Liputan khusus Cute Typing

Kata Pakar Bahasa soal Tren Cuping 'Cute Typing', Menulis dengan Gaya Imut

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 04 Apr 2021 18:00 WIB
Ilustrasi seseorang yang sedang tertawa saat membaca pesan singkat. Ilustrasi wanita yang tertawa ketika membaca pesan singkat. Foto: Getty Images/Laurence Dutton.
Jakarta -

Istilah cuping atau 'cute typing' belakangan viral di media sosial setelah pembahasan mengenai bahasa tersebut diunggah oleh akun Twitter humor @txtdarigajelas. Bahasa dengan gaya imut tersebut sedang jadi tren di kalangan anak zaman now.

Apa itu cuping? Akun humor di Twitter @txtdarigajelas membagikan tangkapan layar channel Telegram dengan nama Mari Belajar Cuping. Channel tersebut mempunyai 50.924 subscriber.

"50rb orang aneh," tulis akun Twitter @txtdarigajelas baru-baru ini.

Lebih lanjut dalam tangkapan layar yang dibagikan @txtdarigajelas itu terlihat penjelasan tentang cara menulis dengan cuping atau cute typing. Channel tersebut menyampaikan tidak semua kata bisa diubah menjadi cuping.

Berdasarkan penjelasan dari grup Mari Belajar Cuping itu, cuping atau 'cute typing' adalah gaya penulisan dengan kata-kata yang beberapa hurufnya diubah sehingga terdengar imut. Oleh karena itulah gaya penulisan itu dinamai cute typing atau cuping. Penerapan gaya penulisan tersebut hanya dilakukan kalangan atau komunitas tertentu.

Contoh penulisan cuping seperti yang disampaikan channel Mari Belajar Cuping di antaranya: Kkamu janan bwegitu! Aku ndaa sukka!, bwuna, kiwi mawu huggie, sleepy fase, ngucek mata. Dan ciri khas penulisan cuping lainnya adalah kata "sayang" menjadi "swayang" dan "manja" diganti menjadi "mwanja".

Cute Typing Menurut Pakar Bahasa

Lalu apa kata pakar bahasa soal tren menulis 'cute typing' atau cuping ini? Pakar bahasa Indonesia Habib Rifai menjelaskan cuping atau cute typing bisa jadi bentuk 'kreativitas' dari anak-anak remaja zaman sekarang. Namun sayangnya kreativitas tersebut bukan kreativitas yang bagus.

"Cuping ini kan hanya muncul di medsos. Bentuknya pun dalam penulisan. Bagi pembuatnya, bisa jadi hal tersebut hal yang keren, cool, karena berbeda dengan orang lain. Begitu juga dengan pengikut fenomena cuping ini. Cuping ini menurut saya hanyalah ragam bahasa. Ragam bahasa nonformal dengan medium bahasa tulis. Istilah-istilah yang diciptakan dari bahasa Indonesia yang kemudian dimodifikasi sedemikian rupa dengan pola tertentu," kata Habib Rifai, yang merupakan lulusan S-1 Sastra di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, kepada Wolipop, Sabtu (3/4/2021).

Pria yang dalam kesehariannya bekerja sebagai editor bahasa itu mengatakan, sebelum tren cuping atau cute typing ini, sudah ada 'kreativitas' serupa, baik yang hanya tersebar di satu komunitas maupun tersebar luas di masyarakat. Habib mencontohkan di Malang, Jawa Timur, ada bahasa walikan. Dan di Yogyakarta juga ada bahasa walikan meski dengan rumus pembentukan tertentu. Konon, bahasa walikan di Yogyakarta sudah ada sejak zaman penjajahan. Tujuannya agar mata-mata penjajah tidak paham apa yang dibahas oleh para pejuang. Di Jakarta juga ada bahasa prokem pada 1970-an atau 1980-an.

"Jadi menurut saya, cuping merupakan fenomena yang biasa saja. Pada saatnya nanti, ketika penggunanya merasa bosan, cuping akan ditinggalkan," tuturnya.

(gaf/eny)