Kisah Haru Perjuangan Ibu Bikin 20 Ribu Sapu Demi Sekolahkan Anak

Anggi Mayasari - wolipop Selasa, 04 Jun 2019 15:10 WIB
Foto: Dok. Xinhua Video Foto: Dok. Xinhua Video

Wuzhong - Seorang wanita berusia 55 tahun di barat laut Tiongkok telah menyentuh hati banyak netizen di internet. Pengabdiannya kokoh dan tulus demi pendidikan anaknya.

Ibu tunggal, yang memiliki nama Li Yaomei, telah membuat lebih dari 20.000 sapu hanya dalam tiga tahun. Tidak hanya untuk mengirim putrinya ke universitas, tetapi juga untuk menghapus biaya medisnya sendiri.

Kisah Haru Perjuangan Ibu Bikin 20 Ribu Sapu Demi Sekolahkan AnakLi Yaomei, sosok ibu yang membuat 20 ribu sapu lidi demi membiayai pendidikan anaknya. (Foto: Dok. Xinhua Video)
Pada 2013, Li, yang tinggal di Wuzhong, wilayah Ningxia didiagnosis menderita tumor perut. Kemudian, dua tahun kemudian, dia mengalami kecelakaan lalu lintas. Kondisi dan cedera Li membuatnya tidak punya pilihan selain meminjam sekitar $ 30.000 atau Rp 426 juta. Maka, dalam tiga tahun ke depan, dia menghasilkan lebih dari 20.000 sapu untuk melunasi utangnya.

Karier pembuatan sapu Li dimulai pada 2008 setelah bercerai dari suaminya. Dia telah menggunakan uang hasil penjualan sapu tersebut untuk mendukung kebutuhan putrinya.

"Pada waktu itu, saya selalu memegang sapu di tangan saya dan menjajakannya di jalan," kata Li, menurut New China TV.

"Aku biasa pergi dari pintu ke pintu, bertanya kepada penjaga toko apakah mereka menginginkan sapu," imbuhnya.


Kisah Haru Perjuangan Ibu Bikin 20 Ribu Sapu Demi Sekolahkan AnakFoto: Dok. Xinhua Video
Tetangganya bahkan menggambarkan Li bekerja seperti laki-laki. Li bangun pukul lima pagi, tidur di tengah malam dan membuat sapu sepanjang hari, selain itu ia juga merawat domba dan ayamnya.

Dengan kerja keras, Li tidak hanya berhasil membiayai universitas putrinya dan biaya medis, tetapi juga memperluas bisnisnya dengan membuka lokakarya.

"Hidupku terus menjadi lebih baik dan lebih baik," katanya sambil tersenyum.



Meski kini ia dapat mengambil cuti dari bisnisnya itu, Li memilih untuk terus bergerak.

"Saya bisa merasa sakit dan tetap di tempat tidur sepanjang hari, tetapi saya lebih suka bekerja karena itu membuat saya merasa lebih energik dan lebih sehat," imbuh Li (dtg/dtg)