab'a Craft juga menawarkan daya tarik tersendiri. Keduanya juga menggandeng desainer aksesori Lidya Yuniaty Nainggolan (Lului Studio) asal Yogyakarta, dalam mengeksplorasi material non-kain, seperti biji-biji kayu, yang diuntai sehingga menjadi baju dengan efek menerawang. Semacam versi baru dari naked dress, tapi versi kelokalan.
Kemewahan Sesungguhnya
Presentasi busana ditutup dengan look pamungkas dengan coat penuh tenun dan songket bermotif garuda. Jangan bayangkan songket dengan benang emas yang mengkilap karena pewarnaan menggunakan bahan alami.
Mereka bekerja sama dengan ibu-ibu perajin di desa Ungga, Lombok Tengah, secara intens dengan turun ke lapangan selama sepekan. Proses kreatif sudah dimulai sejak April dengan ide mereka yang dituangkan lewat sketsa digital, sebelum menyosialisasikannya kepada para perajin.
Tampilan busana pamungkas di presentasi koleksi 'Garuda'. (Foto: Dok. JF3) |
Tenunan yang menghiasi koleksi, baik dalam potongan coat maupun kemeja, merupakan gabungan dari beberapa panel. Kapasitas alat tenun bukan mesin (ATBM) yang digunakan perajin sangat terbatas sehingga hanya bisa menghasilkan kain tenun berukuran kecil. Maka untuk memenuhi kebutuhan satu pakaian dengan motif yang sama, proses menenun harus dilakukan berulang.
"Tantangannya, menjaga konsistensi hasil tenun dan bentuk motif agar tidak berbeda satu sama lain. Selain itu, karena kami juga menggunakan pewarnaan alami, terkadang hasil berbeda dari rendering visual yang sudah kami buat sebelumnya," ujar Beatrice.
Namun, di situ esensinya. Mereka bekerja mengikuti apa yang alam berikan, bukan sebaliknya dengan mengeksploitasi hasil alam. Bagi Michael, berkolaborasi dengan perajin lokal memberikan pengalaman baru yang membuka matanya.
Mickael dan Beatrice berada di Lombok selama sepekan penuh untuk bekerja secara intens dengan perajin lokal. (Foto: Dok. JF3) |
Ia sudah familier dengan material adat, khususnya warisan budaya dari nenek moyangnya di Afrika, tapi kemampuan para penenun di Lombok berhasil membuatnya kagum.
Mickael, yang baru pertama kali ke Indonesia menilai, mereka sudah memiliki kapasitas yang cukup memenuhi standar jika suatu saat nanti ada luxury brand yang mau menggunakan tekstil tradisional mereka.
"Fakta bahwa perajin Anda punya kemampuan tersebut sungguh luar biasa. Inilah yang dinamakan kemewahan karena jarang sekali kita bisa menemukan karya seperti yang mereka buat dan bisa menjadi daya tarik bagi banyak rumah mode besar," ujar perancang yang berpartisipasi di Pintu Residency setelah mendapat rekomendasi dari profesornya. Dior pernah melakukannya dengan meluncurkan koleksi dari tenun endek buat perajin Bali beberapa tahun lalu.
Mickael Nana kagum dengan kapasitas penenun Lombok yang menurutnya dapat memenuhi kebutuhan produksi luxury brand. (Foto: Dok. JF3) |
Samudra Hartanto, desainer yang pernah bekerja di Louis Vuitton dan Hermes Paris, sekaligus mentor Pintu Incubator, melihat kolaborasi tersebut sebagai kesempatan bagi pelaku kreatif dari kedua negara untuk belajar bersama dalam menemukan cara baru melestarikan kain daerah.
"Isn't it exciting? Kita butuh pandangan dari luar, memperkaya kamus desain kita. Menjaga tradisi memang perlu, tapi kenapa tidak dengan variasi tanpa bermaksud menyederhanakan maknanya. Ini interpretasi baru dan indah," katanya kepada Wolipop.
So now, are you ready to get this designer piece from Lombok?
(dtg/dtg)


















































