Mengenal Profesi Influencer, Pekerjaan Iseng-iseng yang Kini Menjanjikan

Rahmi Anjani - wolipop Sabtu, 22 Agu 2020 13:00 WIB
Happy asian woman vlogging with gimbal tripod and smartphone - Influencer chinese girl having fun with new trend technology - Millennial generation activity job, youth and tech concept - Focus on face Foto: Getty Images/iStockphoto/DisobeyArt
Jakarta -

Influencer sedang hangat diperbincangkan setelah ICW melaporkan adanya temuan anggaran untuk pemakai jasa mereka. ICW menduga pemerintah telah mengeluarkan uang hingga Rp 90,45 miliar untuk bekerjasama dengan para buzzer. Mengetahui potensi penghasilannya yang menjanjikan, belakangan memang banyak orang mencari cara menjadi influencer. Pekerjaan ini pun menjadi 'lahan basah' bagi mereka yang punya kemampuan mengumpulkan follower.

Influencer Indonesia tampaknya memang bisa punya sumber penghasilan yang beragam. Tak hanya dari endorsement brand, partai politik atau pemerintah juga bisa memakai jasa mereka seperti yang diberitakan di media. Punya banyak pengikut di media sosial umumnya memang jadi patokan seberapa berpengaruhnya seseorang. Apalagi beberapa sosok terkenal punya berbagai meida, seperti Instagram, Twitter, YouTube, bahkan TikTok untuk meraih masa.

Berbicara mengenai follower, influencer bisa dikategorikan menjadi tiga jenis berdasarkan jumlah pengikutnya yakni nano, micro, dan macro. Menurut Oddie Randa sebagai Chief Operations Officer Gushcloud Marketing Group, pengertian nano influencer adalah yang pengikutnya di bawah 20 ribu, micro influencer pengikutnya 20 ribu sampai 100 ribu, sementara macro influencer punya follower lebih dari 100 ribu.

"Kalau sudah di atas satu atau dua juta follower itu hitungannya selebriti atau kita sebut premium influencer. Sebutan selebriti di sini tidak mesti mereka yang sudah masuk TV, tapi terkenal," jelas Oddie.

Kepada Wolipop, Oddie pun menjelaskan bahwa setiap brand bisa memilih influencer yang berbeda tergantung strategi pemasarannya. Strategi yang paling efektif dan efisien mungkin adalah dengan memakai influencer macro atau premium, tapi beda ceritanya jika brand tertentu ingin memberikan 'cloud effect'.

"Jadi kesannya semua orang pakai. Menimbulkan kesan bahwa semua influencer menggunakan satu produk. This is the newest strategy. Itu strategi yang bagus banget. Biasanya pakai micro influencer dalam jumlah banyak," kata Oddie.

Sedangkan untuk mengambil engagement atau ketertarikan audiens, brand biasanya memakai ahli seperti beauty influencer, food influencer, atau travel influencer yang memang punya pengetahuan lebih. "Nggak perlu banyak orang yang ngomongin yang penting ada interaksi antara pengguna dan brand. Biasanya untuk strategi ini yang dipilih subject matters-nya. Jadi nggak sembarangan influencer tapi yang punya skill," tutur Oddie.

Selain influencer Instagram, Twitter, atau TikTok itu sendiri, influencer marketing menjadi bidang yang cukup potensial. Edo Oktorano Erhan selaku Director of Marketing Gushcloud Indonesia mengatakan jika market bisnis itu nilainya bisa mencapai miliaran rupiah dalam setahun.

"Saya baru hitung hanya dari tiga pemain influencer marketing besar, sudah bisa mendapatkan market lebih dari Rp 300 miliar. Belum dihitung dari agensi dan pemain influencer marketing lainnya (yang lebih kecil) yang hanya mendapatkan market Rp 1-2 miliar dalam setahun," terangnya.

Ia pun memprediksi jika influencer marketing hub akan tetap eksis paling tidak sampai tiga tahun mendatang. "Sampai saat ini dari 100 persen marketing spending oleh brand, mereka sudah banyak spending sekitar 60 persen di digital. Bisa saya bilang dari 60 persen itu 20-30 persennya mereka sudah spending ke influencer marketing," kata Edo.

(ami/ami)