Sapto Djojokartiko Bahas Detail Gaun Raline Shah di Cannes Film Festival 2026
Ketika Raline Shah melangkahkan kaki di karpet merah Cannes Film Festival 2026, Cannes, Prancis, mudah untuk mengenali bahwa gaun yang dipakainya adalah rancangan khusus Sapto Djojokartiko.
Untuk kesekian kalinya, bintang film Indonesia yang tergabung dalam manajemen Artist International Group itu memakai gaun Sapto di salah satu festival film internasional terbesar di dunia itu. Terakhir kali di karpet merah utama Cannes 2024, terusan bersiluet kebaya karya perancang asal Solo, Jawa Tengah, itu membungkus tubuh Raline.
Raline Shah dalam balutan gaun karya Sapto Djojokartiko di Cannes Film Festival 2026. (Foto: Daniele Venturelli/WireImage) |
Kali ini, untuk momen karpet merah premier film 'El Ser Querido (The Beloved)', Sabtu (16/5/2026), look yang ditawarkan berbeda. Lebih modern dalam balutan gaun bersiluet mermaid, tapi tetap dengan detail yang merayakan warisan budaya Indonesia (Raline juga memakai kebaya Sapto di kesempatan lain).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada Wolipop, Sapto berbagi cerita tentang masterpiece tersebut, mulai dari inspirasi, tantangan, hingga alasannya untuk tetap konsisten menggunakan palet khas Sapto Djojokartiko untuk setiap momen glamor Raline di Cannes Film Festival. Berikut kutipan wawancaranya:
1. Raline Shah is like a vision of old Hollywood glam star with this dress. Namun, apa yang sebenarnya menjadi inspirasi utama?
Inspirasi utamanya sebenarnya datang dari keinginan untuk menghadirkan siluet yang klasik, tetapi tetap terasa modern dan relevan dengan masa kini. Untuk penampilan Raline di premiere 'The Beloved', saya ingin membawa nuansa glamor yang timeless, namun tetap memiliki sentuhan personal lewat detail heritage Indonesia yang subtle. Karena itu, kami menghadirkan bordir motif #SAPTOJOPattern Yayi Ukir di seluruh permukaan ballgown, sehingga gaun ini bukan hanya tentang kemewahan secara visual, tetapi juga tentang craftsmanship dan identitas yang selalu menjadi bagian dari DNA SAPTO DJOJOKARTIKO.
2. Jika diamati lebih dekat, motif Yayi Ukir seakan sangat serasi dengan perhiasan Chopard yang dipakai Raline. Bagaimana pemilihannya?
Motif Yayi Ukir sendiri terinspirasi dari perpaduan elemen ukiran dan tekstur tenun tradisional yang kemudian kami reinterpretasikan bersama motif signature kami, yaitu Penara. Jadi di dalam struktur motif tenun tersebut, kami memasukkan elemen Penara dan mengolahnya kembali hingga menghasilkan motif baru yang terasa lebih kaya detail namun tetap halus dan elegan. Saya pribadi senang melihat bagaimana motif ini akhirnya bisa berpadu harmonis dengan perhiasan Chopard yang dikenakan Raline, terutama karena ada nuansa art-deco yang membuat keseluruhan look terasa semakin elegan dan dimensional.
3. Di Cannes Film Festival 2024, Raline memakai kebaya Sapto Djojokartiko yang dibuat selama 1.200 jam. Is this time no difference?
Untuk gaun kali ini, proses pengerjaannya memakan waktu kurang lebih 800 jam. Walaupun berbeda dari look sebelumnya, setiap detail tetap dikerjakan dengan perhatian yang sangat besar, mulai dari konstruksi, pengerjaan bordir, hingga finishing. Bagi saya, proses seperti ini penting supaya siluet gaun bisa terlihat effortless dan menyatu dengan baik saat dikenakan.
4. Adakah tantangan yang dihadapi dalam proses kreatif kali ini?
Tantangan terbesarnya justru ada pada konstruksi ballgown tersebut, terutama di bagian bow. Kami harus memastikan bentuknya tetap steady dan sculptural, tetapi di saat yang sama tetap terasa ringan dan lembut ketika dipakai bergerak. Jadi selama proses pengerjaan, kami banyak fokus pada balancing antara struktur dan kelembutan gerak agar hasil akhirnya tetap terlihat natural di tubuh.
5. One thing that is impossible not to notice is the consistency of choosing the same color year after year. Apa strategi di balik pemilihan warna ini?
Warna Oyster memang sudah lama menjadi salah satu signature palette dari SAPTO DJOJOKARTIKO karena menurut saya warna ini memiliki karakter yang timeless, understated, dan elegan. Untuk penampilan di Cannes kali ini, Raline juga secara personal memang menginginkan warna Oyster karena merasa palet tersebut merepresentasikan sisi klasik dan anggun dari dirinya sendiri. Saya merasa warna ini memiliki kekuatan untuk tampil standout tanpa harus terasa berlebihan, sekaligus memberi ruang bagi detail craftsmanship, tekstur bordir, dan siluet gaun untuk terlihat lebih hidup di bawah pencahayaan red carpet.
(dtg/dtg)













































