ADVERTISEMENT

Kisah Wanita Menyesal Bertransformasi Jadi Pria, Berakhir Tuntut Psikiaternya

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 26 Agu 2022 16:00 WIB
Selective focus loneliness young asian woman sitting on bedroom floor near the balcony. Depression sadness breaking up asian teenage girl sitting alone hugging knees closing eyes and thinking. Foto: Getty Images/iStockphoto/CandyRetriever
Jakarta -

Seorang wanita bernama Jay pernah merasa bingung dengan gendernya. Ia pun memutuskan untuk berkonsultasi pada seorang psikiater dan disetujui untuk mengubah jenis kelamin. Jay lalu melakukan serangkaian prosedur demi menjadi pria, termasuk dengan mengangkat payudara dan rahim. Tapi kini Jay malah berakhir menuntut psikiaternya.

Jay Langadinos mengungkap kisah transformasinya. Wanita tersebut memutuskan untuk mengubah gender ketika bertemu Dr. Patrick Toohey, seorang psikiater veteran pada 2010 di usia 19 tahun. Saat itu, Jay mengaku selalu merasa seperti pria daripada wanita. Dokter tersebut kemudian memutuskan Jay bisa melakukan terapi hormon dan pergantian kelamin hanya dengan satu kali sesi setelah didiagnosa mengalami disforia gender.

Setelah menjalani semua prosedur, Jay malah merasa tidak nyaman dan berakhir menyesal. Ketika berkonsultasi ke dokter lain, ia pun menyadari seharusnya tidak melakukan operasi. Pada 2020, akhirnya Jay yang kembali jadi wanita berkonsultasi untuk menghentikan terapi.

Dilansir Daily Mail, dalam dokumen persidangan, Jay mengatakan psikiater memberi rekomendasi tersebut meski mengetahui ia memiliki fobia sosial dan tidak tahu adanya faktor-faktor psikologi yang nantinya bisa mempengaruhi transisi gender. Dokter itu dianggap tidak tepat dalam menyetujui pengangkatan payudara dan rahim.

[Gambas:Instagram]



Jay yang kini berusia 31 tahun menuntut Dr Toohey karena dianggap lalai sebagai profesional dan gagal mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan selama masa transisi. Wanita tersebut mengklaim dokter seharusnya menyadari dia bisa saja mengidap autisme dan merekomendasikan perawatan lain untuk mengobati fobia sosialnya.

Kini sejumlah operasi dan terapi hormon yang telah dijalani Jay mengakibatkan cidera dan kecacatan. Jay juga tidak menginginkan maskulinisasi dan hilangnya payudara juga rahim yang diakibatkan keputusan dokter itu. Karena terapi hormon, kini Jay mengalami menopause dini, kecemasan, dan depresi.

Diakui Jay jika awalnya ia membaca artikel mengenai disforia gender di internet yang membawanya pada psikiater. "Aku pikir aku pasti menderita itu. Aku memutuskan aku harus jadi transgender karena merasa tidak nyaman dengan tubuhku sendiri," kata Jay. "Ketika itu aku terus saja merasa tidak bahagia, aku merasa penyebab ketidakbahagiaan itu adalah karena aku bukan pria, jadi jawabannya adalah dengan mengubah tubuhku lebih banyak," tambahnya.

Sayangnya hal itu malah membuatnya mengalami depresi di masa depan "Aku depresi, tidak bisa melakukan apa-apa selama setahun. Aku tidak bisa keluar kamar. Aku berharap saat itu aku tahu betapa sakitnya aku dan alasannya," tutur Jay.

Selain rasa sakit secara fisik dan mental, Jay mengaku menyesal karena kini ia tidak bisa punya anak. "Tahu bahwa aku tidak bisa punya anak benar-benar menyakitkan," tambahnya.

(ami/ami)