Rejuvenate, Eksistensi Empat Perancang Baru
wolipop
Jumat, 23 Jul 2010 17:59 WIB
Jakarta
-
Empat perancang muda Indonesia kembali menunjukan eksistensinya. Mereka memperkenalkan diri mereka dengan menawarkan busana hasil imajinasi yang luar biasa.
Albert Yanuar, Hian Tjen, Imelda Kartini dan Tex Severio memang merupakan nama-nama baru dalam dunia mode tapi karyanya patut diperhitungkan. Keempat perancang muda secara bersama menggelar sebuah peragaan busana bertajuk Rejuvenate. Visi dan misi yang sama menjadi motivasi mereka membuat peragaan busana, bahkan koleksi mereka memiliki satu benang merah yaitu penuh detail.
Albert Yanuar
Albert Yanuar menciptakan kreasi yang feminin, kuat dan puitis. Ia berkomitmen untuk mengeksplorasi kerajinan tangan Nusantara dan membuatnya terlihat edgy dan modern. Dengan tema rancangan The Age of Reckoning, rancangannya ini merupakan titik balik dari kejenuhannya merancang gaun cantik dengan ornamen payet dan kristal. "Saya ingin membuat gebrakan baru, membuat busana glamour tanpa payet dan kristal". ujarnya saat ditemui di acara pres confrence Rejuvenate, Kamis (22/7/2010).
Untuk koleksinya, Albert banyak menggunakan ornamen lipit unik yang diadaptasi dari penggabungan motif tribal dan Filigri, yaitu seni kerajinan ukur tembaga asal jogja. Sentuhan glamour tersana kental dengan terusan panjang yang penuh detail pada bagian dada, pinggang serta punggung. Desainer muda yang mengidolakan Biyan dan Sebatian ini menghadirkan 19 gaun dalam palet sampanye, jingga, ungu dan biru.
Hian Tjen
Konsep desain yang dihadirkan oleh Hian Tjen bertema Lemurian. Benua Lemuria diperkirakan ada pada 4,5 juta sampai 12 ribu tahun lalu sebelum masehi. Hasil penelitian abad 19 itu diinterpretasikan Hian Tjen ke dalam rancangannya yang didominasi bentuk sirip dan bersudut tajam di atas materi logam dan kulit. Gaya edgy dan androgini yang menjadi ciri khas Hian Tjen diperkuat dengan motif lukis tangan bercorak binatang.
Desainer yang mengidolakan Alexander McQueen ini sepertinya benar-benar terinspirasi dari sang idola. Permainan print dan terusan struktural mengingatkan pada koleksi musim semi dan panas tahun 2010 dari McQueen. Yang menjadi bintang pada koleksi Hian adalah busana dari materi logam warna tembaga yang menyerupai bentuk binatang.
Imelda Kartini
Nuansa warna mimpi yang tampil menakjubkan dalam film Avatar telah memesona daya imajinasi Imelda Kartini saat ia menyiapkan koleksi berjudul 'Fairy warior'. Ia menggunakan warna-warna terang seperti hijau, ungu, biru, fuschia untuk koleksinya. Imelda menempatkan ornamen dekoratif secara meyeluruh diatas gaun-gaunya.
Bentuk dekorasi dan aksesori artifisial berupa bunga, tumbuhan dan akar ia adaptasi dari kekayaan dunia fiksi. Selain itu, Imelda memilih menggunakan batu-batuan dan kristal untuk menegaskan karyanya yang feminin namun berwatak keras dan liar.
Tex Saverio
Bagi Tex, setiap wanita memiliki karakter untuk terlihat cantik, dipuja, kuat dan sensual. Ia menjadikan kaum courtesan sebagai refensi, kaum wanita kalangan istana Eropa pada abad 16 yang bergeser maknanya sebagai selir kerajaan. 'My Courtesan' menjadi judul koleksi dari Tex. Ia melihat gaya korset pada masa itu sebagai keindahan yang ideal dan memancarkan feminitas tinggi.
Sebanyak 18 gaun dengan fokus pada bentuk bustier yang digabungkan dengan ornamen lipit, gelepai, bordir, jumbai benang sampai penggunaan 300 meter pita dan 200 meter organsa sebagai detail dekoratif. Sebagai puncak pada koleksinya, ia mempersembahkan tiga gaun panjang dengan korset yang terbuat dari besi untuk menunjukan ciri khasnya modern dan elegan. (eya/fer)
Albert Yanuar, Hian Tjen, Imelda Kartini dan Tex Severio memang merupakan nama-nama baru dalam dunia mode tapi karyanya patut diperhitungkan. Keempat perancang muda secara bersama menggelar sebuah peragaan busana bertajuk Rejuvenate. Visi dan misi yang sama menjadi motivasi mereka membuat peragaan busana, bahkan koleksi mereka memiliki satu benang merah yaitu penuh detail.
Albert Yanuar
Albert Yanuar menciptakan kreasi yang feminin, kuat dan puitis. Ia berkomitmen untuk mengeksplorasi kerajinan tangan Nusantara dan membuatnya terlihat edgy dan modern. Dengan tema rancangan The Age of Reckoning, rancangannya ini merupakan titik balik dari kejenuhannya merancang gaun cantik dengan ornamen payet dan kristal. "Saya ingin membuat gebrakan baru, membuat busana glamour tanpa payet dan kristal". ujarnya saat ditemui di acara pres confrence Rejuvenate, Kamis (22/7/2010).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hian Tjen
Konsep desain yang dihadirkan oleh Hian Tjen bertema Lemurian. Benua Lemuria diperkirakan ada pada 4,5 juta sampai 12 ribu tahun lalu sebelum masehi. Hasil penelitian abad 19 itu diinterpretasikan Hian Tjen ke dalam rancangannya yang didominasi bentuk sirip dan bersudut tajam di atas materi logam dan kulit. Gaya edgy dan androgini yang menjadi ciri khas Hian Tjen diperkuat dengan motif lukis tangan bercorak binatang.
Desainer yang mengidolakan Alexander McQueen ini sepertinya benar-benar terinspirasi dari sang idola. Permainan print dan terusan struktural mengingatkan pada koleksi musim semi dan panas tahun 2010 dari McQueen. Yang menjadi bintang pada koleksi Hian adalah busana dari materi logam warna tembaga yang menyerupai bentuk binatang.
Imelda Kartini
Nuansa warna mimpi yang tampil menakjubkan dalam film Avatar telah memesona daya imajinasi Imelda Kartini saat ia menyiapkan koleksi berjudul 'Fairy warior'. Ia menggunakan warna-warna terang seperti hijau, ungu, biru, fuschia untuk koleksinya. Imelda menempatkan ornamen dekoratif secara meyeluruh diatas gaun-gaunya.
Bentuk dekorasi dan aksesori artifisial berupa bunga, tumbuhan dan akar ia adaptasi dari kekayaan dunia fiksi. Selain itu, Imelda memilih menggunakan batu-batuan dan kristal untuk menegaskan karyanya yang feminin namun berwatak keras dan liar.
Tex Saverio
Bagi Tex, setiap wanita memiliki karakter untuk terlihat cantik, dipuja, kuat dan sensual. Ia menjadikan kaum courtesan sebagai refensi, kaum wanita kalangan istana Eropa pada abad 16 yang bergeser maknanya sebagai selir kerajaan. 'My Courtesan' menjadi judul koleksi dari Tex. Ia melihat gaya korset pada masa itu sebagai keindahan yang ideal dan memancarkan feminitas tinggi.
Sebanyak 18 gaun dengan fokus pada bentuk bustier yang digabungkan dengan ornamen lipit, gelepai, bordir, jumbai benang sampai penggunaan 300 meter pita dan 200 meter organsa sebagai detail dekoratif. Sebagai puncak pada koleksinya, ia mempersembahkan tiga gaun panjang dengan korset yang terbuat dari besi untuk menunjukan ciri khasnya modern dan elegan. (eya/fer)











































