Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Forever21 Dituduh Eksploitasi Pekerja dengan Memberi Upah Kecil

Karina Mahardi - wolipop
Rabu, 31 Okt 2012 17:44 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

ist.
Jakarta - Forever21 adalah brand fashion asal Amerika Serikat yang digemari di banyak negara karena koleksinya yang fashionable dengan harga terjangkau. Namun baru-baru ini, brand yang berpusat di Los Angeles tersebut dituduh melakukan pelanggaran terhadap pekerjanya.

Pelanggaran yang dituduhkan adalah, Forever21 membayar upah pekerja dengan jumlah kecil padahal jam kerjanya seringkali lembur. Penyelidikan akan tuduhan tersebut dilakukan oleh The Labor Department yang telah memiliki bukti signifikan akan pelanggaran hukum federal.

Sebenarnya sudah puluhan outlet Forever21 mulai diselidiki sejak tahun 2008. Namun akhirnya industri retail asal California Selatan tersebut baru mendapatkan panggilan dari pengadilan pada Agustus 2012 karena menolak bekerjasama dengan badan penyelidik. Badan penyelidik ingin membuat dokumentasi jam kerja yang diberlakukan Forever21 kepada pekerja, namun kesepakatan tersebut ditolak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Administrator daerah bagian barat Ruben Rosalez menyatakan bahwa Forever21 mengabaikan hukum karena tindakannya. "Saat perusahaan seperti Forever21 menolak memenuhi panggilan dari pengadilan, maka mereka jelas menunjukkan telah mengabaikan hukum," ujarnya seperti dikutip dari Daily Mail.

The Labor Department mengungkapkan kalau mereka akan mengerahkan segala usaha untuk memulihkan penegakan upah dan pertanggungjawaban perusahaan terhadap pekerjanya. Menanggapi pemberitaan yang ada, pihak Forever21 mengungkapkan bahwa mereka terkejut dan kecewa kepada departemen yang bersangkutan karena menolak bertemu sebelum mengajukan tindakan. Mereka pun berharap dapat bekerjasama untuk mengatasi masalah yang ada.

Forever21 bukan satu-satunya perusahaan yang dikenai tuduhan pelanggaran upah dan jam kerja. Tuduhan serupa telah dijatuhkan pada banyak brand fashion di Los Angeles. The Fair Labor Standards Act telah melakukan lebih dari 1500 penyelidikan serupa selama lima tahun terakhir di Los Angeles, San Diego, dan West Covina. Hasilnya, 93% kasus pelanggaran telah terbongkar.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads