Laporan dari Washington DC
Menjajaki Celah Bisnis Tekstil di Amerika
wolipop
Selasa, 13 Jul 2010 11:20 WIB
Jakarta
-
Di tengah industri pakaian jadi yang selalu jadi incaran pengusaha impor-ekspor, ternyata ada beberapa pelaku dan pengamat mode yang memiliki pandangan berbeda. Menurut mereka, kuantitas alias jumlah pemesanan bukanlah menjadi yang utama.
Oscar Lawalata, salah seorang desainer muda Indonesia yang dipercaya oleh CTI (Citra Tenun Indonesia) untuk menggelar rancangannya di acara puncak Temu Pengusaha AS di Washington DC.
Ditemui dalam konferensi pers yang diadakan di Lincoln Room Hotel Ritz Carlton, Washington DC, sejam sebelum pelaksanaan gala dinner tersebut, Oscar terlihat optimis dalam menghadapi persaingan bisnis di pasar Amerika yang terkenalpemilih dalam desain dan corak pakaian.
“Saya rasa, bisnis ini akan baik dan patut dicoba. Peluangnya ada, karena produk-produk yang ada di pasaran adalah produk pakaian jadi dan masal. Sementara yang kami tawarkan adalah pakaian dan kain yang diolah dengan bahan-bahan ramah lingkungan dan dikerjakan dengan 'special treatment' serta buatan tangan (handmade) sehingga memerlukan jangka waktu tertentu untuk dapat siap digunakan,” tutur Oscar.
Bersama Oscar Lawalatta, perancang busana Denny Wirawan juga ikut mendapat kepercayaan CTI untuk menggelar rancangannya.
Denny Wirawan, peraih gelar salah satu dari “Lima Perancang Busana Terbaik” versi Jakarta Post, dipercaya CTI untuk mensupervisi produksi tenun dari Sulawesi Tenggara, yang hasilnya akan digunakan untuk meningkatkan taraf hidup pengrajin daerah tersebut.
Di Washington DC, Denny menggusung “A Fascinating Journey of Sumatera”, yang menggunakan corak khas daerah Palembang “Blongsong”. Warna-warni pastel hingga warna cerah dalam rancangan Denny, membuat Blongsong yang sangat mirip dengan Songket ini, menjadi kekuatan tersendiri dalam presentasi Denny Wirawan di Panggung Remarkable Indonesia.
Citra Tenun Indonesia (CTI), yang diwakili oleh Yasmin Wirjawan (istri Ketua BKPM, Gita Wirjawan) dan Sjamsidar Isa (Tjammy) mengatakan bahwa misi pelestarian corak kain asli Indonesia merupakan tugas kita semua. “Kalau kita amati, di kalangan Fashion Internasional, beberapa perancang terkenal ternyata sudah menggemari motif kain ikat. Tentunya kita tidak bisa melarang mereka, namun yang paling bisa kita lakukan adalah meningkatkan awareness, dengan memperkenalkan kepada dunia, bahwa kita memiliki corak tersebut”, demikian ungkap Yasmin pada wolipop.
(eis/fer)
Oscar Lawalata, salah seorang desainer muda Indonesia yang dipercaya oleh CTI (Citra Tenun Indonesia) untuk menggelar rancangannya di acara puncak Temu Pengusaha AS di Washington DC.
Ditemui dalam konferensi pers yang diadakan di Lincoln Room Hotel Ritz Carlton, Washington DC, sejam sebelum pelaksanaan gala dinner tersebut, Oscar terlihat optimis dalam menghadapi persaingan bisnis di pasar Amerika yang terkenalpemilih dalam desain dan corak pakaian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bersama Oscar Lawalatta, perancang busana Denny Wirawan juga ikut mendapat kepercayaan CTI untuk menggelar rancangannya.
Denny Wirawan, peraih gelar salah satu dari “Lima Perancang Busana Terbaik” versi Jakarta Post, dipercaya CTI untuk mensupervisi produksi tenun dari Sulawesi Tenggara, yang hasilnya akan digunakan untuk meningkatkan taraf hidup pengrajin daerah tersebut.
Di Washington DC, Denny menggusung “A Fascinating Journey of Sumatera”, yang menggunakan corak khas daerah Palembang “Blongsong”. Warna-warni pastel hingga warna cerah dalam rancangan Denny, membuat Blongsong yang sangat mirip dengan Songket ini, menjadi kekuatan tersendiri dalam presentasi Denny Wirawan di Panggung Remarkable Indonesia.
Citra Tenun Indonesia (CTI), yang diwakili oleh Yasmin Wirjawan (istri Ketua BKPM, Gita Wirjawan) dan Sjamsidar Isa (Tjammy) mengatakan bahwa misi pelestarian corak kain asli Indonesia merupakan tugas kita semua. “Kalau kita amati, di kalangan Fashion Internasional, beberapa perancang terkenal ternyata sudah menggemari motif kain ikat. Tentunya kita tidak bisa melarang mereka, namun yang paling bisa kita lakukan adalah meningkatkan awareness, dengan memperkenalkan kepada dunia, bahwa kita memiliki corak tersebut”, demikian ungkap Yasmin pada wolipop.
(eis/fer)











































