Kisah Inspiratif Founder WhatsApp, Dulu Pernah Jadi Tukang Bersih-bersih

Rahmi Anjani - wolipop Jumat, 11 Feb 2022 06:45 WIB
BARCELONA, SPAIN - FEBRUARY 24:  Whatsapp CEO Jan Koum arrives for a Keynote conference as part of the first day of the Mobile World Congress 2014 at the Fira Gran Via complex on February 24, 2014 in Barcelona, Spain. The annual Mobile World Congress hosts some of the worlds largest communication companies, with many unveiling their latest phones and gadgets. The show runs from February 24 - February 27.  (Photo by David Ramos/Getty Images) Foto: Getty Images
Jakarta -

Ada kisah sedih di balik aplikasi pesan WhatsApp yang sering kita gunakan sehari-hari. Founder-nya, Jan Koum, diketahui punya kisah sukses yang inspiratif. Pria asal Ukraina tersebut tidak terlahir dari keluarga yang kaya. Datang dari sebuah desa kecil tak menghalangi tekadnya untuk mengejar pendidikan dan kesuksesan. Jan Koum bahkan pernah bekerja sebagai tukang bersih-bersih ketika kecil.

Banyak pengusaha dalam industri teknologi yang datang dari keluarga kaya. Namun Jan Koum tumbuh dengan keluarga sederhana yang bahkan mengalami krisis finansial. Jan dibesarkan oleh ibu rumah tangga dan ayah yang seorang manajer konstruksi di sebuah desa di Kiev.

Dikatakan jika di rumahnya dulu bahkan tidak ada air yang mengalir. Di sekolahnya pun tidak memiliki toilet di dalam gedung. Ketika kecil, ia pernah bekerja sebagai tukang bersih-bersih di toko untuk membantu ibunya. Saat sang ibu bermigrasi ke Amerika Serikat, ia terpaksa bertahan dengan kupon makanan dan bantuan dari pemerintah. Beranjak remaja, Jan pun mulai menemukan minatnya pada teknologi dan belajar sendiri tentang jaringan komputer lewat buku yang dibeli dari toko buku tua.

Kondisi yang kekurangan tidak menghalangi Jan untuk menyelesaikan sekolah dan menekuni programming. Lulus SMA, Jan Koum mulai menguasai jaringan komputer bahkan bisa menjadi seorang insinyur tanpa pendidikan resmi. Setelahnya Jan Koum masuk ke Universitas San Jose State selagi bekerja di toko Ernst & Young untuk membayar biaya kuliahnya.

Pada 1996, pria 46 tahun tersebut pernah tergabung dengan sebuah grup hacker bernama w00w00. Di situ lah, Jan Koum semakin mengasah kemampuannya dan bertemu dengan Sean Fanning, penemu Napster.

Jan Koum berhenti kuliah pada 1997 untuk bekerja di Yahoo sebagai Infrastructure Engineer. Di 2000, ibunya meninggal karena kanker yang membuatnya berpikir mengenai hidup di masa depan. Setelah sembilan tahun bekerja di Yahoo, pria tersebut menyadari ia merasa lelah dan mencoba melamar ke Twitter dan Facebook tapi ditolak meski akhirnya menjadi salah satu dewan di Facebook empat tahun kemudian.

Setelah lelah dengan Yahoo dan mengalami penolakan, Jan Koum memutuskan untuk keliling dunia. Ketika itu, ia bertemu dengan seorang teman dari Rusia bernama Alex Fishman yang mengundang sejumlah orang lain kemudian terciptalah ide WhatsApp.

Jan Koum mendaftarkan aplikasinya di iPhone pada 2009. Setelah melakukan berbagai perbaikan, pada 2014 akhirnya WhatsApp diakuisisi oleh Facebook Inc dengan nilai US$19 miliar atau sekitar Rp 272 triliunan. Jan sendiri disebut sebagai salah satu pengusaha teknologi yang rendah hati dan sering berdonasi.

(ami/ami)