Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Iwet Ramadhan Perkenalkan Batik dengan Cara Asyik Lewat Buku Pertamanya

Alissa Safiera - wolipop
Jumat, 31 Mei 2013 19:16 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Alissa/Wolipop
Jakarta - Iwet Ramadhan, penyiar radio dan juga presenter ini memang dikenal akan kecintaannya pada kain tradisional Indonesia, batik. Setelah sebelumnya membuat lini busana khusus batik dengan desain kasual dan muda, TikShirt, kini Iwet juga membuat sebuah buku yang berisi informasi lengkap tentang dunia batik.

Buku dengan tulisan seperti dari tinta canting itu berjudul 'Cerita Batik'. Dalam bukunya, pria kelahiran Yogyakarta ini mencoba mengenalkan batik pada masyarakat dengan cara yang asyik dan mudah dipahami. Ada pula ilustrasi yang memudahkan pembaca mengenal kain tradisional ini. Bisa dibilang, buku ini adalah salah satu cita-cita Iwet yang sudah terwujud untuk menunjukan rasa cintanya pada batik.

"Dari kecil saya sudah dikenalkan kain batik oleh orangtua saya. Tujuan buku ini ingin membuat orang lebih kenal dengan batik. Dan biasanya kalau kita lihat buku batik itu mahal sekali dan nggak semua orang bisa beli. Makanya saya dari dulu bercita-cita ingin buat buku yang membahas batik secara lengkap dan handy jadi bisa dibawa ke mana-mana," ungkap Iwet yang ditemui Wolipop saat launching buku 'Cerita Batik' di Atrium Kuningan City, Jakarta, Jumat (31/05/2013).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk membuat buku yang dirampungkan selama dua tahun itu, Iwet melakukan perjalan ke perkampungan batik yang berlokasi di tanah Jawa. Mulai Yogyakarta, Pekalongan, Madura, hingga Cirebon untuk lebih mengenal makna dan cerita di balik batik dan motifnya.

Perjalanan itu pun dituangkan Iwet dalam tulisan yang dapat Anda baca di buku seharga Rp 99 ribu ini. Mulai dari definisi batik, cara membedakan batik tulis, batik cap dan batik print, arti motif batik dan cerita di baliknya. Tak hanya serba-serbi batik, pria yang mengenakan batik biru dan putih dalam launching bukunya itu juga menceritakan kehidupan para pengrajin batik yang ia temui.

Dalam peluncuran bukunya tersebut Iwet sempat menyampaikan kekhawatirannya pada perkembangan batik Indonesia. Menurutnya, banyak generasi muda yang tak paham jenis batik atau bedanya batik dengan kain tradisional lain. Bahkan menurutnya, sudah jarang produsen batik yang melahirkan batik tulis dengan motif klasik. Saat ini lebih banyak yang mengandalkan batik print sekarang ini.

Kedepannya, Iwet juga berharap agar generasi muda lebih menghargai nilai batik sesungguhnya. "Ketakutan saya adalah, batik itu dibuat sangat susah dan perlu kesabaran. Dan orang Indonesia belum menghargai art dan lebih memilih batik print impor yang jauh lebih murah. Pelan-pelan, kesadaran ini harus ditumbuhkan," tutup pria kelahiran 1981 itu.

(asf/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads