Liputan khusus Cute Typing

Cuping 'Cute Typing' Viral Dipakai Gen Z, Ini Efek Menulis Pakai Gaya Imut

Gresnia Arela Febriani - wolipop Selasa, 06 Apr 2021 10:45 WIB
Ilustrasi seseorang yang sedang mengirimkan pesan singkat. Ilustrasi wanita yang sedag mengirimkan pesan singkat. Foto: Getty Images/iStockphoto/oatawa.
Jakarta -

Tren cuping 'Cute Typing' sedang ramai dikritik di media sosial karena dianggap menyalahgunakan penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Istilah cuping atau 'Cute Typing' viral setelah diunggah oleh akun Twitter humor @txtdarigajelas. Bahasa dengan gaya imut tersebut sedang tren di kalangan anak zaman now atau generasi Z.

Apa itu cuping? Akun humor di Twitter @txtdarigajelas membagikan tangkapan layar chanel dengan nama Mari Belajar Cuping. Chanel tersebut mempunyai 50.924 subscribers.

"50rb orang aneh," tulis singkat akun Twitter @txtdarigajelas baru-baru ini.

Berdasarkan penjelasan dari grup Mari Belajar Cuping itu, cuping atau cute typing adalah gaya penulisan dengan kata-kata yang beberapa hurufnya diubah sehingga terdengar imut. Oleh karena itulah gaya penulisan itu dinamai cute typing atau cuping. Penerapan gaya penulisan tersebut hanya di kalangan atau komunitas tertentu.

Contoh penulisan cuping di antaranya: Aku ditulis menjadi athu, kamu - thamu/thawmu, juga - jjuwga/juwga dan masih banyak lainnya. Rumus menulis ala cuping bisa dibaca di sini.

Akun Twitter humor yang mengunggah tentang grup belajar cuping 'Cute Typing' viral.Akun Twitter humor yang mengunggah tentang grup belajar cuping 'Cute Typing' viral. Foto: Dok. Twitter @txtdarigajelas.

Efek Cuping Bagi Generasi Z

Menurut pakar bahasa Indonesia lulusan S-1 Sastra Indonesia di Universitas Sebelas Maret, Surakarta Habib Rifai, generasi Z yang mengikuti atau ikut-ikutan fenomena cuping 'Cute Typing' itu sebenarnya sudah tahu mana penulisan bahasa Indonesia yang benar. Tapi para generasi Z sengaja melakukan itu karena mengikuti pola yang terbentuk di cuping. Ketika nanti kelompok milenial ini jenuh, dengan sendirinya mereka akan kembali ke aturan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

"Yang jadi masalah sebenarnya adalah ketika mereka tidak tahu bagaimana aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang benar. Masih ada yang bingung mana yang benar penulisannya, *terlanjur atau telanjur*, *perduli atau peduli*, *telentang atau terlentang*. Nggak paham bahasa Indonesia, tapi malah ikut-ikut fenomena cuping seperti itu, tentu jadi hal yang tidak baik bagi milenial," terangnya.

Lalu bagaimana seharusnya dalam menyikapi fenomena cuping ini? Habib menyebutkan jika cara terbaik menyikapi hal yang tidak benar adalah tidak mengikutinya.

"Bila kamu tidak mengikuti fenomena cuping 'Cute Typing', dengan sendirinya cuping tidak akan bisa berkembang dan bisa jadi akan mati dengan sendirinya. Kalaupun generasi Z mengikuti fenomena cuping, bisa jadi mereka sekadar ikut-ikutan dan biar tidak dikatakan ketinggalan zaman," pungkas Habib.

Jadi, jangan lupa selalu menerapkan penulisan bahasa Indonesia dengan baik dan benar ya!

(gaf/eny)