Kisah Para Wanita Afghanistan yang Dipukuli Taliban Saat Demo Menuntut Hak

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 09 Sep 2021 12:45 WIB
Women gather to demand their rights under the Taliban rule during a protest in Kabul, Afghanistan, Friday, Sept. 3, 2021. As the world watches intently for clues on how the Taliban will govern, their treatment of the media will be a key indicator, along with their policies toward women. When they ruled Afghanistan between 1996-2001, they enforced a harsh interpretation of Islam, barring girls and women from schools and public life, and brutally suppressing dissent. (AP Photo/Wali Sabawoon) Foto: AP/Wali Sabawoon
Jakarta -

Sejak Taliban menguasai Afghanistan, nasib wanita menjadi salah satu yang paling dikhawatirkan. Tak sedikit wanita yang mengaku bahwa mereka diperlakukan kasar oleh para tentara. Sejumlah wanita pun dilontari kata-kata kasar ketika berdemo menuntut hak-hak mereka kemarin. Tak hanya itu, mereka juga dipukuli.

Puluhan wanita protes setelah mengetahui tidak ada perwakilan mereka dalam daftar menteri dalam kabinet baru Afghanistan. Mereka lalu menggelar aksi unjuk rasa di jalanan Kabul kemarin. Seorang wanita bernama Sara tidak terima jika hak-hak wanita diambil dan tidak diizinkan ada dalam pemerintah.

"Kami tidak bisa menerima ini, dan karena itu kami turun ke jalan," kata Sara (bukan nama sebenarnya) kepada BBC.

Sayangnya demonstrasi yang sebenarnya berlangsung damai itu langsung diberhentikan oleh Taliban sesaat setelah mereka mengetahuinya. Tak hanya disetop, para wanita yang demo juga dicambuk dan dipukuli dengan tongkat yang mengeluarkan sengatan listrik.

"Kami berunjuk rasa dengan damai. Kemudian saya melihat 4-5 kendaraan masing-masing dengan sekitar 10 militan Taliban di dalamnya, berjalan mengikuti kami," kata pengunjuk rasa lain bernama Jia.

"Mereka memukul bahu saya dua kali. Seluruh badan saya sakit. Sampai sekarang masih sakit, dan saya tidak bisa menggerakkan lengan saya," lanjutnya.

Seseorang bernama Sara mengaku ponselnya juga dipukul sampai lepas dari tangan ketika mencoba merekam militan yang berusaha menghentikan unjuk rasa. "Kami semua dipukuli. Saya juga dipukul. Mereka menyuruh kami pulang ke rumah dan mengatakan di situlah tempat perempuan," kata Sara.

Perempuan di Afghanistan dipukuli Taliban karena berunjuk rasa menuntut hak - 'Saya akan terus bersuara, sampai mereka membunuh kami'Perempuan di Afghanistan dipukuli Taliban karena berunjuk rasa menuntut hak - 'Saya akan terus bersuara, sampai mereka membunuh kami' Foto: BBC World

Meski sudah berjanji akan menghormati hak-hak wanita, Taliban diketahui masih berlaku kasar pada mereka. Hal tersebut menjadi ketakutan Sara terlebih Taliban pada rezim sebelumnya benar-benar melarang wanita bekerja dan sekolah. Sara yang pernah bekerja di pemerintahan ingin menuntut haknya dalam demo meski sempat mendapat larangan dari keluarga.

"Mereka meminta saya tidak ikut unjuk rasa. Mereka [Taliban] akan membunuh kamu. Saya sempat bertengkar dengan kakak saya untuk menghadiri aksi pada hari Rabu. Kami harus bersuara.

Saya tidak takut. Saya akan terus bersuara, sampai mereka membunuh kami. Lebih baik mati sekalian daripada mati perlahan-lahan." tutur Sara.

Berbeda Sara, Jia yang sudah memiliki empat anak bahkan baru melahirkan justru didorong keluarga untuk ikut unjuk rasa. Mereka tampaknya sudah muak dengan perlakuan para militan.

"Taliban tidak di sini hanya untuk beberapa hari. Mereka di sini untuk waktu yang lama. Kami harus menuntut hak kami, bukan hanya untuk kami, tapi bagi generasi selanjutnya, anak-anak kami,"

"Kami tahu Taliban akan menemukan kami dan mungkin menyasar kami. Tapi kami tidak punya pilihan. Kami harus jalan terus." ujarnya

Taliban sendiri telah memberikan respon dan secara tidak langsung memang melarang unjuk rasa. Mereka mengatakan jika warga yang mau melakukan aksi protes harus mendapatkan izin dari Kementerian Kehakiman. Petugas keamanan juga perlu diberi informasi tentang lokasi dan waktu, dan bahkan spanduk dan slogan yang akan digunakan.

(ami/ami)