Viral Curhatan Sedih Wanita Afghanistan: Tak Ada yang Peduli dengan Kami

Rahmi Anjani - wolipop Selasa, 17 Agu 2021 19:30 WIB
KABUL, AFGANISTAN - AUGUST 13 : Displaced Afghan women and children from Kunduz are seen at a mosque that is sheltering them on August 13, 2021 in Kabul, Afghanistan.  Tensions are high as the Taliban advance on the capital city after taking Herat and the countrys second-largest city Kandahar. (Photo by Paula Bronstein /Getty Images) Wanita Afghanistan. Foto: Getty Images/Paula Bronstein
Jakarta -

Situasi di Afghanistan semakin mengkhawatirkan setelah Taliban kembali berkuasa. Banyak orang yang panik dengan keadaan yang bisa mengancam nyawa mereka, terlebih para wanita. Sebelumnya Taliban pernah melarang wanita dan anak-anak perempuan bekerja dan bersekolah juga meminta mereka mengenakan burqa. Karena itu, seorang wanita menangis melihat kondisi negaranya yang curhatannya jadi viral.

Aktivis Masih Alinejad baru-baru ini mengunggah curhatan seorang wanita mengenai kondisi di Afghanistan. Sambil menangis, gadis itu mengaku mengkhawatirkan negaranya yang perlahan seperti mati dalam sejarah. Dalam video yang diunggah di Twitter tersebut, ia merasa tidak ada yang peduli dengan nasib orang-orang Afghanistan.

"Kami tidak dianggap karena kami lahir di Afghanistan. Aku tidak bisa menahan tangisan tapi aku harus menyeka air mataku untuk bisa merekam video ini. Tidak ada yang peduli dengan kami. Kami perlahan mati dalam sejarah. Bukankah itu lucu?" ujarnya.

Dalam postingan yang sudah dibagikan lebih dari 17 ribu kali tersebut, Masih ingin menunjukkan bagaimana warga Afghanistan putus asa dengan masa depan mereka. "Hatiku hancur untuk wanita-wanita di Afghanistan. Dunia telah gagal (melindungi mereka). Sejarah akan menulis ini," kata wanita asal Iran itu.

Apa yang terjadi di Afghanistan tengah menjadi perhatian dunia. Nasib wanita dan anak pun sangat dikhawatirkan karena sering kali jadi korban dalam peperangan. Selain tidak boleh bekerja atau sekolah di luar rumah, wanita Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban juga dilarang diobati oleh dokter pria jika tidak ada pendamping pria yang merupakan saudara atau suami. Belum lagi dengan ketakutan tentara Taliban akan memaksa menikahkan mereka.

Karenanya, banyak orang bersimpati dengan curhatan wanita tersebut di kolom komentar. "Apa yang terjadi di Afghanistan adalah salah satu tragedi terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Mengapa kita semua tidak bersatu mengatasi pelanggaran hak asasi manusia dan kekerasan terhadap para wanita dan anak perempuan?"

Selain keprihatinan, cukup banyak pula komentar yang menyatakan jika Afghanistankah yang membuat masyarakatnya hidup dalam situasi berbahay. "Hatiku hancur untuk wanita Afghanistan juga. Tapi dunia sudah membantu mereka selama 20 tahun, Afganistan yang membuat Afganistan gagal," tulis netizen.

(ami/ami)